Tel Aviv, MINA – Mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot muncul sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di tengah merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap pemimpin Israel tersebut.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan popularitas Netanyahu terus menurun menjelang pemilihan umum, sementara partai baru yang dipimpin Eisenkot memperoleh dukungan yang terus meningkat. KAN melaporkan, Sabtu (27/6).
Eisenkot, 66 tahun, dikenal sebagai mantan petinggi militer yang pernah memimpin angkatan bersenjata Israel dan belakangan memasuki dunia politik.
Melalui partai politik barunya, Yashar, ia berhasil menarik perhatian pemilih yang menginginkan perubahan kepemimpinan setelah Israel dilanda krisis berkepanjangan akibat perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, Yashar diperkirakan mampu bersaing ketat dengan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu, bahkan dinilai memiliki peluang lebih besar membentuk koalisi pemerintahan.
Menurunnya dukungan terhadap Netanyahu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kritik atas penanganan perang pasca-serangan 7 Oktober 2023, proses hukum yang masih membelitnya dalam kasus dugaan korupsi, hingga memburuknya hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Situasi tersebut dinilai mengikis kepercayaan sebagian masyarakat Israel terhadap kepemimpinan Netanyahu yang telah berkuasa selama bertahun-tahun.
Meski demikian, Eisenkot bukanlah figur moderat. Ia dikenal sebagai arsitek “Doktrin Dahiya”, strategi militer yang mengedepankan penggunaan kekuatan besar untuk menghancurkan wilayah yang dianggap menjadi basis musuh.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Doktrin tersebut menuai kritik luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia karena dinilai menyebabkan kerusakan besar terhadap kawasan sipil, terutama dalam konflik di Lebanon dan Gaza. Namun, di dalam negeri Israel, pendekatan keamanan yang keras masih mendapat dukungan dari sebagian pemilih.
Selain Eisenkot, sejumlah tokoh oposisi seperti mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Yair Lapid juga terus berupaya membangun kekuatan politik untuk mengakhiri dominasi Netanyahu.
Berbagai manuver politik, termasuk pembentukan aliansi baru dan komunikasi lintas partai, diperkirakan akan menjadi penentu arah pemerintahan Israel setelah pemilu mendatang.
Persaingan menuju kursi perdana menteri kali ini menjadi salah satu yang paling menentukan dalam sejarah politik Israel. Meski Netanyahu dikenal sebagai politikus yang kerap mampu bangkit dari tekanan politik, survei terbaru menunjukkan peluangnya mempertahankan kekuasaan semakin berat.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Hasil pemilu mendatang diperkirakan tidak hanya menentukan masa depan Netanyahu, tetapi juga arah kebijakan Israel terhadap konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk perang di Jalur Gaza. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic