Khartoum, MINA – Militer Sudan melanjutkan operasi militernya di wilayah Kordofan dengan menguasai kawasan strategis Jabal al-Dayer di dekat Rahad, menyusul serangkaian operasi yang dilakukan dalam beberapa pekan terakhir di tengah konflik berkepanjangan dengan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Menurut laporan Mada Masr, Kamis (6/8), keberhasilan tersebut menyusul operasi sebelumnya yang mengembalikan kendali militer atas lima kota serta Jalan Saderat, jalur strategis yang menghubungkan Khartoum dengan wilayah Kordofan.
Sumber militer menyebutkan, perkembangan terbaru itu memperkuat posisi militer Sudan di wilayah selatan dan barat Kordofan Utara, sekaligus membuka akses menuju jalur-jalur yang mengarah ke daerah yang masih berada di bawah kendali RSF di Kordofan Selatan dan Kordofan Barat.
Seorang perwira senior militer mengatakan serangan udara terhadap sejumlah posisi RSF di Kordofan Utara dalam sepekan terakhir merupakan bagian dari persiapan operasi lanjutan menuju negara bagian tetangga.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sementara itu, pertempuran juga terjadi di wilayah Darfur Barat. RSF dilaporkan melancarkan serangan ke Bir Saliba dan Hagar al-Marfaeen yang berada di dekat perbatasan Chad.
Namun, pasukan militer Sudan bersama kelompok sekutunya menyatakan berhasil mempertahankan wilayah tersebut setelah pertempuran berlangsung lebih dari 12 jam.
Di Kordofan Selatan, bentrokan terjadi di Kauda, markas politik dan militer Sudan People’s Liberation Movement-North (SPLM-N) yang dipimpin Abdel Aziz al-Hilu, kelompok yang disebut bersekutu dengan RSF.
Bentrokan itu memaksa sebagian warga mengungsi atau bertahan di rumah masing-masing. Aktivitas pasar, sekolah, layanan publik, serta transportasi di Kauda dilaporkan terhenti.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Menurut laporan tersebut, konflik dipicu perselisihan yang telah berlangsung sejak 2022 terkait rencana SPLM-N mengubah batas administrasi dan pengaturan kepemilikan lahan di kawasan Pegunungan Nuba.
Perselisihan kemudian berkembang menjadi tuntutan masyarakat Otoro agar memperoleh representasi politik yang lebih besar dalam pemerintahan wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Di sisi lain, Sudan kembali mengalami pemadaman listrik nasional untuk ketiga kalinya dalam sepekan. Gangguan pada jalur transmisi yang terhubung dengan Bendungan Merowe menyebabkan terhentinya pasokan listrik di berbagai wilayah.
Para insinyur menjelaskan, kerusakan peralatan pengatur tegangan akibat serangan RSF pada tahun lalu, ditambah rusaknya pusat kendali jaringan listrik selama perang, membuat sistem kelistrikan nasional sangat rentan terhadap gangguan.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Sejumlah pejabat di sektor energi mengatakan rencana rehabilitasi jaringan listrik sebenarnya telah disusun beberapa bulan lalu, namun hingga kini belum dapat direalisasikan karena situasi konflik yang masih berlangsung.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic