Interaksi Cinta Kita kepada Allah pada Bulan Ramadhan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA

Cinta merupakan emosi luar biasa yang masing-masing dari kita merasa sangat membutuhkan. Kita semua suka untuk mencintai dan untuk dicintai.

Semakin kita puas dengan diri kita sendiri dan semakin kita merasa bahwa kita dapat diterima oleh orang lain, maka akan semakin positif kita dalam menjalani hidup ini. Selanjutnya kita akan semakin mencintai orang yang telah memberikan energi potifif tersebut.

Kesempatan hadirnya bulan suci Ramadhan saat ini adalah momentum untuk menghirup wangi cinta yang terbesar, yaitu cinta Allah.  Karena cinta terbesar yang ada adalah cinta Allah kepada hamba-Nya, dan cinta hamba-Nya kepada Allah. Apalagi kalau kemudian dari cinta itu menumbuhkan saling ridha. Allah ridha kepada kita, dan kita pun ridha kepada Allah (radhiyallaahu ‘anhum warodhu‘anhu).

Adapun cinta itu tumbuh dari dalam hati yang tulus, tidak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Dan bukti cinta kita kepada Allah adalah melalui ibadah yang tulus ikhlas, tidak direka-reka, tidak mengharap pujian.

Melalui pengembangan cinta utama kepada Allah inilah, maka akan tumbuh taman cinta lainnya. Dimulai dari cinta kepada Rasul-Nya, cinta kepada keluarganya, para sahabatnya dan para orang-orang shalih.

Itulah maka dikatakan, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun adalah tanda kita mencintai Allah.

Seperti Allah sebutkan di dalam ayat:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran/3: 103).

Menjelaskan tentang ayat ini, di dalm Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Dosen Tafsir Universitas Islam Madinah mengatakan, bahwa barangsiapa yang mencintai Allah dengan sebenar-benar cinta, maka hendaklah ia dengan hatinya mencintai apa yang Allah dan Rasul-Nya cintai. Juga membenci apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jika ia melakukan suatu perbuatan yang menyalahi kecintaan Allah, maka sesunguhnya hal itu menandakan kurangnya cinta dalam dirinya. Maka hendaklah ia bertaubat kepada Allah dan kembali menyempurnakan cintanya.

Pada firman Allah : (قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي), disebutkan dengan lafadz ittiba’ yang manandakan kedekatan. Ini karena salah satu dampak dari cinta seseorang terhadap orang lain adalah terwujudnya kedekatan di antara keduanya. Demikian halnya kecintaan seseorang kepada Allah akan selalu bergantung kepada ittiba’ setiap hamba-Nya kepada Rasul-Nya.

Di dalam hadits disebutkan:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

Artinya: “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Begitulah kecintaan Allah kepada kita pada bulan Ramadhan ini dibuktikan dengan dilipatgandakannya segala amal kebaikan kita, diampuni segala dosa-dosa kita, diberikan kesempatan kita memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyaan, dst.

Tinggal kitanya, apakah kita membalas cinta Allah itu dengan kesungguhan kita dalam beribadah, dalam berjuang di jalan Allah, dan dalam amalan-amalan kebaikan?

Semoga bulan Ramadhan ini kita benar-benar dapat memaksimalkan wujud cinta kita kepada Allah, hingga Allah pun mencintai dan meridhai kita. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)