Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Kongres Umat Islam Indonesia VIII, Menko Pangan Zulkifli Hasan Ajak Umat Perkuat Kedaulatan Pangan demi Kehormatan Bangsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:20 WIB

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:20 WIB

88 Views ㅤ

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026. (Foto: MINA/Sidik)

Jakarta, MINA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengajak umat Islam untuk bersama-sama memperkuat kedaulatan pangan sebagai bagian dari kehormatan bangsa.

Menurutnya, kedaulatan pangan bukan semata persoalan ekonomi, melainkan menyangkut kehormatan bangsa, kesejahteraan rakyat, serta kemandirian umat dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (25/7).

“Oleh karena semua saudara, kita harus swasembada. Karena swasembada itu kehormatan petani, kehormatan keluarga kita, saudara kita. Mayoritas rakyat Indonesia itu ada di desa,” ujarnya.

Baca Juga: Ketua Maemuna Center Indonesia: Palestina Ujian bagi Nurani

Zulhas, begitu disapa, menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor berbagai komoditas pangan yang selama ini dinilai membuat petani dalam negeri tidak menikmati nilai ekonomi dari hasil pertanian. Menurutnya, kondisi tersebut telah menyebabkan banyak petani kehilangan lahan dan beralih menjadi buruh tani akibat kebijakan yang tidak berpihak kepada sektor pertanian.

“Artinya petani kita nggak nikmati apa-apa, yang menikmati sana. Tapi di pasar bebas, yang penting kamu punya uang, beli. Nggak penting suasana, nggak penting harus berdaulat,” imbuhnya.

Zulhas menegaskan bahwa perubahan kebijakan pemerintah saat ini diarahkan untuk mengembalikan keberpihakan kepada petani melalui berbagai langkah strategis, seperti perbaikan harga gabah agar petani mendapatkan keuntungan yang layak, kemudahan akses pupuk bagi petani dan kebijakan pendukung produksi pangan nasional lainnya

“Harga gabah kita naikkan, pupuk yang rumit kita permudah. Segala yang menyangkut petani, kita berpihak dulu sama mereka,” lanjutnya.

Baca Juga: Sarbini Abdul Murad: Panas di Monas Tak Seberapa Dibanding Gaza

Surplus Beras 2025

Zulhas memaparkan hasil positif dari kebijakan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor beras pada tahun 2025 dan bahkan mencatat surplus produksi.

“Tahun 2024 kita impor beras 4,5 juta ton, 2025 nggak impor lagi. Kita surplus 4,2 juta ton,” lapornya di hadapan para ulama, cendekiawan, dan tokoh umat Islam.

Capaian ini, menurutnya, merupakan bukti bahwa dengan kebijakan yang tepat dan keberpihakan kepada petani, Indonesia mampu mencapai kemandirian pangan.

Baca Juga: Ahmad Shobri Lubis, Ketua PA 212: Gaza Tetap Teguh, Palestina Segera Merdeka

Kedaulatan Pangan adalah Martabat Bangsa

Di hadapan para peserta kongres, Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar target ekonomi, melainkan juga menyangkut martabat bangsa.

“Tidak ada negara lain yang mau nolong Indonesia itu nggak ada. Yang bisa membantu kita, yang bisa nolong kita ya kita,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa ketergantungan pada impor pangan membuat bangsa ini rentan terhadap gejolak global. Ketika harga pangan dunia naik atau terjadi konflik di negara-negara penghasil pangan, Indonesia akan terkena dampaknya secara langsung.

Baca Juga: Ketua PP Wanita Islam: Dari Monas Kita Ketuk Pintu Langit untuk Kemerdekaan Palestina

Melalui forum KUII VIII, Zulkifli berharap umat Islam tidak hanya membahas perbedaan, tetapi juga ikut memikirkan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat, khususnya petani dan nelayan, sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan bangsa yang mandiri dan berdaulat di bidang pangan.

“Umat Islam Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan jumlah yang besar dan kepedulian sosial yang tinggi, umat Islam dapat mendorong gerakan swasembada pangan dari tingkat keluarga, pesantren, hingga masyarakat luas,” ujarnya.

Pangan dan Geopolitik Global

Zulhas juga mengaitkan isu pangan dengan dinamika geopolitik global. Menurutnya, ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan kehilangan kedaulatan dan mudah ditekan oleh kekuatan asing.

Baca Juga: Orasi Herman Budianto, Alumni Global Sumud Flotilla: Untuk Apa di Sini? Untuk Mendukung Palestina!

“Di tengah rivalitas global dan ketegangan geopolitik, negara yang kuat adalah negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri,” tegasnya.

Kongres Umat Islam Indonesia VIII

KUII VIII yang berlangsung 24–26 Juli 2026 mengusung tema “Ulama Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat” dan diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai elemen umat Islam Indonesia. Kongres ini membahas enam aspek strategis, termasuk perekonomian dan kesejahteraan yang di dalamnya mencakup ketahanan pangan.

Puncak acara akan dirangkaikan dengan Peringatan Milad ke-51 MUI pada Ahad (26/7) serta penganugerahan MUI Awards kepada sejumlah tokoh yang berkontribusi bagi pembangunan bangsa. []

Baca Juga: Annisa Theresia dan Maqdisy Talent Semarakkan Pembukaan BSP 2026

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda