Damaskus, MINA – Gelombang panas ekstrem dengan suhu mencapai 50 derajat Celsius melanda wilayah timur laut Suriah, memperburuk krisis air bersih dan listrik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Kondisi tersebut memaksa ribuan warga berjuang memenuhi kebutuhan dasar di tengah infrastruktur yang rusak akibat konflik berkepanjangan. SANA melaporkan, Senin (3/8).
Di Kota Hasakah, warga dilaporkan harus mengantre setiap hari untuk memperoleh air bersih karena pasokan air minum yang aman semakin terbatas. Suhu yang terus meningkat membuat kebutuhan air harian melonjak, sementara kemampuan sistem distribusi tidak mampu mengimbangi permintaan masyarakat.
Krisis air juga diperparah oleh pemadaman listrik yang berkepanjangan. Banyak pompa air tidak dapat beroperasi secara normal akibat terbatasnya pasokan energi, sehingga distribusi air ke permukiman warga semakin terganggu.
Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya
Sebagian keluarga hanya mengandalkan panel surya berkapasitas kecil yang hanya dapat digunakan pada siang hari.
Dampak cuaca ekstrem turut dirasakan pelaku usaha kecil. Keterbatasan listrik membuat mereka kesulitan mengoperasikan lemari pendingin dan menyimpan bahan makanan maupun minuman, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat ikut melemah.
Kondisi ini menambah beban warga yang sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat konflik bersenjata dan krisis ekonomi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk krisis kemanusiaan di Suriah.
Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa
Kekeringan yang berkepanjangan, menurunnya debit sungai, serta rusaknya infrastruktur air dan listrik meningkatkan kerentanan jutaan warga terhadap kekurangan air bersih, gangguan kesehatan, dan ancaman ketahanan pangan.
Gelombang panas yang melanda Suriah menunjukkan dampak berlapis dari perubahan iklim dan konflik yang belum berakhir.
Mereka menekankan perlunya dukungan kemanusiaan internasional serta percepatan pemulihan infrastruktur dasar agar masyarakat dapat memperoleh akses yang memadai terhadap air bersih, listrik, dan layanan kesehatan di tengah cuaca ekstrem. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik
















Mina Indonesia
Mina Arabic