Teheran, MINA – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk, Senin (1/6) menyusul serangan udara Washington yang menargetkan sejumlah fasilitas militer Iran dalam beberapa hari terakhir.
Aksi saling serang itu menambah kekhawatiran dunia terhadap potensi meluasnya konflik regional yang melibatkan berbagai negara di kawasan. Press TV melaporkan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas operasi militer AS yang menghantam sistem pertahanan udara, fasilitas radar, dan pusat kendali drone Iran di wilayah pesisir selatan negara itu.
Pangkalan yang digunakan pasukan AS di kawasan Teluk menjadi target serangan rudal dan drone Iran, meskipun rincian lokasi yang terkena dampak belum diumumkan secara resmi oleh Teheran.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Sementara itu, otoritas Kuwait melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang melintas di wilayah negaranya. Sirene peringatan sempat dibunyikan di beberapa lokasi strategis sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Pemerintah Kuwait juga meningkatkan status kewaspadaan militer di tengah eskalasi yang terus berkembang.
Pemerintah AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) sebelumnya mengonfirmasi telah melakukan serangan terhadap target-target militer Iran. Washington menyebut operasi tersebut sebagai tindakan defensif setelah Iran menembak jatuh pesawat nirawak milik AS yang menurut pihak Amerika berada di wilayah udara internasional. Namun, Teheran menegaskan drone tersebut telah melanggar wilayah kedaulatan Iran.
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk mempertahankan gencatan senjata rapuh yang dicapai beberapa bulan lalu.
Negosiasi yang melibatkan sejumlah negara mediator berupaya meredakan ketegangan terkait program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Bentrokan terbaru berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama karena sejumlah pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk lainnya berada dalam jangkauan rudal Iran.
Selain memicu kekhawatiran keamanan regional, konflik yang terus berlanjut juga dikhawatirkan mengganggu distribusi minyak global dan mendorong kenaikan harga energi dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic