MEMBICARAKAN tentang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu seketika akan terbayang seorang tokoh jawara di masa jahiliyah dan masa penuh cahaya keimanan, juga akan terbayang seorang pemimpin yang terkenal keadilan dan ketegasannya.
Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang kisahnya selalu menarik untuk didengar dan diteladani, khususnya dalam hal kepemimpinan.
Profil singkat Umar bin Khattab
Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza adalah nama lengkapnya. Ia diberi gelar Al-Faruq yang berarti “pembeda antara kebenaran dan kebatilan”.
Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud
Umar lahir sekitar tahun 584 M di Makkah dan wafat pada 644 M (23 H) di Madinah. Ia dimakamkan di Masjid Nabawi, Madinah.
Ayahnya bernama Khattab bin Nufail dari Suku Quraisy, Bani Adi.
Umar awalnya dikenal sebagai penentang keras Islam. Namun pada tahun ke-6 kenabian, hatinya luluh setelah mendengar bacaan Surah Thaha di rumah adiknya, Fatimah binti Khattab. Masuk Islamnya Umar menjadi titik balik penting karena Islam mulai didakwahkan secara terbuka di Makkah.
Kedudukan Umar bin Khattab dalam Islam di antaranya sebagai sahabat utama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga dan khalifah kedua setelah Abu Bakar ash-Shiddiq (634–644 M).
Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lisan dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi)
Umar wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah saat memimpin shalat subuh.
Memakan berhala di saat lapar
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terkadang menunjukkan perilaku yang agak aneh, sehingga membuat sahabat yang lain bertanya-tanya, hingga menyangkanya telah gila.
Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam
Salah satu perilakunya yang aneh adalah suka menangis, lalu kemudian tertawa seusai shalat.
Hal itu mendorong sahabat Abdurrahman bertanya mewakili para sahabat yang lain tentang kebiasaan Umar yang menangis lalu tertawa seusai shalat.
Jawaban Umar membuat suasana berubah hening. “Aku menangis karena teringat masa laluku sebelum Islam. Aku pernah mengubur anak perempuanku hidup-hidup. Dosa itu menempel di ingatanku,” katanya lirih. “Aku tertawa karena mengenang kebodohanku. Dahulu aku membuat berhala dari tepung gandum, menyembahnya, lalu memakannya ketika lapar.”
Puasanya Umar bin Khattab
Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram
Puasa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mencerminkan ketaatan, kesungguhan, dan kezuhudan, bukan sekadar banyaknya puasa, tapi kedalaman maknanya.
Umar sangat menjaga puasa Ramadhan dengan sahur dan berbuka tepat waktu, menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan saat berpuasa, serta menganggap puasa sebagai sarana mengendalikan diri, bukan ritual kosong.
Ia pernah berkata, “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dusta, kebatilan, dan perbuatan sia-sia.”
Lebih sedikit puasa sunnah
Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah
Berbeda dengan sebagian sahabat yang banyak puasa sunnah, Umar tidak dikenal sebagai sahabat yang terus-menerus puasa sunnah seperti puasa Dawud.
Alasannya, ia ingin kuat memimpin umat. Ia khawatir ibadah sunnah mengganggu kewajiban sosialnya dan dalam memerintah sebagai seorang khalifah.
Namun, beliau tetap berpuasa sunnah pada waktu-waktu yang dianjurkan.
Menolak berbuka makanan enak
Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia
Puasa menjadi ibadah latihan yang membentuk keadilan Umar sebagai seorang pemimpin.
Saat menjadi khalifah, Umar menolak berbuka dengan makanan enak jika rakyatnya masih kelaparan. Ia pernah menunda makan daging berbulan-bulan karena harga mahal dan rakyat susah.
“Bagaimana aku bisa kenyang sementara rakyatku lapar?” katanya.
Ini menunjukkan puasanya melahirkan empati dan keadilan.
Baca Juga: Abdullah bin Umar: Pribadi Tangguh Banyak Meriwayatkan Hadits
Menu berbuka puasanya sangat sederhana, yakni roti kasar, minyak atau garam dan air. Ia tidak ingin puasanya dirusak oleh kemewahan.
Pada suatu Ramadhan, Madinah mengalami masa sulit. Harga makanan mahal dan sebagian rakyat kekurangan. Saat berbuka puasa, Umar bin Khattab yang saat itu menjabat khalifah hanya berbuka dengan roti kering dan minyak.
Perutnya sampai berbunyi karena lapar. Umar lalu menepuk perutnya sambil berkata, “Berbunyi sesukamu, wahai perut. Demi Allah, engkau tidak akan merasakan lemak dan daging sampai kaum muslimin kenyang.”
Padahal, Baitul Mal penuh dan Umar bisa saja makan enak. Namun, ia memilih merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.
Baca Juga: Bilal bin Rabah: Kisah Teguh Sahabat Nabi yang Tetap Mengucapkan “Ahad…Ahad” Saat Disiksa
Kisah Umar bin Khattab berpatroli malam pada bulan Ramadhan
Pada suatu malam di bulan Ramadhan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu keluar berpatroli sendirian menyusuri lorong-lorong Madinah. Ia ingin memastikan rakyatnya aman dan tidak ada yang kelaparan.
Di tengah keheningan malam, Umar mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah sederhana. Ia mendekat dan melihat seorang ibu sedang merebus air di atas api, sementara anak-anaknya menangis karena lapar.
Umar bertanya, “Mengapa anak-anakmu menangis?”
Baca Juga: Abu Dzar al-Ghifari Sahabat Nabi yang Memilih Hidup Sederhana
Perempuan itu menjawab tanpa tahu bahwa yang berbicara adalah khalifah.
“Mereka lapar. Aku hanya merebus air agar mereka mengira ada makanan, supaya mereka tertidur.”
Lalu sang ibu mengeluh, “Semoga Allah mengadili Umar bin Khattab, karena ia tidak memperhatikan keadaan kami.”
Mendengar itu, Umar menangis. Ia tidak marah, justru berkata pelan, “Semoga Allah merahmati Umar.”
Baca Juga: Salman al-Farisi: Sang Pencari Kebenaran dari Persia
Umar segera pergi ke Baitul Mal, memikul sendiri karung gandum dan minyak di punggungnya. Ketika seorang sahabat menawarkan bantuan, Umar berkata, “Apakah engkau mau memikul dosaku di hari kiamat?”
Ia kembali ke rumah wanita itu, memasak sendiri makanan, dan tidak pergi hingga anak-anak itu tertawa dan kenyang.
Sebelum pergi, Umar berkata, “Jika engkau melihat Umar lalai lagi, datanglah menemuiku.”
Puasa membentuk karakter
Dari puasa Umar terbentuklah karakter ketegasan yang lahir dari pengendalian diri, keberanian yang disertai takut kepada Allah dan kepemimpinan yang bersih dari hawa nafsu. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic