Khartoum, MINA — Persediaan tempat penampungan darurat dan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi di Sudan terancam habis pada akhir September jika donor tidak segera menyediakan pendanaan tambahan, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan.
Channel Africa melaporkan pada Senin (14/9), IOM menyatakan konflik, banjir, dan hujan lebat terus merusak tempat penampungan serta memaksa keluarga yang telah mengungsi untuk kembali berpindah.
“Kita tidak bisa begitu saja membelakangi rakyat Sudan ketika mereka paling membutuhkan kita di tengah konflik yang berkecamuk, meningkatnya pengungsian, dan dampak hujan lebat,” kata Direktur Jenderal IOM Amy Pope.
IOM memperingatkan seluruh sistem kemanusiaan di Sudan dapat mengalami kelumpuhan dalam beberapa pekan jika pendanaan baru tidak segera tersedia.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sekitar 8,6 juta orang masih menjadi pengungsi internal di Sudan, sementara sebanyak 4,9 juta orang tercatat telah kembali ke daerah asal berdasarkan data Displacement Tracking Matrix milik IOM.
Hampir 70 persen pengungsi internal di Sudan tinggal bersama keluarga yang menjadi tuan rumah atau di permukiman informal. Kondisi tempat tinggal yang tidak memadai membuat mereka semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, penyakit, dan ancaman keamanan.
IOM mengelola Common Humanitarian Pipeline, sistem logistik bersama yang digunakan lebih dari 100 mitra kemanusiaan terdaftar untuk menyalurkan bahan tempat penampungan, perlengkapan sanitasi, dan kebutuhan rumah tangga dasar.
Sejak Juli 2023, sistem tersebut telah menjangkau sekitar 2,84 juta orang di Sudan.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Namun, jumlah bantuan terus menurun meski kebutuhan kemanusiaan masih tinggi.
Lebih dari 1 juta orang menerima bantuan pada 2024. Jumlah tersebut turun menjadi sekitar 804.000 orang pada 2025.
Sementara pada 2026, baru sekitar 330.000 orang menerima perlengkapan tempat penampungan dan bantuan darurat.
IOM memperkirakan persediaan bantuan yang ada akan habis pada akhir September.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Tanpa pendanaan tambahan, kapasitas pergudangan dan operasional hanya dapat dipertahankan hingga Desember.
IOM membutuhkan 15 juta dolar AS untuk mempertahankan operasi minimum selama 12 bulan dan memberikan bantuan kepada sekitar 305.000 orang.
Pendanaan sebesar 27 juta dolar AS akan memungkinkan bantuan dipulihkan ke tingkat 2025 dan menjangkau sekitar 570.000 orang.
Sementara dana 42 juta dolar AS memungkinkan bantuan diperluas hingga 1 juta orang di Sudan.
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
IOM memperingatkan terhentinya sistem bantuan akan melemahkan kemampuan organisasi kemanusiaan untuk merespons keadaan darurat secara cepat.
Pemulihan sistem juga membutuhkan waktu dan biaya besar karena harus membangun kembali rantai pasokan, fasilitas pergudangan, serta jaringan koordinasi.
Keterbatasan tempat penampungan juga meningkatkan risiko perpisahan keluarga, pengusiran, dan pengungsian berulang akibat banjir di lokasi-lokasi yang sudah padat.
“Pendanaan sekarang akan menentukan apakah mekanisme pasokan darurat yang telah dibangun ini tetap siap merespons,” kata IOM.[]
Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic