SEJAK 7 Oktober 2023, Israel melancarkan apa yang oleh para ahli PBB dan akademisi internasional disebut sebagai scholasticide atau genosida pendidikan, penghancuran sistematis terhadap pendidikan sebagai bagian dari strategi kekerasan yang lebih luas.
Ini bukan sekadar merusak gedung. Ini adalah upaya terencana untuk membongkar fondasi masyarakat Palestina melalui penghancuran sistem pendidikannya.
Mari kita lihat angkanya. Sebanyak 95,2% sekolah di Jalur Gaza mengalami kerusakan, dan 88,5% memerlukan rekonstruksi total. Seluruh 12 Universitas di Gaza telah dibom dan rata dengan tanah. Sekitar 90.000 mahasiswa kehilangan akses ke pendidikan tinggi, dan lebih dari 720.000 siswa mengalami gangguan total dalam pendidikan mereka.
Lebih dari 5.479 siswa, 261 guru, dan 95 guru besar universitas telah gugur. Mereka adalah para pendidik yang menjadi sasaran tembak Zionis Israel.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Inilah yang dimaksud dengan scholasticide. Istilah yang pertama kali diungkapkan oleh akademisi Oxford dan sarjana Palestina Karma Nabulsi ini menggambarkan Upaya sistematis untuk menghancurkan pendidikan sebagai strategi menekan tradisi panjang pendidikan Palestina yang telah menjadi bentuk perlawanan.
Namun, di sinilah keajaiban itu terjadi. Di tengah kehancuran, para guru Palestina tetap mengajar.
Dua Kudah, seorang guru bahasa Inggris, mendirikan ruang belajar darurat di dalam tenda. Tenda itu menjadi kelas sederhana yang menggantikan bangunan sekolah yang hancur akibat konflik.
“Saya hanya ingin mereka tetap belajar, meskipun semuanya runtuh di sekitar mereka,” katanya.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Intisar Al-Arabid memulai inisiatif mengajar gratis di Rafah. Ia melihat anak-anak “mengalami stres karena harus melalui situasi mengerikan akibat operasi militer yang sedang berlangsung”. Ia mengajar matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa Arab, tanpa pamrih, tanpa gaji.
Apa yang dilakukan Intisar menginspirasi Samir Awadallah, seorang guru bahasa Arab. Ia pun terdorong untuk mengajar anak-anak di tempat pengungsian. Baginya, kehidupan akan terus berlanjut, meskipun warga Palestina diliputi ketakutan menjadi korban kekejaman.
Pendidikan sebagai Sumud
Para pendidik ini tidak sedang menunggu bantuan. Mereka bergerak sendiri. Mereka membuktikan bahwa pendidikan adalah sumud.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Sumud adalah keteguhan kolektif. Seperti yang dikatakan Saleh Albalawi, peneliti Palestina, “Pendidikan telah lama memegang tempat sentral dalam masyarakat Palestina. Itu adalah jalan menuju martabat, kesempatan, dan keteguhan kolektif”.
Lebih dari 700 guru telah gugur sejak konflik dimulai. Namun yang selamat tetap mengajar. Mereka menghadapi kelaparan, kekurangan air, dan ketidakamanan, namun tetap muncul di kelas-kelas pengungsian. Sekadar hadir untuk mengajar adalah tindakan politik. Itu adalah tindakan perlawanan dan penentangan, solidaritas, dan ketahanan.
Pendidikan dan Kasih Sayang
Di Gaza utara, Hadeel al-Gharbawi mengubah sebuah tenda menjadi ruang kecil untuk kelas yoga. Ia mencari cara membantu anak-anak mengatasi trauma. Melalui gerakan dan pernapasan sederhana, ia menawarkan momen ketenangan, keamanan, dan kegembiraan.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
“Karena yoga tidak banyak tersedia di Gaza, saya memutuskan untuk belajar secara daring dan mempraktikkannya bersama anak-anak,” katanya. “Melalui yoga, mereka dapat melepaskan stres dan mengatasi kehidupan sulit di sekitar mereka.”
Seorang murid, Suwar, berkata, “Kami datang ke sini untuk melakukan yoga, belajar, dan berkesenian. Kegiatan-kegiatan ini memungkinkan kami untuk melupakan genosida, cuaca buruk, dan antrean panjang untuk mendapatkan air, meskipun hanya sesaat”.
Di Yerusalem, para hafizah Palestina terus menghafal Al-Qur’an meskipun pendudukan sering menghalangi akses ke Masjid Al-Aqsa. Lama Rami Abdel Mahsei Abuishah, delegasi Palestina di MTQ Internasional, mengatakan, “Al-Qur’an tetap menjadi sumber harapan dan kekuatan bagi kami”.
Masya-Allah, begitulah guru-guru Palestina mengajarkan kita satu hal, pendidikan tidak akan pernah mati, sekalipun dibombardir.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Mereka tetap mengajar di tenda, di atas reruntuhan, tanpa gaji, tanpa fasilitas. Mereka kehilangan kaki, rumah, bahkan keluarga tercintanya, tapi mereka para relawan guru itu tidak pernah kehilangan semangat untuk mendidik generasi masa depan umat dan bangsanya.
Ketika pasukan Zionis Israel membombardir sekolah-sekolah tempat anak-anak hendak meraih mimpinya. Tapi guru-guru Palestina membuktikan bahwa mimpi tidak bisa dibom. Ilmu adalah senjata yang tak bisa dirampas. Pendidikan adalah perlawanan yang tak pernah padam.
Dan generasi muslim di seluruh dunia, termasuk kita di Indonesia, harus terus belajar, mengajar, dan menyebarkan kebenaran. Karena selama masih ada guru yang mengajar, selama masih ada anak yang belajar, maka perjuangan belum berakhir. []
Ali Farkhan Tsani, Penulis adalah Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News.
Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic