Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sinyal Perang Berkepanjangan Iran-AS: Ruang Diplomasi Resmi Dinyatakan Tertutup

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 10 Maret 2026 - 17:49 WIB

Selasa, 10 Maret 2026 - 17:49 WIB

16 Views ㅤ

Ali Akbar Velayati, Penasehat Tinggi Kebijakan Luar Negeri Iran (Foto: Press TV)

Teheran, MINA – Stabilitas Timur Tengah kembali diuji setelah pejabat senior Iran memberikan peringatan keras mengenai berakhirnya upaya diplomatik dengan Amerika Serikat, sekaligus memberikan sinyal kesiapan militer dalam menghadapi tekanan luar negeri.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati menegaskan bahwa ruang untuk negosiasi diplomatik dengan Amerika Serikat kini telah tertutup sepenuhnya. Press TV melaporkan, Selasa (10/3).

Dalam sebuah pernyataan resmi yang menyoroti meningkatnya tensi di kawasan, Velayati memberikan sinyal kuat bahwa Teheran sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario perang berkepanjangan dengan Washington sebagai respons atas kebijakan luar negeri AS yang dianggap terus menekan kedaulatan Iran.

Langkah tegas ini muncul di tengah kebuntuan berbagai kesepakatan internasional yang sebelumnya diharapkan mampu meredam ketegangan di Teluk. Velayati menekankan bahwa Iran tidak akan lagi mengandalkan janji-janji diplomatik yang sering kali berakhir dengan pengkhianatan komitmen sepihak oleh pihak Barat.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Ia menyatakan bahwa ketahanan nasional dan penguatan aliansi regional menjadi prioritas utama Republik Islam tersebut dalam menghadapi ancaman militer maupun sanksi ekonomi yang kian mencekik.

Ketegangan ini semakin diperumit dengan posisi strategis Iran dalam mendukung poros perlawanan di Timur Tengah, termasuk dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina.

Secara historis, hubungan AS-Iran berada di titik terendah sejak penarikan diri Washington dari kesepakatan nuklir (JCPOA) pada tahun 2018. Para analis menilai bahwa pernyataan terbaru ini merupakan respons defensif Iran terhadap kehadiran militer AS yang semakin masif di pangkalan-pangkalan sekitar wilayah Iran.

Selain faktor eksternal, dinamika internal di Teheran juga menunjukkan adanya konsolidasi kekuatan antara faksi militer dan politik untuk memperkuat garis pertahanan negara. Iran dilaporkan terus meningkatkan kemampuan rudal balistik dan teknologi drone mereka, yang diklaim sebagai bentuk pertahanan diri yang sah.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Pernyataan Velayati tersebut menjadi pengingat bagi komunitas internasional bahwa stabilitas energi global dapat terganggu secara signifikan jika gesekan fisik benar-benar pecah di Selat Hormuz.

Di sisi lain, dunia internasional terus memantau dampak dari retorika “perang panjang” ini terhadap perdamaian di kawasan. Beberapa negara tetangga di Teluk mulai menyatakan kekhawatiran bahwa tertutupnya pintu diplomasi akan memicu perlombaan senjata baru yang tidak terkendali.

Namun, bagi Teheran, kedaulatan dan martabat bangsa menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi melalui meja perundingan yang mereka anggap tidak adil dan berat sebelah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia