Teheran, MINA — Iran telah mempertahankan fasilitas utama manufaktur rudal dan drone meskipun terjadi serangan udara AS dan Israel selama berbulan-bulan.
Kondisi ini memungkinkan Teheran mengisi ulang persenjataannya, sementara Presiden Donald Trump menghentikan serangan besar menjelang pemilu paruh waktu November. Roya News melaporkan, Ahad (11/10).
Laporan tersebut disampaikan Bloomberg yang mengutip pejabat Barat. Para pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas penilaian pribadi mengatakan Teheran masih memiliki kapasitas untuk memproduksi senjata dan membangun kembali persediaannya.
Seorang pejabat menyatakan bahwa Iran tetap “lengkap” dengan rudal balistik dan beberapa senjata anti-kapal, dan “dapat dengan cepat menambah lagi.”
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Pejabat yang sama mengatakan Rusia menyediakan rudal kepada Iran, mengulangi penilaian sebelumnya dari bulan Juni.
Bertentangan dengan Klaim Trump dan Hegseth
Penilaian ini bertentangan dengan klaim berulang dari Trump dan pemerintahannya bahwa kampanye udara telah menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam pangkalan dan sekutu AS.
Trump menggambarkan militer Iran sebagai “benar-benar hancur,” sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan pada 30 September bahwa AS telah menghancurkan “kapasitas industri militer” Iran dan “seluruh pangkalan pertahanan mereka.”
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menolak penilaian para pejabat tersebut.
“Pertama, Presiden Trump menghancurkan fasilitas nuklir Iran selama Operasi Midnight Hammer,” katanya, merujuk pada serangan AS pada 2025.
“Kemudian, Operasi Epic Fury berhasil menghancurkan perisai konvensional yang ingin diciptakan Iran atas program nuklir, termasuk rudal balistik, fasilitas produksi, dan angkatan laut mereka.”
Iran Disebut Masih Punya 2.500 Rudal Balistik
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik sebelum konflik dimulai pada 28 Februari. Penilaian intelijen Barat hingga Juni menunjukkan Teheran masih memiliki sekitar tiga perempat amunisi pra-perangnya.
Analisis data publik dari Bloomberg Economics menemukan Iran telah meluncurkan lebih dari 4.000 drone Shahed dan setidaknya 2.000 rudal balistik sejak perang dimulai.
Pejabat mengatakan Iran mempertahankan kekuatan tembak yang cukup untuk membalas secara efektif jika AS melanjutkan serangan.
Iran juga telah meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di dekat Selat Hormuz, dengan setidaknya 10 kapal terkena serangan dalam sepekan terakhir menurut angkatan laut Inggris.
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
AS Disebut Dorong Israel Serang Iran
Secara terpisah, surat kabar Ibrani Maariv melaporkan bahwa AS baru-baru ini mendesak Israel untuk melakukan serangan tunggal terhadap Iran tanpa keterlibatan Amerika, dengan tujuan menghindari dampak politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu.
Laporan tersebut mengatakan Washington kemudian menarik diri dari tuntutan tersebut setelah kepala staf militer Israel Eyal Zamir memperingatkan bahwa mereka bisa memaksa penundaan pemilu Israel pada 27 Oktober.
Dua pejabat AS dan satu pejabat Israel membantah kepada Channel 12 bahwa AS telah membuat permintaan tersebut. []
Baca Juga: Demonstrasi di New Jersey Protes Ekspor Senjata ke Israel
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic