Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakta Mekkah Langkah Awal Menuju Kemandirian Pertahanan Timur Tengah

Redaksi Editor : Arif R - Senin, 31 Agustus 2026 - 06:11 WIB

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:11 WIB

40 Views ㅤ

Pakta Pertahanan Arab Saudi - Turkiye - Pakistan. (Egypt Independent)

Oleh Asep Fathulrahman, Pemerhati Dunia Islam, Tinggal di Serang, Banten

ESKALASI perseteruan antara Amerika Serikat (di bawah administrasi Donald Trump) dan Iran telah memicu guncangan hebat pada harga energi global. Kondisi ini memaksa negara-negara Teluk untuk mengevaluasi ulang arsitektur keamanan mereka dan mulai mencari mitra pertahanan alternatif di luar bayang-bayang Washington.

Dalam lanskap yang dinamis ini, Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), telah berani mengambil langkah taktis dengan memperluas kerja sama bilateralnya dengan Pakistan yang sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2025, untuk ditambah Turki. Maka pada 7 Agustus 2026, Pakta Makkah resmi diteken sebagai perjanjian pertahanan trilateral antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Kehadiran Pakta Makkah langsung dianggap tandingan Abraham Accords—kesepakatan normalisasi diplomatik yang dikampanyekan Yahudi menantu Trump, Jared Kustner, sejak tahun 2020. Pakta Makkah dan Abraham Accords kini merepresentasikan dua arsitektur keamanan serta visi geopolitik yang saling bersaing ketat di Timur Tengah. Keduanya menawarkan pendekatan yang bertolak belakang dalam merespons instabilitas kawasan dan memenuhi kebutuhan pertahanan nasional masing-masing aktor.

Baca Juga: Siapa Israel Houghton? Musisi yang Dilarang Tampil di Indonesia

Makna Strategis Pakta Makkah

Terlepas dari hitung-hitungan ke depannya akan seperti apa, Pakta Makkah secara unik menghubungkan tiga kawasan yang sangat strategis secara global: Timur Tengah (diwakili oleh Arab Saudi), Eropa-Kaukasus (diwakili oleh Turki), dan Asia Selatan-Tengah (diwakili oleh Pakistan).

Karakteristik paling menonjol sekaligus keunggulan utama dari Pakta Makkah adalah komplementaritas atau perbedaan kemampuan yang saling melengkapi. Ketiga negara membawa aset strategis yang berbeda ke dalam satu meja perundingan, membentuk sebuah kekuatan kolektif yang unik:

Arab Saudi: Menyumbang keunggulan finansial, likuiditas modal, investasi skala besar, serta posisi sentral sebagai produsen energi dunia.

Baca Juga: Mengapa 5 Oktober Diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Ini Sejarah dan Tantangannya

Pakistan: Pemilik senjata nuklir, memiliki kemampuan militer konvensional yang masif, pengalaman tempur yang luas, serta daya tangkal strategis (strategic deterrence) melalui kapabilitas hulu ledak nuklir yang dimilikinya.

Turki: Menopang pakta dengan industri pertahanan domestik yang sangat maju dan mandiri, pengalaman operasional modern, serta standar militer tinggi yang terafiliasi dengan NATO.

Perpaduan karakteristik dan postur pertahanan “tiga sekawan” ini jelas lebih menjanjikan bagi siapa pun yang menatapnya, ketimbang prospek “Abraham Accord” yang jelas-jelas merupakan jebakan diplomatik kasar karena mensyaratkan normalisasi hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Israel didalamnya.

Pakta Makkah lahir dari akumulasi keraguan akut Riyadh terhadap keandalan jaminan perlindungan militer AS. Ketidakmampuan Washington dalam memitigasi eskalasi serangan rudal dan drone di wilayah Teluk dalam beberapa tahun terakhir memaksa Arab Saudi melakukan manuver diversifikasi aliansi.

Baca Juga: Melemahnya Rial Iran Secara Tajam: Bagaimana WNI Mengantisipasinya?

Riyadh memilih beralih kepada kekuatan regional intra-Muslim yang memiliki komitmen lebih langsung, daripada terus bergantung pada dinamika politik domestik Washington yang inkonsisten.Sebaliknya, Abraham Accords justru mempertegas ketergantungan negara-negara anggotanya pada arsitektur keamanan rancangan AS, sekaligus memposisikan Israel sebagai jangkar militer lokal yang disokong penuh oleh kekuatan Barat.

Secara geopolitik, Pakta Makkah memberikan legitimasi ganda bagi Arab Saudi. Riyadh kini tidak hanya bertindak sebagai pelindung ekonomi Teluk, melainkan juga memantapkan dirinya sebagai poros kepemimpinan politik-keamanan di dunia Muslim.

Namun, kehadiran pakta baru ini tidak luput dari gesekan taktis. Negara-negara tetangga di Teluk yang telah menandatangani Abraham Accords, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain dan Maroko, memandang langkah sepihak Riyadh di luar koridor formal GCC ini berpotensi mengubah peta kekuatan (balance of power) regional secara drastis, menimbulkan kompetisi pengaruh internal di lingkungan semenanjung Arab.

Namun bagi negara yang berpikir rasional dalam mempertahankan sikap kukuh untuk membela kemerdekaan Palestina, Pakta Makkah adalah jawaban paling masuk akal. Sedang mereka yang memilih bergabung dengan Abraham Accord, sepanjang masa harus memikul beban moral karena dicap sebagai pengkhianat akibat terjebak dalam normalisasi hubungan dengan Israel.

Baca Juga: Israel dan Pertarungan Narasi di Indonesia: Dari Hasbara hingga Media Sosial

Prospek, Tantangan, dan Transisi Krusial

Meskipun banyak pihak—termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas—menaruh harapan besar agar Pakta Makkah segera menjelma menjadi kekuatan baru yang mampu mengimbangi hegemoni AS-Israel, tantangan nyata justru terletak pada ranah implementasi empirisnya.

Pertanyaan krusialnya: Apakah kesepakatan ini akan efektif di lapangan atau hanya menjadi dokumen ideal di atas kertas?Tantangan terbesar bersumber dari keterikatan geopolitik masa lalu para anggotanya:

Pakistan: Relatif lebih bebas dan mandiri dalam memenuhi komitmen militernya dalam pakta ini karena memiliki kedekatan historis-strategis yang kuat dengan Riyadh.

Baca Juga: Refleksi 20 Tahun Ghazwah Fath Al-Aqsa: Dari Seruan Pembebasan hingga Global Sumud Flotilla

Turki: Berada dalam posisi dilematis karena statusnya sebagai anggota NATO, mitra Uni Eropa, sekaligus penjaga senior stabilitas geopolitik di kaukus Eropa-Asia.

Arab Saudi: Masih terikat dengan infrastruktur keamanan lama sebagai sekutu utama AS di Timur Tengah, penyedia pangkalan militer AS, serta pemimpin senior dalam GCC yang memiliki dinamika internal tersendiri.

Proses transisi dan adaptasi ini tidak akan mudah bagi Ankara maupun Riyadh. Namun, jika masa transisi ini mampu dilalui dengan mulus, terutama didorong oleh kesadaran bersama bahwa jaminan keamanan dan ekonomi dari AS sudah tidak lagi dapat diandalkan, maka Pakta Makkah memiliki potensi besar untuk bermutasi menjadi kekuatan strategis baru. Poros ini berpeluang menguasai koridor penting dari jantung Timur Tengah, Eropa Kaukasus, hingga Asia Selatan (yang selama ini didominasi India).

Perumpamaan bagi Saudi Arabia yang sudah turun temurun “tersandera” AS sejak awal negara itu berdiri, seperti orang yang disandera “preman” bertahun-tahun dan tak berdaya. Jangankan diharapkan bisa membela Palestina, sedang dirinya saja tersandera. Tiba-tiba preman nya itu babak belur “dipukuli” jagoan lokal (Iran).

Baca Juga: Iran di Tengah Tekanan Nuklir, Hormuz, Saudi dan Amerika

Maka itulah yang dilakukan Pangeran MBS, mendirikan Pakta Makkah bersama dua kolega strategis-nya. Keberanian itu muncul bukan karena rasa percaya diri semata, tapi kalau pun sampai Pakta Makkah dipermasalahkan AS, mudah sekali Pangeran MBS menjawab: “Anda saja tidak berdaya melawan Iran, anda tak berbuat apa-apa saat minyak kami dibombardir. Lalu apa yang bisa kami harapkan lagi dari AS?” Maka jelas, tidak mudah bagi AS untuk mengelak dari kenyataan pahitnya akibat “ditonjok” Iran itu.

Jadi qadarullah peristiwa memalukan bagi AS itu terjadi. Saudi langsung memanfaatkannya dengan membentuk Pakta Makkah. Jika momentum ini terjaga, terus dirawat dengan cerdas dan kompak bersama-sama Turki-Pakistan, tidak menutup kemungkinan negara-negara Muslim lainnya akan bergabung, menjadikan pakta ini sebagai salah satu penentu utama keseimbangan kekuatan global (global balance of power).

Pakta Makkah dan Abraham Accords berada pada titik nadir yang dikotomis. Jika Abraham Accords menawarkan narasi “perdamaian melalui normalisasi ekonomi dan integrasi poros pro-Barat/Israel,” maka Pakta Makkah hadir sebagai jawaban tandingan berupa “keamanan kolektif berdaulat berbasis solidaritas kawasan.”

Keberadaan Pakta Makkah secara langsung memperlambat, atau bahkan menghentikan, proyek ambisius perluasan pengaruh Abraham Accords di dunia Islam. Seiring dengan kian nyatanya inkonsistensi politik AS, daya tarik komoditas diplomasi Abraham Accords diprediksi akan semakin redup dan ditinggalkan. Indikasi ke arah itu terlihat dengan mendekatnya Yaman yang minta untuk bergabung.

Baca Juga: Dari Balfour hingga Gaza: Ketika Sekutu Lama Mulai Berjarak

Secara keseluruhan, meskipun lahir dalam kondisi geopolitik yang “tersandera” oleh komitmen-komitmen masa lalu, Pakta Makkah merupakan langkah awal yang revolusioner menuju kemandirian pertahanan kolektif antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Keberhasilan jangka panjangnya kini sepenuhnya bergantung pada konsistensi, adaptasi strategis, dan komitmen penuh ketiga negara dalam menghadapi dinamika global yang kian multipolar. Karena AS, Israel serta sekutu Barat lainnya tidak akan “berdiam diri” bila muncul kekuatan strategis baru di Timur Tengah, yang akan menjadi pesaing lebih-lebih akan menjadi ancaman bagi mereka. Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Nahkoda Baru PBNU: Akankah Gus Kikin dan Cak Imin Bersatu?

Rekomendasi untuk Anda