Teheran, MINA – Iran kembali diguncang gelombang protes besar setelah tekanan ekonomi yang kian memburuk memicu kemarahan publik di berbagai kota. Aksi unjuk rasa dan mogok massal pedagang meluas dari Teheran ke sejumlah provinsi, melumpuhkan aktivitas ekonomi dan transportasi di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok.
Aksi protes awalnya dipicu oleh mogok para pedagang di pasar-pasar utama Teheran pada Ahad pekan lalu, menyusul tekanan terhadap nilai tukar rial yang terjun bebas dan melonjaknya harga barang kebutuhan pokok.
Demonstrasi kemudian menyebar ke kota-kota besar lainnya, memperlihatkan kemarahan publik terhadap era ketidakpastian ekonomi yang semakin tajam. Farsnews melaporkan, Jumat (2/1).
Dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar aktivitas perdagangan dan transportasi mengalami gangguan signifikan, dengan provinsi-provinsi melaporkan penutupan pasar, sekolah, dan kantor pemerintah.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Para demonstran tidak hanya menyoroti isu ekonomi, tetapi juga mempertanyakan kebijakan pemerintah yang dianggap gagal melindungi daya beli rakyatnya di tengah lonjakan inflasi dan tingginya biaya hidup.
Kekacauan protes juga diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan. Media setempat dan laporan internasional menyebutkan kematian sejumlah orang — termasuk demonstran dan anggota keamanan — dalam peristiwa yang semakin menegangkan, meski angka pastinya beragam menurut sumber yang berbeda.
Ketegangan ini menggambarkan dampak mendalam dari krisis ekonomi yang melanda negeri berpenduduk puluhan juta tersebut.
Pemerintah Iran, di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, mengakui tantangan ekonomi yang dihadapi dan menyatakan siap berdialog dengan perwakilan demonstran untuk meredakan ketegangan.
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
Langkah ini dilakukan setelah kepala bank sentral mengundurkan diri di tengah tekanan untuk melakukan reformasi finansial, sebagai respons terhadap tekanan publik yang semakin gencar.
Iran tengah menghadapi salah satu krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Nilai mata uang rial jatuh ke titik terendah terhadap dolar AS, sementara inflasi mencatat angka sangat tinggi yang membuat harga pangan dan kebutuhan dasar semakin tak terjangkau.
Krisis ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk sanksi internasional atas program nuklir, dampak geopolitik regional, serta kebijakan ekonomi domestik yang dinilai kurang efektif dalam mencegah tekanan inflasi dan keruntuhan mata uang.
Para pakar mengatakan bahwa ketidakpuasan ekonomi yang mendalam telah menjadi katalisator utama protes yang kini mengguncang negara tersebut.
Baca Juga: Pakta Pertahanan Mekah Siap Kerahkan Pasukan Hadapi Houthi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic