GENERASI Z dan overthinking di era digital menjadi isu yang semakin banyak dibicarakan. Gen Z—yang lahir antara 1997 hingga 2012—tumbuh dengan paparan internet, media sosial, dan arus informasi tanpa batas. Di balik kemudahan tersebut, muncul dampak signifikan terhadap kesehatan mental, termasuk meningkatnya kecenderungan berpikir berlebihan.
Salah satu fenomena yang cukup menonjol adalah meningkatnya kecenderungan overthinking.
Overthinking merujuk pada kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, berulang-ulang, dan sering kali tanpa menghasilkan solusi. Hal-hal sederhana bisa terasa rumit karena dipenuhi berbagai kemungkinan, terutama skenario negatif. Pada Gen Z, kondisi ini kerap muncul dalam berbagai aspek kehidupan—mulai dari masa depan, karier, relasi sosial, hingga persoalan kecil sehari-hari.
Banjir Informasi dan Pikiran yang Tak Pernah Hening
Salah satu pemicu utama overthinking adalah information overload atau kelebihan informasi. Setiap hari, Gen Z terpapar berbagai konten dari media sosial, portal berita, hingga platform digital lainnya. Masalahnya, tidak semua informasi tersebut bersifat positif. Banyak di antaranya justru memuat isu-isu yang memicu kecemasan—seperti krisis ekonomi, konflik global, hingga bencana alam.
Baca Juga: Sehat di Usia Senja: 9 Tips Santai Menjaga Kesehatan Lansia
Dalam kajian Psikologi Kognitif, otak manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi, terutama yang bernuansa negatif. Ketika paparan ini terjadi terus-menerus, otak dapat masuk dalam kondisi hypervigilance—yakni keadaan siaga berlebihan yang membuat seseorang sulit merasa tenang dan cenderung terus berpikir tanpa henti.
Media Sosial dan Perbandingan yang Melelahkan
Peran media sosial juga tidak bisa diabaikan. Platform seperti Instagram dan TikTok kerap menampilkan potongan kehidupan yang tampak sempurna—mulai dari penampilan, gaya hidup, hingga pencapaian.
Tanpa disadari, hal ini memicu apa yang dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, lalu merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik. Perasaan ini kemudian berkembang menjadi kecemasan dan berujung pada overthinking.
Tekanan Ekonomi dan Ketidakpastian Masa Depan
Selain faktor sosial, tekanan ekonomi juga berkontribusi besar. Gen Z hidup di tengah situasi global yang tidak stabil: persaingan kerja semakin ketat, biaya hidup meningkat, dan masa depan terasa penuh ketidakpastian.
Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kehadiran teknologi seperti Artificial Intelligence turut menambah kekhawatiran baru. Banyak yang merasa cemas bahwa pekerjaan di masa depan akan tergantikan oleh mesin. Akibatnya, pikiran sering dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Hidup dalam Bayang-Bayang Krisis
Pengalaman hidup Gen Z juga tidak lepas dari berbagai krisis global. COVID-19 menjadi salah satu momen penting yang membentuk kondisi psikologis mereka. Pandemi membawa perubahan besar—mulai dari sistem pendidikan, interaksi sosial, hingga rasa aman terhadap masa depan.
Belum lagi isu perubahan iklim dan konflik geopolitik yang terus muncul dalam pemberitaan. Paparan ini secara tidak langsung membentuk pola pikir yang lebih waspada, bahkan cenderung mengantisipasi skenario terburuk.
Fase Pencarian Jati Diri yang Rentan Tekanan
Dari sisi perkembangan psikologis, Gen Z sebagian besar berada pada fase remaja hingga dewasa awal. Ini adalah masa pencarian identitas, membangun relasi, sekaligus menentukan arah hidup.
Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada
Secara alami, fase ini memang rentan terhadap tekanan mental. Ketika tekanan internal—seperti krisis identitas—bertemu dengan tekanan eksternal—seperti tuntutan sosial dan kondisi global—maka risiko kecemasan meningkat secara signifikan.
Kecemasan Sosial dan Pikiran yang Berulang
Fenomena lain yang cukup menonjol adalah kecemasan sosial. Banyak Gen Z merasa tidak nyaman dalam interaksi, takut dinilai, atau terlalu memikirkan kesalahan kecil.
Bahkan setelah percakapan selesai, mereka cenderung mengulang kembali kejadian tersebut di dalam pikiran—menganalisis apa yang sudah dikatakan dan apa yang seharusnya dilakukan. Proses ini menguras energi mental dan memperkuat pola overthinking.
Terbuka, Tapi Masih Terhambat
Di satu sisi, Gen Z dikenal lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang masih ragu untuk mencari bantuan. Stigma sosial, rasa malu, dan kekhawatiran akan penilaian orang lain masih menjadi penghalang.
Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi
Ironisnya, mereka juga hidup dalam tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja”, produktif, dan sukses—terutama di media sosial. Akibatnya, banyak yang memilih menyembunyikan kondisi sebenarnya.
Harapan di Tengah Kecemasan
Meski menghadapi berbagai tantangan, ada perkembangan positif yang patut diapresiasi. Kesadaran Gen Z terhadap pentingnya kesehatan mental semakin meningkat. Mereka mulai berani berbicara, mencari bantuan profesional, dan saling mendukung satu sama lain.
Kesadaran ini menjadi langkah awal yang penting untuk keluar dari lingkaran overthinking.
Mencari Jalan Keluar
Mengurangi overthinking bukan perkara instan, tetapi bisa dimulai dari langkah sederhana. Mengatur penggunaan media sosial, membatasi paparan informasi negatif, serta melatih kesadaran diri melalui teknik seperti mindfulness dapat membantu menenangkan pikiran.
Baca Juga: Pakai Masker: Menjaga Amanah Tubuh Titipan Allah
Di sisi lain, dukungan dari keluarga, lingkungan pendidikan, dan kebijakan publik juga sangat dibutuhkan. Ruang yang aman dan suportif menjadi kunci agar Gen Z dapat berkembang tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan. [Maylisa Mustika]
















Mina Indonesia
Mina Arabic