SETIAP tahun, kita umat Muslim Indonesia terbiasa dengan tradisi halal bi halal. Bertemu, berjabat tangan, saling bermaafan, bersalam-salaman dalam antrean panjang. Tapi pernahkah kita bertanya, “Setelah acara usai, setelah tangan saling melepas, apa yang tersisa?”
Jika hanya seremoni, halal bi halal akan berlalu seperti angin. Tapi jika kita maknai sebagai ruang silaturahim untuk memperbaiki kualitas hubungan, maka ia bisa menjadi titik balik yang membawa berkah berkepanjangan.
Silaturahim sejati bukan diukur dari seberapa sering kita bertemu, tapi seberapa besar manfaat yang mengalir dari pertemuan itu.
Silaturahim bukan hanya menyambung tali persaudaraan yang terputus karena konflik, tapi juga komunikasi yang selama ini hanya basa-basi. Kita amenggunakan momen silaturahim ini untuk sungguh-sungguh memulihkan hubungan.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Silaturahim yang produktif adalah yang melahirkan aksi nyata. Setelah bertemu, tanyakan, “Apa yang bisa saya bantu?” Bisa berupa informasi pekerjaan, dukungan moral, atau sekadar mendengarkan keluh kesah dengan penuh perhatian.
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada Hari Kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya.” (HR Muslim).
marilah, kita jadikan silaturahim halal bi halal sebagai ruang belajar. Kita bisa saling berbagi pengalaman hidup, saling mengambil pelajaran dari tahun lalu. Dengan begitu, setiap pertemuan menjadi investasi ilmu, bukan sekadar konsumsi hidangan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Marilah kita bawa pulang dari silaturahim halal bi halal dengan membawa hikmah berupa hati yang lebih lapang, karena kita telah melepaskan beban dendam dan prasangka.
Kita jadikan hubungan yang lebih erat lagi, karena kita tidak hanya bersalaman, tapi juga berkomitmen untuk saling menjaga. Dan kita jadikan sebagai amal yang berkelanjutan, karena dari pertemuan itu lahir niat dan rencana nyata untuk terus berbuat baik.
Semoga halal bi halal tahun ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tapi menjadi momen kita benar-benar memaknai bahwa persaudaraan bukan sekadar kata, melainkan jembatan kebaikan yang kita rawat bersama.
Selamat memaknai hari kemenangan dengan silaturahim yang penuh berkah. []
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic