Teheran, MINA – Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tiba di Teheran pada Kamis untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir yang menjadi awal rangkaian upacara kenegaraan sebelum dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad.
Kedatangan jenazah disambut ribuan pelayat yang memadati lokasi seremoni sambil mengibarkan bendera Iran dan melantunkan doa serta slogan penghormatan kepada mendiang pemimpin yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade. Tasnim melaporkan, Jumat (3/7).
Prosesi penghormatan tersebut menjadi bagian dari agenda berkabung nasional yang telah disiapkan pemerintah Iran. Setelah upacara di Teheran, rangkaian penghormatan akan berlanjut di kota suci Qom sebelum jenazah dimakamkan di Mashhad pada 9 Juli mendatang.
Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan menghadiri berbagai tahapan prosesi tersebut, yang juga diikuti peningkatan pengamanan di sejumlah kota utama.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sejumlah delegasi asing dijadwalkan menghadiri upacara pemakaman, termasuk utusan dari China serta beberapa negara sahabat Iran.
Kehadiran para tamu internasional dipandang sebagai bentuk penghormatan diplomatik sekaligus menunjukkan perhatian dunia terhadap transisi kepemimpinan di Iran pasca wafatnya Khamenei.
Ayatollah Ali Khamenei wafat setelah menjadi korban serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik bersenjata yang pecah pada akhir Februari 2026.
Kepergiannya mengakhiri kepemimpinan selama sekitar 36 tahun sebagai Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Iran, jabatan yang memiliki otoritas tertinggi dalam sistem politik dan militer negara tersebut.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Pasca meninggalnya Khamenei, Majelis Khubregan (Assembly of Experts) menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai penerus kepemimpinan tertinggi Iran.
Dalam tradisi Iran, prosesi penghormatan kepada tokoh agama dan negara biasanya berlangsung dalam beberapa tahap dan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.
Pemerintah Iran menjadikan rangkaian pemakaman ini sebagai momentum untuk memperkuat persatuan nasional di tengah dinamika kawasan yang masih diwarnai ketegangan pascakonflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
Rangkaian upacara tersebut bukan hanya menjadi penghormatan bagi sosok yang memimpin Iran sejak 1989, tetapi juga menandai babak baru politik Republik Islam di bawah kepemimpinan baru, di tengah tantangan keamanan, diplomasi, dan pemulihan pascaperang. []
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic