Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gabung GSF Jalur Diplomasi, Prof Sudarnoto Serukan Kekuatan Civil Society untuk Palestina

Arina Islami Editor : Rudi Hendrik - Senin, 20 April 2026 - 03:21 WIB

Senin, 20 April 2026 - 03:21 WIB

61 Views ㅤ

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim (Foto: Sidieq/MINA)

Tangerang, MINA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, menyerukan penguatan peran civil society dalam perjuangan membela Palestina melalui jalur diplomasi di The Global Sumud Parliamentary Congress yang jadi bagian dari Global Sumud Flotilla (GSF) 2026.

Menurut Prof Sudarnoto, sikap Zionis Israel yang tidak menunjukkan kepedulian terhadap berbagai upaya perdamaian justru menjadi dorongan bagi masyarakat sipil global untuk terus memperkuat gerakan solidaritas Palestina.

“Melihat perilaku Zionis Israel yang tidak peduli terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini, ini mendorong kita civil society (masyarakat sipil) untuk terus melakukan gerakan bersama membela Palestina,” ujarnya saat pelepasan ia dan sejumlah delegasi Indonesia ke Belgia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Ahad (19/4).

Ia menegaskan, keikutsertaan delegasi Indonesia dalam jalur diplomasi GSF di Brussels menjadi momentum penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak akan pernah berhenti memperjuangkan Palestina.

Baca Juga: Ketua Maemuna Center Indonesia: Palestina Ujian bagi Nurani

“Momentum di Brussels ini untuk memberikan gambaran kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia tidak akan berhenti membela Palestina, meskipun menghadapi berbagai kesulitan global,” katanya.

Sudarnoto menilai situasi global saat ini semakin tidak menentu, terutama dengan adanya konflik yang melibatkan Israel dan kekuatan Barat, sehingga memperkuat urgensi peran masyarakat sipil sebagai kekuatan global.

Ia menegaskan, perjuangan untuk Palestina harus terus dilakukan hingga Palestina merdeka dan Zionis Israel dihukum sesuai keputusan hukum internasional, termasuk Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mahkamah Internasional (ICJ).

“Keputusan ICC dan ICJ sudah ada, tetapi belum ada kekuatan negara yang mampu menghukum Israel. Karena itu, civil society harus menjadi kekuatan global,” tegasnya.

Baca Juga: Sarbini Abdul Murad: Panas di Monas Tak Seberapa Dibanding Gaza

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam memperkuat dukungan terhadap Palestina.

Pemerintah, menurutnya, harus tetap memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu Palestina.

“Pemerintah adalah mitra MUI. Tapi kalau pemerintah kurang peduli, maka kita harus mendorong agar menjadi peduli,” ujarnya.

Sudarnoto juga menyinggung sejumlah isu strategis, termasuk kedaulatan nasional, yang dinilai tidak boleh mengurangi komitmen Indonesia sebagai negara pembela Palestina.

Baca Juga: Ahmad Shobri Lubis, Ketua PA 212: Gaza Tetap Teguh, Palestina Segera Merdeka

Sementara itu, Prof Sudarnoto bersama pakar hukum tata negara Feri Amsari dan General Manager Dompet Dhuafa Arif Rahmadi Haryono bertolak ke Brussels, Belgia, Ahad (19/4), untuk mengikuti Konferensi Global Sumud Parlemen (The Global Sumud Parliamentary Congress) sebagai bagian dari jalur diplomasi GSF.

Selain itu, Guru Besar Fakultas Hukum UI Prof Heru Susetyo, serta pegiat HAM Gustika Hatta dan Wanda Hamidah juga dijadwalkan mengikuti konferensi tersebut pada 22 April 2026.

Para delegasi yang terlibat dalam GSF 2026, baik jalur diplomasi, laut, maupun darat, tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Anggota Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Irvan Nugraha, menjelaskan bahwa GSF dijalankan melalui berbagai jalur yang saling terhubung, mulai dari jalur laut, darat, hingga diplomasi politik.

Baca Juga: Ketua PP Wanita Islam: Dari Monas Kita Ketuk Pintu Langit untuk Kemerdekaan Palestina

“GSF ini merupakan satu kesatuan gerakan, dari jalur laut, darat hingga jalur politik untuk menembus blokade Gaza,” jelasnya.

Ia menegaskan, upaya menembus blokade Gaza membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk melalui tekanan politik internasional.

Konferensi Global Sumud Parlemen di Brussels akan diikuti oleh para ahli hukum internasional dan pegiat hak asasi manusia dari berbagai negara untuk membahas langkah hukum dalam melindungi misi GSF serta memperkuat dukungan global bagi Palestina.

Dalam pernyataannya, GPCI menyebutkan krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, dengan lebih dari 18.500 warga sipil membutuhkan perawatan medis yang sulit diakses akibat blokade Zionis Israel.[]

Baca Juga: Orasi Herman Budianto, Alumni Global Sumud Flotilla: Untuk Apa di Sini? Untuk Mendukung Palestina!

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda