ADA satu ironi yang pelan-pelan menjadi wajah zaman ini: banyak yang mengaku beriman, tapi hidup seolah-olah tidak pernah benar-benar yakin akan adanya Hari Akhir. Bukan di lisan—karena lisan mudah mengucap—tetapi pada getaran hati, arah hidup, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.
Kita percaya surga dan neraka itu ada. Kita tahu ada hisab, ada mizan, ada catatan amal. Tapi entah mengapa, keyakinan itu sering hanya tinggal sebagai pengetahuan, bukan kesadaran yang menghidupkan.
Buktinya sederhana—dan justru karena itu sulit untuk diingkari.
Mengapa kita masih begitu cemas soal rezeki, seakan masa depan sepenuhnya di tangan manusia? Mengapa hati terasa gelisah ketika dunia terasa sempit, padahal kita tahu Allah adalah Maha Pemberi? Jika benar kita yakin akan perhitungan di akhirat, bukankah yang lebih kita takutkan adalah kekurangan amal, bukan kekurangan harta?
Baca Juga: Al-Aqsa Kiblat Pertama yang Tak Pernah Lepas dari Ingatan
Ada juga soal waktu. Kita sering berkata, “Nanti saja,” untuk hal-hal yang mendekatkan kepada Allah. Shalat ditunda, tilawah ditinggalkan, majelis ilmu dianggap tidak mendesak. Tapi untuk urusan dunia, kita begitu sigap, bahkan berlebihan. Seolah-olah hidup ini hanya tentang hari ini—bukan tentang hari yang jauh lebih panjang setelah kematian.
Padahal, orang yang benar-benar yakin akan Hari Akhir tidak akan mudah meremehkan waktu. Karena ia tahu, setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban.
Lalu tentang maksiat. Mengapa kita masih melakukannya dengan ringan? Kadang bahkan sambil tersenyum, tanpa rasa bersalah yang berarti. Seolah-olah tidak ada yang melihat. Atau mungkin kita tahu Allah melihat, tapi keyakinan itu tidak cukup kuat untuk menahan diri.
Di sinilah letak masalahnya. Bukan kita tidak tahu. Tapi kita belum benar-benar merasa diawasi.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Tempat Ibadah Umat Islam yang Terjajah
Ketika keyakinan kepada Hari Akhir melemah, hidup pun berubah arah. Ukuran benar dan salah menjadi kabur. Yang penting nyaman, yang penting senang, yang penting tidak rugi di dunia. Padahal, orang yang yakin akan akhirat akan rela kehilangan sesuatu di dunia, demi menyelamatkan dirinya di sana.
Kita juga mudah mengeluh. Sedikit ujian, langsung merasa berat. Sedikit kesulitan, langsung bertanya “Kenapa aku?” Padahal, jika benar kita yakin bahwa semua akan dibalas dengan adil di Hari Akhir, bukankah sabar akan terasa lebih ringan? Bukankah setiap luka akan terasa bermakna?
Mungkin kita lupa bahwa dunia ini bukan tempat tinggal, tapi tempat singgah. Bukan tempat pembalasan, tapi tempat penilaian.
Akhirnya, yang paling terlihat adalah minimnya amal. Kita ingin surga, tapi usaha kita biasa saja. Kita takut neraka, tapi tidak sungguh-sungguh menjauhinya. Kita tahu perjalanan ini panjang, tapi bekal yang kita siapkan begitu sedikit.
Baca Juga: Menyelami Makna Ulul Albab dalam Al-Qur’an
Seperti seorang musafir yang tahu akan menempuh perjalanan jauh, tapi berangkat tanpa persiapan. Bukan karena tidak tahu, tapi karena merasa “masih ada waktu.”
Padahal, waktu tidak pernah memberi jaminan.
Zaman ini memang penuh distraksi. Dunia begitu bising. Segala sesuatu dibuat cepat, instan, dan dangkal. Kita disibukkan dengan hal-hal yang membuat lupa tujuan utama. Bahkan, terkadang kita lebih takut kehilangan sinyal internet daripada kehilangan iman.
Di tengah semua itu, keyakinan kepada Hari Akhir perlahan memudar—bukan hilang sepenuhnya, tapi cukup samar untuk membuat kita lalai.
Baca Juga: Setelah 40 Hari Tertutup, Betapa Haru Memasuki Kembali Masjid Al-Aqsa
Padahal, justru di akhir zaman seperti ini, keyakinan itulah yang seharusnya kita jaga mati-matian. Karena ia adalah kompas. Tanpanya, kita mudah tersesat, meski terlihat baik-baik saja.
Mungkin kita tidak perlu langsung berubah menjadi sempurna. Tapi kita bisa mulai dari hal kecil: menghadirkan kembali kesadaran bahwa setiap langkah kita sedang menuju satu pertemuan besar—pertemuan dengan Allah.
Bahwa setiap amal, sekecil apa pun, tidak akan sia-sia. Dan setiap dosa, sekecil apa pun, tidak akan luput dari catatan.
Bayangkan, jika hari ini adalah hari terakhir kita di dunia—apakah kita masih akan menunda kebaikan? Apakah kita masih akan meremehkan dosa? Atau justru kita akan bergegas memperbaiki diri, meminta ampun, dan mengisi waktu dengan sesuatu yang berarti?
Baca Juga: Menggugat UU Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina
Keyakinan kepada Hari Akhir bukan sekadar rukun iman yang dihafal. Ia adalah energi yang menggerakkan. Ia yang membuat seseorang tetap jujur saat tidak ada yang melihat. Ia yang membuat seseorang tetap sabar saat tidak ada yang memahami. Ia yang membuat seseorang tetap istiqamah meski dunia tidak memberi tepuk tangan.
Dan mungkin, yang kita butuhkan hari ini bukan tambahan pengetahuan—tapi penghidupan kembali keyakinan itu di dalam hati. Agar hidup ini tidak sekadar berjalan… tapi benar-benar menuju, wallahua’lam. []
Mi’raj News Agency (MINA)















Mina Indonesia
Mina Arabic