Washington, MINA – Gelombang panas yang melanda Amerika Serikat diperkirakan semakin intens menjelang libur Hari Kemerdekaan pada 4 Juli mendatang. Dinas Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS) memperingatkan suhu yang dirasakan tubuh (heat index) di sejumlah wilayah dapat mendekati 46 derajat Celsius.
NWS menyebutkan suhu udara di berbagai wilayah diperkirakan berada pada kisaran 32 hingga 40 derajat Celsius. Kondisi tersebut diperparah oleh tingkat kelembapan yang tinggi sehingga membuat suhu terasa jauh lebih panas.
Puncak gelombang panas diperkirakan terjadi di kawasan Midwest dan Lembah Mississippi sebelum bergeser ke Lembah Ohio serta Pantai Timur menjelang akhir pekan.
Selain suhu siang yang ekstrem, NWS mengingatkan bahwa suhu malam hari hanya turun hingga sekitar 20 derajat Celsius di sejumlah wilayah. Anadolu melaporkan, Rabu (1/7).
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Minimnya penurunan suhu pada malam hari membuat tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri dari paparan panas berkepanjangan.
Menurut NWS, kombinasi suhu tinggi pada siang hari dan malam yang tetap hangat menjadikan gelombang panas kali ini berpotensi lebih berbahaya dibandingkan peristiwa serupa sebelumnya.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air putih, mengenakan pakaian yang ringan, serta memanfaatkan pusat pendinginan (cooling centers) apabila diperlukan.
Kelompok lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan warga dengan penyakit kronis diminta meningkatkan kewaspadaan karena lebih rentan mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga serangan panas (heat stroke).
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Gelombang panas di Amerika Serikat terjadi setelah sebagian wilayah Eropa juga dilanda cuaca ekstrem pada akhir Juni, dengan suhu di sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, dan Jerman melampaui 40 derajat Celsius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih di Eropa dalam periode 21–28 Juni berkaitan dengan suhu tinggi.
WHO juga bekerja sama dengan FIFA untuk memperkuat langkah mitigasi cuaca panas selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat melalui sistem peringatan dini, penyediaan air minum, serta strategi pendinginan bagi pemain dan penonton.
Para ilmuwan iklim menyebut frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan konsumsi listrik, mengganggu produktivitas, memperbesar risiko kebakaran hutan, serta memberi tekanan terhadap sektor pertanian dan infrastruktur.
Otoritas cuaca di Amerika Serikat pun mengimbau warga untuk terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dan mengikuti peringatan resmi selama periode cuaca ekstrem berlangsung. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic