Tel Aviv, MINA – Sistem pertahanan udara Israel Iron Dome kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis menyebut teknologi mahal tersebut dapat ditembus oleh serangan drone berbiaya jauh lebih murah.
Fenomena ini memunculkan perdebatan baru tentang efektivitas sistem pertahanan canggih Israel dalam menghadapi taktik perang asimetris di Timur Tengah. Al-Jazeera melaporkan, Ahad (8/3).
Iron Dome dikenal sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling canggih di dunia yang dirancang untuk mencegat roket jarak pendek, drone, dan proyektil lainnya. Sistem ini menggunakan rudal pencegat Tamir yang mampu menghancurkan target di udara sebelum mencapai wilayah permukiman.
Namun biaya satu rudal pencegat diperkirakan berkisar antara 40.000 hingga 100.000 dolar AS (Rp600 juta hingga Rp1,6 M) per tembakan. Sedangkan drone Iran hanya seharga 20.000 hingga 50.000 dolar AS (Rp320 juta hingga Rp800 juta) saja.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Dalam sejumlah analisis militer, serangan menggunakan drone murah dinilai dapat menciptakan ketimpangan biaya dalam perang modern. Drone tempur sederhana dapat diproduksi dengan harga relatif rendah, sementara setiap upaya pencegatan oleh sistem pertahanan udara memerlukan biaya yang jauh lebih besar.
Kondisi ini membuat negara atau kelompok bersenjata dapat menekan sistem pertahanan lawan melalui serangan massal berbiaya rendah.
Para pengamat menyebut strategi tersebut sebagai perang asimetris, yakni ketika pihak yang lebih lemah secara teknologi memanfaatkan metode murah namun efektif untuk mengimbangi kekuatan militer yang lebih maju.
Serangan drone secara berkelompok atau dalam jumlah besar dapat membebani sistem radar dan peluncur rudal, sehingga meningkatkan kemungkinan beberapa proyektil lolos dari intersepsi.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Meskipun demikian, Iron Dome selama ini diklaim memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam mencegat roket dan drone yang mengarah ke wilayah padat penduduk.
Sistem ini merupakan bagian dari jaringan pertahanan berlapis Israel bersama sistem David’s Sling dan Arrow, yang dirancang untuk menghadapi berbagai jenis ancaman mulai dari roket jarak pendek hingga rudal balistik.
Para analis menilai perkembangan teknologi drone dan senjata murah kemungkinan akan terus menantang sistem pertahanan udara modern di masa depan.
Situasi ini menunjukkan bahwa dalam konflik modern, faktor strategi, efisiensi biaya, dan taktik serangan massal dapat menjadi penentu penting selain keunggulan teknologi militer. []
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic