Washington, MINA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah menyiapkan paket penjualan persenjataan senilai sekitar 2,8 miliar dolar AS (Rp.49,5 triliun) untuk Israel, termasuk 40 ribu bom berbobot 2.000 pon atau sekitar 907 kilogram per unit.
Paket tersebut juga mencakup 20 ribu bom MK-84 dan 20 ribu bom BLU-117. Selain itu, paket persenjataan tersebut juga mencakup 20 ribu hulu ledak penetrator I-2000.
Al-Jazeera melaporkan, Selasa (15/9), rencana penjualan itu telah disampaikan secara informal kepada komite-komite terkait di Kongres AS. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, Departemen Luar Negeri AS maupun Kedutaan Besar Israel belum memberikan komentar publik mengenai rencana transaksi tersebut.
Paket tersebut masih berada pada tahap perencanaan sehingga belum dapat disebut sebagai pengiriman senjata yang telah dilakukan. Jika terealisasi, transaksi itu akan menjadi salah satu penjualan amunisi berat terbesar AS kepada Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Bom MK-84 dan BLU-117 merupakan jenis bom seberat 2.000 pon yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran di permukaan maupun sasaran yang berada di bawah tanah. Penggunaan bom berdaya ledak besar di kawasan perkotaan padat sebelumnya menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan kerusakan luas dan korban sipil.
The Washington Post melaporkan bahwa rencana tersebut menjadi salah satu paket pengiriman bom 2.000 pon terbesar yang disiapkan AS untuk Israel dalam beberapa tahun terakhir. Rencana itu muncul di tengah berlanjutnya konflik dan serangan Israel di Jalur Gaza.
Pengiriman bom sejenis sebelumnya sempat ditahan pemerintahan Presiden Joe Biden pada 2024 karena kekhawatiran penggunaannya dalam operasi militer Israel di Rafah, Gaza Selatan, yang ketika itu dipadati warga Palestina yang mengungsi.
Setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS, Washington melanjutkan dan memperluas dukungan militernya kepada Israel. Rencana paket terbaru tersebut menjadi bagian dari rangkaian bantuan dan penjualan persenjataan AS kepada Israel sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Rencana penjualan itu juga muncul ketika dukungan publik di AS terhadap bantuan militer kepada Israel menjadi bahan perdebatan politik. Sejumlah jajak pendapat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan pandangan masyarakat AS mengenai dukungan Washington terhadap Israel.
Di tingkat internasional, penggunaan senjata berat dalam konflik Gaza juga terus mendapat sorotan. Berbagai organisasi kemanusiaan dan pakar hukum internasional menyoroti dampak penggunaan persenjataan berdaya ledak besar di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
















Mina Indonesia
Mina Arabic