Havana, MINA – Pemerintah China mengirim bantuan kemanusiaan berupa 15 ribu ton beras kepada Kuba di tengah tekanan ekonomi berkepanjangan akibat embargo Amerika Serikat (AS).
Bantuan tersebut dinilai menjadi dukungan penting bagi Kuba yang saat ini menghadapi krisis pangan dan kesulitan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Anadolu melaporkan, Senin (25/5).
Pemerintah Kuba menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan Beijing dan menyebut hubungan kedua negara terus berkembang di berbagai bidang, termasuk perdagangan, energi, dan bantuan kemanusiaan.
Pengiriman beras tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kuba yang belakangan menghadapi kelangkaan bahan pokok serta kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. (cnnindonesia.com)
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Kuba hingga kini masih berada di bawah embargo ekonomi AS yang telah berlangsung lebih dari enam dekade sejak era Perang Dingin. Embargo tersebut membatasi akses Kuba terhadap perdagangan internasional, transaksi keuangan, hingga impor berbagai kebutuhan strategis.
Pemerintah Kuba berulang kali menyatakan bahwa sanksi tersebut memperburuk kondisi ekonomi nasional dan berdampak langsung pada kehidupan rakyat.
Dalam beberapa tahun terakhir, China semakin aktif memperkuat pengaruhnya di Amerika Latin, termasuk melalui kerja sama ekonomi dan bantuan kemanusiaan kepada negara-negara yang menghadapi tekanan Barat.
Kuba menjadi salah satu mitra strategis Beijing di kawasan Karibia, terutama dalam kerja sama bidang infrastruktur, teknologi, kesehatan, dan energi terbarukan.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Bantuan beras dari China tidak hanya memiliki dimensi kemanusiaan, tetapi juga menunjukkan rivalitas geopolitik antara Beijing dan Washington. Di tengah meningkatnya persaingan global, China dinilai berupaya memperluas pengaruh diplomatiknya melalui bantuan ekonomi kepada negara-negara yang mengalami tekanan politik dan ekonomi dari AS.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama bertahun-tahun terus menyerukan penghentian embargo terhadap Kuba. Mayoritas negara anggota PBB menilai embargo tersebut berdampak buruk terhadap hak-hak kemanusiaan dan pembangunan ekonomi Kuba.
Namun hingga kini, kebijakan embargo AS terhadap negara pulau di Karibia itu masih tetap diberlakukan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic