Jakarta, MINA – Gerakan solidaritas internasional Global Sumud Flotilla (GSF) mengumumkan perluasan besar-besaran misi kemanusiaannya ke Jalur Gaza pada Musim Semi 2026.
Lebih dari 3.000 relawan sipil dari lebih 100 negara, didukung lebih dari 100 kapal, akan terlibat dalam apa yang disebut sebagai aksi maritim sipil terbesar untuk Palestina hingga saat ini.
Misi tersebut tidak hanya berfokus pada pengiriman bantuan, tetapi menandai pergeseran strategis menuju kehadiran sipil internasional berkelanjutan untuk mendampingi warga Palestina di Gaza, yang hingga kini masih menghadapi dampak kehancuran infrastruktur sipil akibat agresi berkepanjangan dan blokade Israel.
Dalam pernyataan tertulis diterima MINA, Kamis (25/12), GSF menegaskan misi ini lahir sebagai respons langsung atas seruan rakyat Gaza yang mendesak perlindungan, bantuan, dan solidaritas nyata dari komunitas global .
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Lima Mandat Utama Misi Global Sumud Flotilla
Misi Musim Semi 2026 disusun berdasarkan lima mandat utama yang saling terkait. Pertama, menantang dan membantu mengakhiri blokade Gaza yang dinilai ilegal dan telah berlangsung selama puluhan tahun.
Blokade tersebut disebut sebagai bentuk hukuman kolektif yang memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan, kelaparan massal, dan kematian akibat perampasan kebutuhan dasar.
Kedua, pengiriman bantuan penyelamat jiwa, termasuk makanan, susu bayi, obat-obatan, perlengkapan medis, dan kebutuhan pendidikan, di tengah kondisi pasokan yang masih jauh dari mencukupi.
Ketiga, pembentukan kehadiran pelindung sipil tak bersenjata, di mana relawan terlatih akan mendampingi komunitas Palestina untuk mencegah kekerasan, mendokumentasikan pelanggaran, dan memperkuat mekanisme perlindungan warga sipil.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Mandat keempat adalah mendukung tahap awal rekonstruksi Gaza, dengan tim khusus yang akan tinggal dan bekerja bersama masyarakat Palestina untuk membangun kembali rumah, sekolah, rumah sakit, dan institusi sipil di bawah kepemimpinan lokal. Kelima, mengungkap dan menantang keterlibatan internasional yang memungkinkan blokade, pendudukan, dan pelanggaran hukum internasional terus berlangsung.
Anggota Steering Committee GSF, Saif Abukeshek, menyatakan misi ini muncul dari kegagalan komunitas internasional menjalankan mandat hukum dan moralnya.
“Selama puluhan tahun, pemerintah dan lembaga internasional mengklaim bertanggung jawab melindungi warga sipil dan menegakkan hukum internasional. Di Gaza, mandat itu diabaikan dan gagal secara fatal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sumeyra Ordu dari Steering Committee GSF menegaskan, flotilla ini menyatukan para ahli dan masyarakat sipil dari berbagai latar belakang dalam satu keyakinan bersama: tidak ada komunitas yang boleh dibiarkan menghadapi pengepungan dan kehancuran sendirian.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Armada 1.000 Tenaga Kesehatan
Sebagai bagian dari perluasan misi, GSF juga mengerahkan armada medis khusus yang membawa lebih dari 1.000 tenaga kesehatan internasional.
Kapal-kapal medis ini akan dilengkapi obat-obatan dan peralatan penyelamat jiwa untuk memperkuat layanan kesehatan Gaza yang nyaris lumpuh akibat blokade dan serangan berulang.
Juru bicara armada medis, Dr. Mohammed Mustafa, menegaskan bahwa misi ini bertujuan mendukung tenaga medis Palestina yang selama ini bekerja dalam kondisi ekstrem.
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
“Kami hadir untuk menopang keteguhan mereka dan memastikan kehidupan tetap dapat diselamatkan,” ujarnya.
GSF menilai bahwa meskipun misi ini hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan Gaza yang sesungguhnya, signifikansinya terletak pada model aksi sipil global yang berbasis hukum internasional, prinsip kemanusiaan, dan kepemimpinan Palestina.
“Misi ini bukan hanya tentang orang-orang di atas kapal, tetapi juga jutaan suara di seluruh dunia yang siap mengatakan ‘cukup sudah’ dan bertindak ketika pemerintah menolak bertanggung jawab,” kata Wael Nawar, anggota Steering Committee GSF.
GSF menyampaikan, keberangkatan misi akan dilakukan dalam beberapa tahap dalam beberapa bulan ke depan, dengan pengumuman lanjutan terkait pelabuhan keberangkatan di Mediterania dan delegasi yang terlibat.[]
Baca Juga: Marinir AS Ditangkap, Kemarahan Jepang Kembali Membara di Okinawa
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Tempatkan Rudal Anti-Kapal di Pulau Yonaguni, Jepang, Titik Terdekat Taiwan
















Mina Indonesia
Mina Arabic