Tel Aviv, MINA — Gelombang protes anti-pemerintah yang besar melanda Tel Aviv pada Sabtu (24/10), dengan puluhan ribu hingga lebih dari seratus ribu demonstran turun ke jalan.
Mereka menuntut pencopotan Benjamin Netanyahu dari jabatannya, menyerukan agar ia dipenjara, dan mendesak akuntabilitas politik atas kegagalan keamanan yang mengawali serangan 7 Oktober 2023. Dikutip dari One India, Ahad (25/10).
Aksi ini berlangsung hanya tiga hari sebelum pemilihan umum Israel pada 27 Oktober, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai referendum atas kepemimpinan Netanyahu.
Protes yang digelar di Hostages Square ini diorganisir oleh Dewan Oktober (October Council), sebuah kelompok yang didirikan oleh keluarga para korban dan sandera yang diculik pada 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
Mereka menuntut pembentukan komisi penyelidikan negara independen atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan Hamas, sesuatu yang selama ini ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.
Massa membawa berbagai poster dan meneriakkan slogan-slogan yang menggema di seluruh penjuru kota.
Salah satu seruan yang paling keras dan paling banyak dibagikan di media sosial Adalah, “Vote Him Out and Lock Him Up” (Pilih dia keluar dan kurung dia).
Seruan ini mencerminkan kemarahan publik yang telah menumpuk selama bertahun-tahun, bukan hanya terhadap kebijakan keamanan, tetapi juga terhadap berbagai kasus korupsi yang membelit Netanyahu.
Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel
“Siapa pun yang memimpin kita selama empat tahun terakhir telah melakukan pekerjaan yang sangat buruk. Israel tidak pernah berada dalam situasi seperti sekarang ini,” kata Hadas Feuershtein (68), seorang demonstran.
Kehadiran Tokoh Oposisi
Protes ini dihadiri oleh para pemimpin empat partai oposisi utama, termasuk Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Militer yang kini menjadi pesaing terberat Netanyahu.
Eisenkot disambut hangat oleh kerumunan, yang meneriakkan “Siapa yang datang? Perdana menteri berikutnya!”.
Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat
Seorang pemilih muda, Naama Bitterman (18), menyatakan harapannya bahwa pemilu dapat mengubah citra Israel di mata dunia yang tercoreng akibat perang berkepanjangan.
“Saya pikir jika kita menang, dan kita akan menang, kita bisa mengubah cara orang lain di seluruh dunia melihat kita,” ujarnya.
Jajak Pendapat: Persaingan Sengit
Jajak pendapat terakhir sebelum masa tenang menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Blok Netanyahu diperkirakan meraih 50 kursi, sementara blok oposisi yang dipimpin Eisenkot meraih 52 kursi dari total 120 kursi Knesset.
Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza
Tidak ada blok yang diproyeksikan mencapai mayoritas 61 kursi untuk dapat membentuk pemerintahan sendiri. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sembilan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic