Jakarta, MINA – Duta Besar (Dubes) Sudan untuk Indonesia Yassir Mohamed Ali Mohamed mengajak komunitas internasional untuk melihat potensi ekonomi, investasi dan kekayaan alam Sudan di luar narasi konflik yang mendominasi pemberitaan media asing.
“Sudan adalah negara yang luas. Konflik hanya terjadi di wilayah barat, sementara sebagian besar wilayah lainnya, termasuk pusat pemerintahan, timur, dan selatan, tetap kondusif. Situasinya bisa dianalogikan seperti jarak Jakarta dengan Papua atau Aceh,” jelas Dubes Yassir di Jakarta, Rabu (4/2).
Ia menekankan, Sudan memiliki kekayaan alam yang melimpah, pertanian maju, dan cadangan mineral besar, menjadikannya salah satu negara terkaya di dunia.
“Ini adalah fakta yang sering luput dari pemberitaan. Sudan adalah produsen utama kacang-kacangan global, termasuk kedelai, dan memiliki sektor pertanian yang sangat produktif,” tambahnya.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Dubes Yassir juga menyoroti, narasi krisis yang terus digaungkan merupakan bagian dari agenda asing untuk melemahkan kedaulatan dan menguasai sumber daya Sudan.
Ia mengkritik dukungan persenjataan asing kepada kelompok Rapid Support Forces (RSF) yang justru memperpanjang ketidakstabilan.
“Dukungan asing terhadap RSF bukan lagi rahasia. Bahkan negara-negara Barat pun mengakuinya. Ini adalah bentuk intervensi yang jelas,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Yassir menegaskan komitmen Sudan untuk membuka peluang investasi dan kerja sama ekonomi, serta mengundang pihak internasional untuk terlibat dalam pembangunan negara di luar kerangka konflik.[]
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic