Gaza, MINA – Di tengah puing-puing kehancuran Gaza, di atas atap gedung apartemen yang retak akibat bom, sekelompok lebah berdengung kembali. Itulah pemandangan yang kini menghiasi lingkungan Tel al-Hawa, selatan Kota Gaza, sebuah simbol perlawanan dan harapan yang tak pernah padam.
Ibrahim al-Dabba, peternak lebah Palestina sekaligus ketua Koperasi Peternak Lebah Jalur Gaza, terpaksa memindahkan sarang-sarangnya ke atap bangunan apartemen yang rusak. Risiko keamanan yang tinggi menghalanginya mencapai lahan pertanian yang kini menjadi zona terlarang dekat perbatasan.
Sebelum perang, industri peternakan lebah Gaza menjadi tulang punggung ekonomi bagi sekitar 10.000 orang. Sekitar 1.000 peternak lebah aktif di wilayah tersebut, dengan setengahnya produsen skala besar dan setengahnya produsen skala kecil. Gaza dikenal sebagai penghasil madu berkualitas dengan jumlah produksi yang signifikan.
Namun, seperti sebagian besar sektor produktif lainnya, peternakan lebah hampir sepenuhnya hancur akibat serangan Israel. Sarang-sarang yang dulu tersebar di lahan-lahan hijau kini menjadi abu dan puing. Dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu (7/8).
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Setelah gencatan senjata, al-Dabba dan para peternak lainnya mulai membangun kembali dari nol. Jumlah sarang lebah di Gaza yang sempat anjlok di bawah 500 kini meningkat menjadi sekitar 3.000 berkat rencana pemulihan yang dikembangkan koperasi. Lebih dari 100 peternak lebah juga telah kembali beroperasi.
“Kami memulai hanya dengan tiga sarang. Sekarang kami memiliki lebih dari 35,” ujar al-Dabba dengan penuh syukur.
Namun, pemulihan sektor ini masih menghadapi hambatan besar. Hampir semua peralatan penting, seperti rangka, lembaran fondasi lilin, obat-obatan, perlengkapan pengobatan, dan sarang kayu, dilarang masuk ke Gaza.
“Semua yang kita butuhkan sangat terbatas. Ini sangat menyulitkan,” ujarnya.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Inovasi di Tengah Keterbatasan
Karena lahan pertanian banyak yang tidak dapat diakses, al-Dabba mengambil solusi dengan memindahkan sarang ke atap gedung apartemen yang rusak. Di sana, lebah-lebahnya tetap bertahan hidup dan memproduksi madu.
Sarang kayu yang ditempatkan di area terbuka juga rentan terhadap pencurian dan kehancuran. Kayu itu sendiri menjadi barang langka karena pembatasan masuknya bahan bakar dan perlengkapan penting lainnya.
“Ketika kami melihat lebah bertahan hidup di sini, itu juga memberi kami harapan,” kata al-Dabba.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Di balik setiap tetes madu yang dihasilkan, ada cerita tentang keteguhan manusia dan alam yang bertahan di tengah genosida. Lebah-lebah Gaza, yang terbang di atas puing-puing dan bersarang di atap reruntuhan, adalah pengingat bahwa kehidupan terus berjalan meskipun dihantam perang.
Para peternak lebah Gaza tetap bertekad untuk melanjutkan profesi mereka dan memulihkan sektor ini. Mereka tahu bahwa madu Gaza bukan sekadar komoditas, ia adalah simbol manisnya harapan di tengah kepahitan penjajahan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic