Gaza, MINA – Sebanyak 256 penghafal Quran mengikuti kegiatan khataman Al-Quran di Masjid al-Shafii, Khan Younis, Gaza selatan, pada bulan Ramadan ini.
Kegiatan bertajuk “Safwat Al-Huffaz” atau “Para Penghafal Quran Elit” ini digelar di tengah kerusakan akibat perang yang masih melanda wilayah tersebut.
Seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (17/3), para peserta berkumpul sejak usai salat Subuh hingga menjelang Magrib untuk menyelesaikan lantunan 30 juz Al-Quran secara berjamaah. Mereka duduk berbaris di halaman masjid, sebagian menggunakan kursi dan sebagian lainnya duduk di lantai, dengan konsentrasi penuh pada ayat-ayat yang dilantunkan.
Salah satu peserta, Mohammad al-Qiranawi (51), telah menghafal Al-Quran meskipun mengalami kebutaan sejak kecil. Ia mengatakan Al-Quran telah menjadi teman setianya sepanjang hidup.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
“Pada saat saya berusia 10 tahun, saya benar-benar kehilangan penglihatan karena masalah kesehatan. Tetapi Tuhan memberi saya hadiah lain. Saya terus menghafal Quran dan mengandalkan pendengaran untuk menyempurnakannya,” ujarnya.
Al-Qiranawi telah mengajarkan Al-Quran kepada anak-anaknya dan murid-murid lain, meskipun proses belajar mengajar terganggu akibat pengungsian dan kehancuran fasilitas selama perang berlangsung.
Peserta lain, Abdul Rahman Abu Nimr (13), menyelesaikan hafalan Al-Quran saat berada dalam pengungsian. Ia kehilangan rumah, paman, dan sejumlah temannya akibat serangan Israel.
“Saya sangat senang bisa melantunkannya lagi hari ini. Lingkaran Quran bersama teman-teman pengungsi lain menghibur saya,” kata Abdul Rahman.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza mencatat lebih dari 89 persen masjid di Jalur Gaza, atau sekitar 1.000 bangunan, mengalami kerusakan berat akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023. Tiga gereja bersejarah di Gaza juga dilaporkan rusak akibat bombardir.
Meski demikian, warga Gaza tetap berupaya menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan di tengah keterbatasan. Di sejumlah kamp pengungsian, masjid darurat didirikan menggunakan kayu, terpal, dan kain seadanya. Al-Quran menjadi barang langka dan harus digunakan secara bergantian.
Institut Dar al-Quran dan Sunna, salah satu lembaga pendidikan Al-Quran di Gaza, mengalami kerusakan parah serta kehilangan staf dan data pendidikan selama perang. Namun lembaga tersebut kini mulai membangun kembali kegiatan pengajaran Al-Quran.
“Pada awal gencatan senjata Oktober 2025, kami berhasil mendirikan 67 ruang belajar Al-Quran. Dalam lima bulan, jumlah peserta mencapai 300 orang dan terus bertambah,” kata Ahmad al-Saafin, direktur institut tersebut.
Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat
Wasim Abu Sahloul, peserta lain dalam kegiatan khataman, adalah mantan tahanan yang dibebaskan dalam pertukaran tahanan pada Februari 2025. Selama ditahan, ia mengaku tidak diperbolehkan memiliki salinan Al-Quran dan dilarang salat berjamaah. Ia tetap mengajarkan hafalan Al-Quran kepada sesama tahanan.
Setelah bebas, Abu Sahloul kehilangan sembilan anggota keluarganya dalam serangan udara Israel pada Juli 2025, termasuk ibu dan putranya yang berusia sembilan tahun, Islam. Ia mendedikasikan lantunan Al-Quran hari itu untuk keluarga yang gugur.
“Saya akan terus melantunkan Al-Quran sampai nafas terakhir. Pesan saya kepada penjajah dan pembunuh adalah bahwa kami hidup melalui Al-Quran,” ujarnya.
Kegiatan khataman ini diselenggarakan untuk mengirimkan pesan bahwa tradisi keagamaan di Gaza tetap berlangsung meskipun perang dan kehancuran masih membayangi kehidupan sehari-hari warga. []
Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic