Tel Aviv, MINA – Bandara Ben Gurion, satu-satunya gerbang udara internasional Israel, hampir melebihi kapasitasnya. Laporan ekonomi Israel memperingatkan bahwa kekacauan yang terjadi pekan lalu akibat kemacetan parah dan fasilitas yang kewalahan hanyalah pratinjau awal dari krisis yang lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.
Surat kabar Israel, The Marker, melaporkan bahwa bandara tersebut saat ini beroperasi di atas kapasitas desainnya. Tekanan diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penumpang, mengingat Ben Gurion merupakan satu-satunya bandara internasional utama Israel.
Jika situasi ini terus berlanjut, laporan tersebut memperingatkan bahwa apa yang disebut sebagai “runtuhnya Ben Gurion” bisa menjadi kenyataan permanen.
Para pelancong akan menghadapi antrean berjam-jam, sementara harga tiket pesawat dan biaya perjalanan ke serta dari Israel diprediksi melonjak. Dikutip dari Quds Press, Rabu (26/8).
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Menurut perkiraan, bandara akan mencapai kapasitas maksimum pada tahun 2034, dengan jumlah penumpang diperkirakan mencapai 40 juta orang per tahun.
Bandara Baru, Tapi Butuh 15 Tahun
Laporan tersebut menyebutkan bahwa satu-satunya solusi radikal adalah membangun bandara internasional lain. Namun, Knesset (parlemen Israel) belum mengesahkan undang-undang yang diperlukan untuk memulai proyek ini. Pembangunan bandara baru diperkirakan memakan waktu 10 hingga 15 tahun, artinya keputusan yang diambil sekarang pun tidak akan mencegah krisis Ben Gurion memburuk dalam waktu dekat.
Krisis ini sebenarnya sudah diprediksi. Pada tahun 2016, Komite Chevron merekomendasikan pembangunan bandara baru di lokasi pangkalan udara militer Ramat David di Marj Ben Amer, dengan kapasitas 20–30 juta penumpang per tahun. Namun, hampir satu dekade kemudian, proyek tersebut tidak pernah terwujud.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Laporan tersebut menyalahkan pemerintah-pemerintah Israel yang berturut-turut, sebagian besar dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, karena gagal mengambil keputusan tegas.
Konflik Kepentingan Hambat Proyek
Proyek bandara baru juga terhambat oleh tekanan dari berbagai pihak. Kota-kota di sekitar Ramat David menolak pembangunan, sementara kota-kota di Negev, yang dipimpin oleh anggota partai Likud, justru melobi agar bandara dibangun di selatan Israel.
Selain itu, Otoritas Bandara Israel dan serikat pekerjanya juga menjadi kekuatan penghalang, karena khawatir bandara baru akan mengurangi pengaruh dan hak istimewa mereka. Komite pekerja bahkan memiliki kekuatan untuk mengancam pemogokan, yang bisa memperburuk krisis di masa depan.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Laporan tersebut mengkritik Menteri Transportasi Miri Regev, yang dinilai tidak menjadikan pembangunan bandara baru sebagai prioritas selama empat tahun terakhir. Kementeriannya lebih sibuk menangani dampak penangguhan penerbangan maskapai asing ke Israel selama perang.
Keterlambatan yang terus berlanjut ini akan mempercepat krisis di Ben Gurion. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan, tetapi juga oleh kemampuan Israel untuk mempertahankan hubungan komersial dan mobilitas warga negaranya.
Tanpa alternatif bandara, harga perjalanan akan naik dan akses ke dunia internasional semakin terbatas. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic