Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspansi Senyap, Israel Caplok Wilayah Suriah Pasca Jatuhnya Assad

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 3 Februari 2026 - 06:39 WIB

Selasa, 3 Februari 2026 - 06:39 WIB

16 Views ㅤ

Ekspansi Senyap, Israel Caplok Wilayah Suriah Pasca Jatuhnya Assad
ilustrasi pasukan israel (foto : x)

Damaskus, MINA — Pasca jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah pada akhir Desember 2024, kekuatan militer Israel dilaporkan secara bertahap memperluas kendali atas wilayah-wilayah strategis di selatan Suriah, termasuk di luar zona penyangga resmi yang semula diawasi oleh United Nations Disengagement Observer Force (UNDOF).

Perkembangan ini memicu kekhawatiran baru di kawasan mengenai prospek stabilitas dan kedaulatan Suriah yang terus terguncang. Anadolu melaporkan, Selasa (3/2).

Berdasarkan analisis citra satelit dan laporan media internasional, pasukan Israel telah menguasai area seluas puluhan kilometer persegi ke dalam wilayah Suriah, termasuk zona barisan “Bravo” yang berada di sisi Suriah dari zona penyangga, sebuah wilayah yang semula dipisahkan oleh perjanjian gencatan senjata 1974.

Israel juga membangun berbagai pos militer dan infrastruktur pertahanan di titik-titik strategis seperti puncak Gunung Hermon.

Baca Juga: Presiden Nigeria Tinubu Masuki Ka’bah dan Shalat di Dalamnya

Langkah perluasan ini terjadi setelah ketidakstabilan politik dan militer menyusul runtuhnya rezim Assad, yang memungkinkan Israel untuk melangkah lebih jauh melewati batas perjanjian zona demiliterisasi yang telah bertahan puluhan tahun.

Beberapa titik yang dikuasai oleh pasukan Israel bahkan diperkirakan berada hanya sekitar 20 kilometer dari ibu kota Damaskus.

Sejumlah pihak internasional menilai perluasan kontrol ini melanggar ketentuan perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada 1974 antara Suriah dan Israel, meski pemerintah Israel berdalih bahwa langkah tersebut untuk mengamankan perbatasan dan mencegah ancaman militer dari kelompok bersenjata di selatan Suriah.

Aktivitas militer Israel di wilayah selatan Suriah juga telah memicu protes dari pemerintah Suriah dan kecaman dari beberapa negara Arab serta organisasi internasional yang menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara berdaulat.

Baca Juga: Prodi Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar Diminati 600 Mahasiswa

Sementara itu, isu ini menjadi satu lagi dimensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah yang berkaitan dengan kekuatan regional dan internasional.

Wilayah Dataran Tinggi Golan, yang menjadi salah satu titik sengketa utama antara Israel dan Suriah sejak Perang Enam Hari 1967, telah dicaplok oleh Israel pada 1981 dan dinyatakan sebagai bagian dari wilayahnya meskipun tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional.

Perjanjian gencatan senjata 1974 menciptakan zona buffer di sepanjang perbatasan yang dipantau oleh UNDOF, namun keruntuhan rezim Assad telah mengubah tatanan militer dan politik di Suriah sehingga memberikan peluang bagi Israel untuk menguatkan posisi militernya di wilayah tersebut. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sejak Agustus, 290.000 Warga Yaman Mengungsi Akibat Konflik

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Indonesia
Internasional
Info MINA