Gaza, MINA – Di jantung tenda-tenda pengungsian yang penuh sesak, di tengah kepungan dan genosida yang masih berlangsung, dua bersaudari Palestina, Farah Zaqout dan Jana Zaqout, menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Sebuah pencapaian keagamaan yang menginspirasi dan mendapat pujian luas di media sosial serta lingkungan lokal. Laporan Saidagate, Kamis (30/7).
Perjalanan Farah dan Jana tidaklah mudah. Mereka menyelesaikan hafalan di bawah kondisi yang sangat ekstrem akibat serangan Israel yang terus-menerus, perpindahan yang tiada henti, serta kekurangan kebutuhan dasar kehidupan dan penerangan.
Namun, berkat ketekunan, dukungan keluarga, serta pusat hafalan lapangan yang didirikan secara sukarela di dalam tenda, kedua remaja Muslimah tersebut mampu menghafal seluruh Kitab Allah dengan sempurna.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Tenda Keluarga Jadi Saksi
Tenda keluarga Zaqout, yang menjadi tempat singgah sementara bagi mereka yang kehilangan rumah akibat perang, menyaksikan upacara penghormatan sederhana.
Keluarga kedua saudari, bersama tetangga dan para pengajar di kamp pengungsian, menggelar acara syukuran dengan pembacaan ayat-ayat terakhir dan doa bersama.
Dalam adegan yang mencerminkan betapa kuatnya ikatan rakyat Gaza dengan Al-Qur’an, acara tersebut menjadi bukti bahwa generasi di Gaza tetap dibangun di atas nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, meskipun di tengah penindasan dan agresi yang tak henti.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
Begitu foto dan video penghormatan untuk Farah dan Jana beredar, media sosial dipenuhi dengan ungkapan kebanggaan dan kekaguman. Warganet dari berbagai penjuru dunia menyoroti bahwa desakan anak-anak dan remaja Gaza untuk terus menghafal Al-Quran dan belajar, di bawah reruntuhan perang dan di dalam tenda pengungsian, adalah pesan paling kuat tentang keteguhan dan perlawanan yang bisa disampaikan kepada seluruh dunia.
“Mereka kehilangan rumah, kehilangan masa kecil, tetapi mereka tidak kehilangan Al-Qur’an. Itu adalah kemenangan yang tidak bisa dirampas oleh bom apa pun,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Dari Rafah ke Pengungsian
Farah dan Jana bukanlah nama baru dalam catatan keteguhan Gaza. Keluarga Zaqout telah menjadi simbol perlawanan dan iman, meskipun dalam keterbatasan. Sebelumnya, kisah keteguhan mereka dalam menghadapi pengungsian dari Rafah ke daerah pengungsian lain menjadi viral, ketika mereka menunjukkan bagaimana tetap teguh dan bersyukur di tengah penderitaan.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Kini, dengan prestasi menghafal Al-Qur’an, mereka menambah lembaran baru dalam kisah heroik rakyat Gaza bahwa iman dan Al-Qur’an tetap menjadi benteng terakhir yang tidak bisa dihancurkan oleh rudal sekalipun.
Gaza Melahirkan Generasi Penghafal Al-Qur’an
Di tengah puluhan ribu korban jiwa, jutaan pengungsi, dan infrastruktur yang hancur total, Gaza tetap dikenal melahirkan generasi-generasi baru yang hafal Al-Qur’an. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa sejak genosida 2023, lebih dari 1.200 warga Gaza telah menjadi hafidz dan hafidzah, termasuk di dalamnya anak-anak yang kehilangan orang tua, remaja yang kehilangan masa depan, dan keluarga yang kehilangan segalanya.
Inilah Gaza, semakin keras penindasan, semakin kuat iman mereka. Semakin banyak kehancuran, semakin banyak hafalan Al-Qur’an.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Ya, Farah dan Jana mungkin tidak memiliki kamar tidur sendiri. Mereka mungkin tidak punya meja belajar yang layak. Mereka mungkin hidup di bawah tenda yang meneteskan air hujan dan terik matahari. Tetapi mereka punya Al-Qur’an, sebuah kitab yang tidak bisa dirampas, dihancurkan, atau dibungkam oleh siapa pun.
Merekalah bukti nyata bahwa pendidikan dan keimanan tidak pernah mati, bahkan dalam perang sekalipun.
Selamat untuk Farah dan Jana Zaqout. Semoga Al-Qur’an menjadi penolong, penerang, dan syafaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Dan semoga kisah ini menjadi pengingat bagi dunia bahwa Gaza, meski hancur, takkan pernah kehilangan cahayanya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
















Mina Indonesia
Mina Arabic