Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saudi Cari Dukungan Hadapi Houthi, Israel Tawarkan Bantuan Militer

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 15 September 2026 - 03:06 WIB

Selasa, 15 September 2026 - 03:06 WIB

100 Views ㅤ

Serangan Houthi Yaman ke Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Riyadh, MINA – Israel memberi sinyal siap memainkan peran militer yang lebih besar dalam menghadapi kelompok Houthi di Yaman, saat Arab Saudi mencari dukungan militer.

Namun, Arab Saudi dinilai kecil kemungkinan menerima keterlibatan langsung Israel, meskipun Amerika Serikat (AS) sejauh ini enggan melakukan intervensi militer secara langsung.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menawarkan bantuan kepada negara-negara di Semenanjung Arab sebagai bagian dari upaya menghadapi Houthi.

Tawaran tersebut muncul ketika Arab Saudi mencari dukungan militer lebih besar untuk menghadapi ancaman kelompok tersebut. New Arab melaporkan, Senin (14/9).

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Sementara itu, Washington sejauh ini lebih memilih memberikan dukungan berupa berbagi informasi intelijen dan bantuan penargetan, tanpa melakukan intervensi langsung.

Perkembangan tersebut terjadi setelah Houthi meningkatkan pengaruhnya di sepanjang pantai Laut Merah Yaman, termasuk menguasai Pulau Perim atau Mayyun yang berada di Selat Bab al-Mandab, jalur strategis antara Yaman dan Djibouti.

Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi di kawasan Laut Merah dilaporkan mengalami kemunduran serius menghadapi serangan Houthi.

Pengamat keamanan Timur Tengah dari King’s College London, Dr. Andreas Krieg, mengatakan keengganan AS untuk terlibat secara langsung memang dapat membuka ruang bagi Israel dalam konteks militer yang terbatas. Namun, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan terbentuknya aliansi keamanan baru antara Saudi dan Israel.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

“Riyadh tidak ingin beralih dari ketergantungan pada Washington ke arsitektur keamanan Israel,” ujar Krieg.

Menurutnya, Arab Saudi semakin memandang Israel sebagai salah satu pihak yang turut menciptakan ketidakstabilan kawasan. Karena itu, meskipun terdapat kemungkinan kesamaan kepentingan secara taktis dalam menghadapi Iran atau Houthi, hal tersebut berbeda dengan memberikan kepercayaan kepada Israel untuk menjamin keamanan Kerajaan.

Kepentingan Israel di Bab al-Mandab

Israel memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan Selat Bab al-Mandab. Selat yang memiliki lebar sekitar 30 kilometer pada titik tersempitnya itu menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Bagi Israel, jalur tersebut juga menjadi akses maritim yang menghubungkan pelabuhan Eilat di Laut Merah dengan Samudra Hindia.

Serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial setelah pecahnya perang di Gaza telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah. Israel sendiri berulang kali melancarkan serangan terhadap sasaran di Yaman sebagai respons atas serangan rudal dan drone Houthi.

Krieg menilai Israel memiliki sejumlah kemampuan yang berpotensi ditawarkan kepada negara-negara Arab, antara lain intelijen, pengawasan dan pengintaian, perang elektronik, kemampuan siber, serta teknologi penargetan.

Israel juga memiliki pengalaman dalam menghadapi rudal dan drone serta menyerang infrastruktur komando dan kendali.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Namun, menurut Krieg, persoalan utama Arab Saudi bukan kekurangan kekuatan militer.

“Masalah Saudi bukan terutama kekurangan pesawat atau bom. Ini bersifat politik dan strategis,” katanya.

Serangan udara, lanjutnya, memang dapat menghancurkan peluncur rudal, gudang senjata, dan pusat komando. Namun, serangan tersebut tidak akan secara permanen mengusir Houthi dari Bab al-Mandab atau menguasai wilayah Yaman.

Arab Saudi telah mengalami persoalan serupa ketika memimpin intervensi militer terhadap Houthi sejak 2015. Bertahun-tahun serangan udara dan pertempuran tidak berhasil mengalahkan kelompok tersebut. Sebaliknya, Houthi tetap menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman dan terus mengembangkan kemampuan rudal serta drone.

Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun

Saudi Hadapi Ancaman di Dua Jalur Laut

Kebangkitan kembali Houthi menempatkan Riyadh pada persoalan strategis yang semakin rumit. Keamanan dua jalur maritim utama yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar internasional kini sama-sama menghadapi ancaman.

Di sebelah timur, Iran memiliki kemampuan mengancam pelayaran melalui Selat Hormuz. Sementara di sebelah barat, pengaruh Houthi di sekitar Bab al-Mandab memberikan tekanan terhadap jalur Laut Merah.

Pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang dirancang sebagai jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz dengan membawa minyak menuju pantai Laut Merah juga menunjukkan kerentanannya setelah pernah menjadi sasaran serangan drone.

Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa

Dalam kondisi tersebut, keterlibatan langsung Israel justru berpotensi menambah persoalan bagi Riyadh.

Krieg memperingatkan bahwa bantuan terbuka Israel dapat memperkuat narasi Houthi bahwa Arab Saudi merupakan bagian dari koalisi Israel-Amerika. Hal tersebut dapat meningkatkan biaya politik bagi Saudi, baik di dalam negeri maupun di tingkat regional.

Keterlibatan Israel juga berpotensi membuat infrastruktur Saudi dipandang sebagai sasaran yang lebih sah oleh Iran dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya di kawasan.

Saudi Cari Arsitektur Keamanan Baru

Baca Juga: AS Tempatkan Rudal Anti-Kapal di Pulau Yonaguni, Jepang, Titik Terdekat Taiwan

Meskipun demikian, bentuk kerja sama tidak langsung masih mungkin terjadi, khususnya melalui pertukaran intelijen yang disalurkan melalui AS.

Pasukan Saudi dan Israel juga dapat beroperasi secara terpisah menghadapi ancaman yang sama. Namun, menurut Krieg, operasi yang berjalan secara paralel tidak otomatis berarti terbentuknya aliansi atau koordinasi militer yang erat.

Sebaliknya, Riyadh tampaknya sedang berupaya membangun arsitektur keamanan yang lebih beragam di tengah meningkatnya keraguan terhadap kesediaan Washington menanggung biaya pertahanan para mitra Teluknya.

Krieg menyebut Pakistan, Turki, dan Mesir, serta mitra maritim Eropa dan kerja sama keamanan yang lebih luas di antara negara-negara Teluk dan Arab-Islam, sebagai kemungkinan komponen dalam strategi Saudi mengurangi ketergantungannya terhadap Washington.

Baca Juga: PM Al-Zaidi: Lima Faksi Bersenjata Irak Sepakat Serahkan Senjata, Batas Waktu 30 Juni 2027

“Pelajaran yang tampaknya diambil Riyadh bukanlah bahwa Israel harus menggantikan Amerika Serikat,” ujar Krieg.

“Pelajarannya adalah Arab Saudi membutuhkan sistem keamanan yang jauh lebih beragam, di mana mereka memiliki kendali yang lebih besar.”

Dengan demikian, kesediaan Israel untuk membantu menghadapi Houthi menunjukkan adanya titik temu kepentingan antara Israel dan Arab Saudi, khususnya dalam menjaga keamanan Laut Merah. Namun, kesamaan kepentingan tersebut belum tentu membawa kedua negara menuju aliansi strategis.

“Menggantikan ketergantungan Amerika dengan ketergantungan Israel tidak akan mewakili otonomi strategis,” kata Krieg.

Baca Juga: 68.000 Aksi Pro-Palestina Digelar di Eropa Selama Tiga Tahun

“Dari perspektif Saudi, mereka hanya akan menukar satu kerentanan dengan kerentanan lain, dan berpotensi dengan kerentanan yang jauh lebih berbahaya secara politik.” []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pesan Politik di Balik Pengiriman Jet Temput Aljazair Ke Niger

Rekomendasi untuk Anda