Gaza, MINA – Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pasien thalassemia di Jalur Gaza menghadapi kondisi yang mengancam jiwa di tengah runtuhnya sistem layanan kesehatan dan dampak genosida Israel yang terus berlanjut, bertepatan dengan Hari Thalassemia Sedunia.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu (9/5), kementerian tersebut menyatakan bahwa pasien thalassemia berjuang setiap hari untuk bertahan hidup akibat kelangkaan obat-obatan khusus, terbatasnya persediaan alat tes laboratorium, dan krisis ketersediaan kantong darah yang sangat dibutuhkan untuk pengobatan.
Menurut kementerian, sebanyak 50 pasien thalassemia dari total 334 pasien telah meninggal sejak perang dimulai. Sementara 47 pasien lainnya telah meninggalkan Gaza untuk mencari pengobatan ke luar. Angka ini menggambarkan betapa buruknya layanan medis di wilayah yang terkepung tersebut.
Kementerian menyebutkan bahwa saat ini 237 pasien masih tersisa di Gaza, termasuk 52 anak di bawah usia 12 tahun dan 185 pasien berusia di atas 12 tahun. Ini menunjukkan beban kesehatan yang terus berlanjut dan mempengaruhi berbagai kelompok usia.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Para pejabat kesehatan memperingatkan bahwa hancurnya infrastruktur laboratorium dan kurangnya alat diagnostik telah mengganggu pemeriksaan pencegahan dan pemantauan pengobatan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kasus-kasus baru thalassemia bisa tidak terdeteksi, sekaligus merusak upaya bertahun-tahun yang telah dilakukan untuk membatasi penyebaran penyakit ini.
Kementerian Kesehatan Gaza menyerukan kepada organisasi kesehatan internasional untuk segera mengintensifkan upaya intervensi dan fokus menyelamatkan pasien thalassemia di Gaza. Mereka memperingatkan bahwa kondisi saat ini mengancam tidak hanya nyawa pasien tetapi juga upaya pencegahan penyakit di masa depan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic