Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr. Muslim Imran: Beberapa Pemimpin Arab Justru Dukung Zionisme Israel

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 17 Mei 2026 - 11:51 WIB

Ahad, 17 Mei 2026 - 11:51 WIB

93 Views ㅤ

Dr. Muslim Imran, Direktur Asia Middle East Center, pada Seminar Refleksi Nakbah di Aula HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada Ahad, 17 Mei 2026. (FOTO: MINA/Sidieq))

Jakarta, MINA – Direktur Asia Middle East Center, Dr. Muslim Imran, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa tidak semua pemimpin Arab menentang Zionisme Israel. Bahkan, beberapa di antaranya secara aktif mendukung proyek Zionisme melalui bantuan keuangan, ekonomi, dan diplomatik.

Pernyataan tegas tersebut disampaikannya dalam Seminar Refleksi Nakbah yang berlangsung di Aula HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Ahad (17/5).

Dalam paparannya, Dr. Muslim Imran menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Islam dahulu, hingga pada Kesultanan Turki Utsmani, umat Yahudi dan Nasrani hidup berdampingan dengan aman dan damai, termasuk di wilayah Palestina. Toleransi beragama terjaga dengan baik, dan hak-hak minoritas dilindungi sepenuhnya.

Namun, situasi ini berbeda dengan kondisi di beberapa negara lain. Menurutnya, di sejumlah negara, komunitas Kristen justru tidak menyukai orang Yahudi karena dianggap sering menciptakan masalah sosial dan ekonomi. Prasangka dan konflik komunal yang berakar pada kepentingan politik dan ekonomi ikut mewarnai hubungan antaragama di kawasan tersebut.

Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan

Dr. Muslim Imran juga menyoroti kemunculan gerakan politik Zionisme pada awal tahun 1900-an yang secara spesifik menargetkan Palestina sebagai lokasi pemukiman utama bagi bangsa Yahudi. Gerakan ini tidak lahir dari ruang kosong, ia didukung oleh jaringan internasional yang kuat dan mendapatkan momentum setelah deklarasi Balfour 1917 serta mandat Inggris atas Palestina.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa tidak semua orang Yahudi mengikuti gerakan Zionisme. Fakta ini sering diabaikan dalam narasi dominan. Sebaliknya, ada pula kalangan non-Yahudi, bahkan Muslim, yang justru mendukung proyek Zionisme.

Fenomena inilah yang kemudian ia sebut sebagai “Zionisme Muslim,” yaitu dukungan dari kalangan Muslim terhadap eksistensi dan perluasan Israel, baik karena faktor politik, ekonomi, maupun hubungan diplomatik.

Menurutnya, fenomena ini penting untuk dipahami agar umat Islam tidak terjebak dalam generalisasi yang keliru. Dukungan terhadap Zionisme tidak selalu datang dari pihak Yahudi, bisa juga datang dari saudara seaqidah yang memiliki kepentingan dan agenda politik tersendiri.

Baca Juga: Presiden Prabowo Copot Listyo Sigit dari Kepala Staf Kepresidenan Usai Ditetapkan Tersangka Penyadapan

Selain Muslim Imran, sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, yaitu Dubes Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari, Prof. Yon Machmudi (Akademisi dan Pengamat Politik Timur Tengah dari UI), Prof. Suzie Sri Suparin Sudarman (Pakar Hubungan Internasional), Dr. Nasruddin Djoko Surjono (Kepala Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta), dan Wanda Hamidah (Aktivis).

Kehadiran para tokoh ini menunjukkan bahwa isu Palestina bukanlah isu yang jauh dan asing. Ia adalah isu kemanusiaan yang melibatkan seluruh elemen bangsa. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: BPOM Ungkap Sejumlah Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Rekomendasi untuk Anda