Gugurnya Bayi Maria Al-Ghazali Beri Pesan Kejamnya Zionis Yahudi

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj News Agency (MINA)

Pasukan Zionis Yahudi Israel kembali menunjukkan kebiadabannya dengan membombardir Jalur Gaza, wilayah terkurung yang berpenduduk 2 juta jiwa.

Serangan sudah bermula sejak Jumat, 3 Mei 2019, yang mengalami puncaknya pada Sabtu. Hingga Ahad, 26 warga Palestina di Gaza gugur menjumpai syahid.

Di antara puluhan korban syahid tersebut, ada seorang bayi berusia empat bulan bernama Maria Ahmad Ramadan Al-Ghazali.

Maria wafat bersama ayahnya Ahmad Ramadan Al-Ghazali (31 tahun) dan ibunya Eman Abdullah Asraf (30 tahun), ketika apartemen Syeikh Zaid tempat keluarga itu tinggal dihantam rudal jet tempur Israel pada Ahad, 5 Mei 2019.

Apartemen Syeikh Zaid berlokasi di Beit Lahiya, Gaza utara, sekitar 200 meter dari Rumah Sakit Indonesia. Delapan korban cedera dalam serangan tersebut segera dibawa ke Rumah Sakit Indonesia untuk diobati.

Sehari sebelumnya, satu bayi yang berusia 14 bulan dan ibunya yang sedang hamil, menemui ajal ketika Israel melancarkan serangan udaranya.

Tidak cukup dua keluarga tersebut yang syahid menjelang bulan suci Ramadhan, seorang lagi perempuan Palestina yang sedang hamil syahid pada Ahad oleh serangan Israel.

Eskalasi kali ini adalah yang terburuk sejak perang 51 hari di Gaza tahun 2015. Merespon pembantaian Israel dengan dalih menyasar fasilitas milik kelompok perlawanan, Hamas dan Jihad Islam serta faksi perlawanan lainnya membalas dengan menembakkan lebih 600 roket ke wilayah Israel.

Serangan roket-roket para pejuang Palestina telah membunuh sedikitnya empat warga Yahudi dan melukai lebih 40 lainnya, terutama di Ashkelon yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza.

 

Mati satu tumbuh seribu

Bayi adalah salah satu kelompok rentan yang menjadi korban utama dalam setiap konflik perperangan di berbagai belahan dunia, termasuk perang-perang yang terjadi di Palestina, khususnya di Jalur Gaza yang diblokade.

Kelaparan, penyakit, dan kurangnya bantuan telah membunuh 300 bayi setiap hari di zona perang di seluruh dunia. Jumlah ini merupakan yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir menurut laporan lembaga Save the Children per 15 Februari 2019.

Berkaca kepada perang di Gaza pada 2014, jumlah kematian oleh serangan besar-besaran militer Israel diganti dengan jumlah kelahiran yang berlipat ganda.

Meskipun Zionis Yahudi Israel banyak membantai warga Muslim Gaza, tetapi populasi penduduk di wilayah kantong pantai itu tidak pernah surut, bahkan meningkat.

Ketika perang di Gaza 2014 memasuki hari ke-26, pihak Kementerian Kesehatan Palestina merilis laporan yang mencengangkan. Selama perang berlangsung telah merenggut korban jiwa 1.400 lebih warga Gaza, pada waktu yang sama juga telah lahir lebih dari 1.400 orang bayi di Gaza.

Fenomena ini terjadi bukan pertama kali, akan tetapi pada perang sebelumnya pada 2009 juga terjadi hal yang sama.

Sejak dimulainya Intifada Kedua pada September 2000, tentara Israel tak hentinya membunuh anak-anak Palestina. Ada sekitar 2.000 anak tak berdosa telah dihabisi oleh tentara Israel tersebut.

Selain dibunuh, banyak anak-anak yang mengalami penyiksaan hingga ditahan di penjara. Peristiwa ini tentu menjadi sorotan dunia betapa kejamnya para militer Israel. Sampai saat ini, belum ada yang bisa menghentikan kekejaman mereka.

Anak-anak Palestina menjadi target tentara Israel karena mereka berani melawan penjajahan Yahudi dan menjadi calon-calon pejuang yang hafal Al-Quran, yang kelak akan menjadi batu halangan bagi bangsa penjajah Yahudi Israel. (A/RI-1/RS1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)