Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hamas Tegaskan Mau Pelucutan Senjata, Tapi Minta Jaminan Hentikan Serangan Israel

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:10 WIB

Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:10 WIB

24 Views ㅤ

Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya. (Palestine Chronicle)

Kairo, MINA – Hamas menegaskan sejumlah tuntutan dalam pembahasan rencana gencatan senjata Gaza setelah bertemu utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner, di Mesir, Ahad (16/8). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Washington menghidupkan kembali peta jalan perdamaian Gaza yang masih menemui kebuntuan.

Hamas menyatakan kesediaannya terhadap prinsip demiliterisasi Gaza, tetapi dengan sejumlah persyaratan. Kelompok tersebut menginginkan penghentian serangan Israel dan penarikan pasukan penjajah Israel terlebih dahulu. Anadolu melaporkan, Senin (17/8).

Dalam pertemuan di El-Alamein, Mesir, Kushner bertemu dengan pemimpin Hamas Khalil al-Hayya. Pertemuan langka tersebut membahas implementasi rencana 15 poin yang didukung AS, termasuk isu perlucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari Gaza, bantuan kemanusiaan, serta pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina.

Hamas juga menuntut penarikan pasukan Israel dari sekitar 60 persen wilayah Gaza yang saat ini masih berada di bawah kendali militer Israel.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Pertemuan itu berlangsung ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menolak peta jalan yang diajukan Washington. Netanyahu bersikeras bahwa pasukan Israel tidak akan ditarik dari Gaza sebelum Hamas benar-benar dilucuti.

Sikap tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam pelaksanaan tahap berikutnya dari rencana gencatan senjata.

Setelah bertemu Hamas di Mesir, Kushner kemudian melakukan pembicaraan dengan Netanyahu di Yerusalem. Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut disebut berlangsung serius dan konstruktif, tetapi belum menghasilkan terobosan.

Kedua pihak sepakat membentuk kelompok kerja yang membahas perlucutan senjata dan demiliterisasi Gaza serta persoalan kesehatan masyarakat, termasuk air bersih dan sanitasi.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Perkembangan tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara Hamas dan Israel mengenai urutan pelaksanaan kesepakatan. Hamas menginginkan penghentian serangan dan penarikan pasukan Israel sebagai bagian dari proses menuju demiliterisasi, sementara Israel menuntut perlucutan senjata Hamas lebih dahulu.

Karena itu, meskipun diplomasi AS terus bergerak melalui para mediator regional, implementasi rencana perdamaian Gaza masih menghadapi tantangan besar. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Rekomendasi untuk Anda