Tel Aviv, MINA – Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid menilai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak memiliki jalan untuk membentuk pemerintahan setelah pemilu parlemen berakhir tanpa pemenang mayoritas. Pernyataan itu ia sampaikan di platform X, Jumat (30/10).
Media Israel KAN melaporkan, penghitungan suara rampung pada Kamis (29/10) malam. Blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, blok oposisi Change 48 kursi, dan partai-partai Arab 19 kursi dari 120 kursi Knesset.
Tidak ada blok yang menembus ambang mayoritas 61 kursi, dan hasil final dijadwalkan diumumkan 4 November setelah verifikasi.
Pemilu digelar pada 27 Oktober 2026. Lapid menyebut perolehan 53 kursi itu sebagai kemunduran besar bagi Netanyahu, yang bloknya menguasai 68 kursi di Knesset periode sebelumnya. Ia juga menyoroti tingkat partisipasi pemilih 77,7 persen, tertinggi sejak 1999.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Lapid menyebut capaian oposisi sebagai “kemenangan berdasarkan poin”, bukan kemenangan telak. Ia mengingatkan bahwa negosiasi koalisi berlangsung tertutup dan lambat, serta tidak menjanjikan hasil apa pun kepada pendukungnya.
Di kubu Netanyahu, harian Yedioth Ahronoth melaporkan pemimpin Jewish Power Itamar Ben-Gvir bertemu Netanyahu pada Kamis. Menurut partainya, keduanya membahas upaya mencegah terbentuknya pemerintahan yang didukung partai-partai Arab.
Sebelumnya, Netanyahu menyatakan blok sayap kanan memegang mayoritas dan Likud menjadi partai terbesar, serta menyerukan pembentukan pemerintahan nasional yang kuat.
Di kubu oposisi, pemimpin Partai Demokrat Yair Golan bertemu pemimpin Ra’am Mansour Abbas dan mendorong rekan-rekannya mempertimbangkan kembali sikap terhadap partai-partai Arab.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Golan mendukung masuknya Ra’am ke koalisi, sedangkan Avigdor Lieberman dari Yisrael Beiteinu menolak. Blok Change dan partai Arab sebenarnya memiliki 67 kursi, tetapi partai Arab bukan bagian resmi blok tersebut.
Hingga hasil final diumumkan, Netanyahu diperkirakan tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara. Presiden Israel nantinya akan menunjuk tokoh yang dinilai paling berpeluang menyusun koalisi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat
















Mina Indonesia
Mina Arabic