London, MINA – Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa angin segar bagi pasar energi global, ditandai dengan turunnya harga minyak dunia pada perdagangan awal pekan.
Pelaku pasar menilai peluang meredanya konflik di Timur Tengah dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi internasional. Al-Jazeera melaporkan, Selasa (26/5).
Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan melemah setelah muncul sinyal positif dari pembicaraan antara Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa proses negosiasi berjalan konstruktif dan membuka peluang tercapainya kesepakatan baru terkait konflik yang selama ini memicu gejolak pasar minyak global.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Pasar energi sebelumnya mengalami tekanan besar akibat meningkatnya ketegangan antara Iran, AS, dan Israel yang berdampak pada keamanan Selat Hormuz.
Jalur strategis tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima distribusi minyak dunia, sehingga setiap ancaman penutupan langsung memicu lonjakan harga energi internasional.
Analis energi menilai penurunan harga minyak mencerminkan optimisme investor terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur perdagangan energi di kawasan Teluk.
Meski demikian, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa pemulihan distribusi minyak tidak akan berlangsung cepat karena masih adanya pembatasan arus kapal dan kerusakan infrastruktur energi akibat konflik berkepanjangan.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Di sisi lain, pelemahan harga minyak dinilai memberi dampak positif bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk di Asia. Stabilitas harga energi berpotensi membantu menekan inflasi global yang sempat meningkat akibat lonjakan harga minyak dan gas sejak pecahnya konflik di Timur Tengah beberapa bulan terakhir.
Meski sentimen pasar mulai membaik, investor masih mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran dengan hati-hati. Pasar minyak dinilai tetap rentan terhadap perubahan situasi geopolitik, terutama jika perundingan kembali mengalami kebuntuan atau terjadi eskalasi militer baru di kawasan Timur Tengah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic