SEBAGIAN orang bertanya, mengapa di lingkungan Muhammadiyah hampir tidak pernah terdengar sapaan “Gus”? Padahal, Muhammadiyah juga memiliki banyak ulama, kiai, bahkan tokoh yang lahir dari keluarga ulama.
Di organisasi ini, seorang anak kiai biasanya dipanggil dengan nama biasa, tanpa embel-embel gelar yang menunjukkan garis keturunannya. Fenomena ini bukan karena Muhammadiyah tidak menghormati keluarga ulama, tetapi karena organisasi ini sejak awal dibangun di atas budaya meritokrasi, yaitu menghargai seseorang berdasarkan kapasitas, integritas, dan kontribusinya, bukan karena nasab atau keturunan.
Dalam sebuah tayangan di TVMu baru-baru ini, pembahasan mengenai budaya organisasi Muhammadiyah kembali menarik perhatian. Salah satu poin yang mengemuka adalah bahwa Muhammadiyah tidak mengenal tradisi pewarisan kepemimpinan berdasarkan garis keluarga (nasab).
Putra seorang kiai, pimpinan wilayah, bahkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekalipun tidak otomatis mendapatkan tempat dalam kepemimpinan organisasi. Ia harus melalui proses yang sama seperti kader lainnya: belajar, mengabdi, membangun kapasitas, dan memperoleh kepercayaan melalui kiprah di masyarakat.
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Budaya ini sebenarnya telah menjadi ruh Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. KH Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaruan) yang menekankan pentingnya ilmu, amal, dan profesionalisme.
Beliau tidak pernah mewariskan kepemimpinan organisasi kepada anak-anaknya. Sepeninggal beliau, Muhammadiyah dipimpin oleh tokoh-tokoh yang dipilih melalui mekanisme organisasi, bukan karena hubungan darah. Tradisi tersebut terus bertahan hingga sekarang dan menjadi salah satu ciri khas Muhammadiyah.
Prinsip itu sejalan dengan ajaran Islam sendiri. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh keturunan, melainkan oleh ketakwaannya.
Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 menyatakan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat bahwa ukuran kemuliaan bukanlah nasab, melainkan kualitas pribadi.
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
Nilai Meritokrasi di Muhammadiyah
Nilai meritokrasi juga tercermin dalam perkataan KH Ahmad Dahlan yang sangat terkenal, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Kalimat sederhana ini mengandung makna mendalam.
Muhammadiyah bukanlah tempat untuk mencari kedudukan, keuntungan, ataupun melanggengkan pengaruh keluarga. Sebaliknya, Muhammadiyah adalah wadah pengabdian. Siapa pun yang ingin berkiprah harus memberikan manfaat nyata bagi umat.
Budaya seperti ini membuat regenerasi di Muhammadiyah berlangsung dengan baik. Banyak pimpinan berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Ada yang berasal dari keluarga petani, guru, pedagang, pegawai, hingga buruh. Bahkan tidak sedikit yang bukan berasal dari keluarga ulama. Namun, karena memiliki kompetensi, rekam jejak dakwah, kemampuan manajerial, serta dedikasi yang tinggi, mereka dipercaya memimpin amal usaha maupun persyarikatan. Di Muhammadiyah, nama besar keluarga memang dihormati, tetapi tidak menjadi tiket otomatis menuju jabatan.
Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup
Hal tersebut juga pernah ditegaskan oleh Syafii Maarif. Buya Syafii berkali-kali mengingatkan bahwa Muhammadiyah harus dijaga sebagai organisasi modern yang mengedepankan akal sehat, integritas, dan prestasi. Menurut beliau, organisasi akan kehilangan daya hidup jika dipenuhi praktik-praktik feodalisme atau kultus terhadap individu maupun keluarga. Yang harus dihormati adalah ilmu, akhlak, dan pengabdian, bukan semata-mata garis keturunan.
Karena itu, kita bisa memahami mengapa sapaan “Gus” tidak berkembang dalam kultur Muhammadiyah. Bukan karena Muhammadiyah menolak penghormatan kepada ulama, melainkan karena penghormatan diwujudkan melalui penghargaan terhadap ilmu, karya, dan keteladanan, bukan melalui simbol sosial yang melekat sejak lahir.
Seorang anak tokoh Muhammadiyah tetap dihormati sebagai pribadi, tetapi penghormatan yang lebih besar akan datang ketika ia mampu membuktikan kualitas dirinya melalui amal dan pengabdian.
Budaya meritokrasi seperti ini memiliki dampak positif yang besar. Setiap kader memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Anak muda tidak merasa minder karena bukan berasal dari keluarga besar Muhammadiyah.
Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi
Sebaliknya, mereka terdorong untuk terus belajar, aktif di persyarikatan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kapasitas diri. Organisasi pun memperoleh pemimpin-pemimpin terbaik berdasarkan kualitas, bukan berdasarkan nama keluarga.
Pada akhirnya, kekuatan Muhammadiyah bukanlah terletak pada siapa orang tuanya, melainkan pada apa yang telah dilakukan seseorang untuk umat. Itulah sebabnya Muhammadiyah mampu melahirkan begitu banyak tokoh besar dari berbagai latar belakang. Mereka tumbuh bukan karena warisan jabatan, tetapi karena warisan nilai: keikhlasan, kerja keras, ilmu, dan pengabdian.
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan ataupun mengecilkan budaya penyebutan gelar “Gus” yang hidup di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi tersebut memiliki akar sejarah dan budaya yang panjang serta menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara. Bahkan, banyak tokoh bergelar Gus yang menunjukkan kapasitas keilmuan, akhlak, dan kontribusi yang sangat besar bagi masyarakat, seperti Gus Baha (Rembang), Gus Iqdam (Blitar), Gus Kautsar (Kediri), dan banyak lainnya.
Tulisan ini semata-mata ingin menjelaskan perbedaan kultur organisasi: Muhammadiyah memilih membangun tradisi meritokrasi, sementara NU memiliki tradisi kulturalnya sendiri yang bagus dan kuat. Keduanya menjadi khazanah umat Islam Indonesia yang patut saling dihormati, dipahami, dan dijadikan inspirasi untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan dan pengabdian kepada umat. []
Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic