Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - 20 jam yang lalu

20 jam yang lalu

429 Views ㅤ

konser Israel Houghton bersama Israel & New Breed (foto: The Christian Beat)

NAMA Israel Houghton mendadak menjadi perhatian publik Indonesia. Bukan semata karena musik gospel yang membesarkan namanya di Amerika Serikat, tetapi karena sikapnya terhadap Israel yang dinilai sensitif di tengah tragedi kemanusiaan Palestina.

Pemerintah Indonesia pada Senin (5/10) memastikan tidak akan memberikan izin bagi konser Israel Houghton bersama Israel & New Breed yang sedianya digelar di Jakarta pada 24 Oktober 2026.

Siapa Israel Houghton?

Israel Houghton merupakan penyanyi, penulis lagu dan musisi gospel Amerika Serikat yang dikenal melalui grup Israel & New Breed. Kariernya di musik Kristen berlangsung selama puluhan tahun dan membawanya ke panggung internasional. Ia juga telah meraih sejumlah penghargaan Grammy, termasuk penghargaan pada 2026 untuk kategori Best Contemporary Christian Music Album.

Namun, di luar prestasi musik, ia menyatakan dukungan kepada Israel melalui unggahan media sosial pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke Israel.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan munculnya sensitivitas publik terhadap rencana konsernya di sejumlah negara. Namun, dukungan kepada Israel secara terbuka tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa seseorang menganut seluruh doktrin Christian Zionism.

Ketika Musik Bersinggungan dengan Zionisme

Christian Zionism merupakan aliran musik keagamaan-politik yang berkembang di kalangan Protestan evangelikal konservatif. Sejumlah kajian akademik menjelaskan bahwa penganutnya memandang berdiri dan berkembangnya Israel sebagai bagian dari penggenapan nubuat Alkitab. Sebagian kelompok juga menghubungkan keberadaan Israel dengan keyakinan tentang akhir zaman dan kedatangan kembali Yesus.

Karena itu, dukungan terhadap Israel di lingkungan evangelikal Amerika memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar politik luar negeri. Ia dapat bersinggungan dengan keyakinan teologis, lobi politik, bantuan finansial hingga aktivitas sosial dan keagamaan.

Namun demikian, tidak semua orang Kristen yang mendukung Israel dapat dikategorikan sebagai Christian Zionist. Dalam kasus Houghton, yang terverifikasi secara publik adalah dukungannya terhadap Israel, bukan deklarasi teologis bahwa dirinya merupakan penganut Christian Zionism.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Kontroversi juga muncul di Malaysia. Kepolisian Sabah pada September 2026 merekomendasikan agar konser Houghton ditunda apabila permohonan resmi diajukan.

Polisi menyebut telah menerima dua laporan masyarakat dan mempertimbangkan sensitivitas publik terhadap sikap Houghton mengenai Israel. Rangkaian konser di Sabah direncanakan berlangsung pada 22-25 Oktober sebagai bagian dari tur internasionalnya.

Sikap Indonesia terhadap Palestina

Di Indonesia, pemerintah mengambil keputusan lebih tegas. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan pemerintah tidak akan memberikan izin konser tersebut.

Pemerintah menyatakan pertimbangannya adalah keamanan dan kekhawatiran kegiatan itu dimanfaatkan sebagai kampanye politik yang bertentangan dengan posisi Indonesia terhadap Palestina. Yusril menegaskan keputusan tersebut bukan karena agama Houghton maupun profesinya sebagai musisi gospel.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Sikap tersebut sejalan dengan posisi resmi Indonesia yang terus menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan penegakan hukum internasional.

Pemerintah Indonesia pada Agustus 2026 kembali menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, termasuk terkait Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa. Presiden Prabowo Subianto juga berulang kali menegaskan komitmen Indonesia untuk membantu perjuangan rakyat Palestina.

Pada akhirnya, polemik Israel Houghton bukan sekadar persoalan boleh atau tidaknya sebuah konser. Ia menjadi pengingat bahwa seni, agama, politik dan kemanusiaan kadang bertemu dalam satu ruang yang sangat sensitif. Dukungan kepada Palestina tidak berarti membenci agama atau bangsa tertentu.

Ia adalah keberpihakan kepada keadilan, kemerdekaan dan hak sebuah bangsa untuk hidup bermartabat. Karena itu, di tengah derasnya informasi dan propaganda, mari terus menjaga kepedulian, menyuarakan penderitaan rakyat Palestina, membantu sesuai kemampuan, dan tidak membiarkan Gaza serta Palestina dilupakan dunia. []

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda