Mashhad, MINA – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak menaruh kepercayaan kepada Amerika Serikat, bahkan ketika kedua negara terlibat dalam proses perundingan.
Pernyataan itu disampaikan saat menerima Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, beserta delegasi Indonesia di Mashhad, Jumat (10/7)
Delegasi resmi Indonesia bertolak ke Iran untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum Sayyid Ali Khamenei terdiri atas lima tokoh penting. Kelima utusan tersebut adalah Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Luar Negeri Sugiono, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Syafiq A Mughni, serta Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto.
Dalam pertemuan tersebut, Ghalibaf mengungkapkan bahwa sikap Iran terhadap Washington tidak berubah meski sempat berlangsung pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Pakistan dan Qatar di Swiss pada bulan lalu.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
“Kami tidak mempercayai Amerika. Selama negosiasi, saya telah menegaskan kepada wakil presiden AS bahwa kami tidak mempercayai kalian,” ujar Ghalibaf, dilansir Kantor Berita Iran, IRNA.
Ia menambahkan bahwa posisi tawar dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat hanya dapat dimiliki oleh pihak yang memiliki kesiapan untuk menghadapi konflik. “Menurut saya, hanya mereka yang siap berperang yang dapat bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” katanya.
Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak pernah menginginkan perang. Namun, menurutnya, negaranya memiliki kewajiban untuk mempertahankan kedaulatan dan menolak segala bentuk penindasan.
“Karena alasan ini, bangsa Iran tidak akan pernah tunduk pada penindasan,” tegasnya.
Baca Juga: Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 1.747 Personel Houthi
Dalam kesempatan itu, Ghalibaf juga menyinggung konflik yang menurutnya dimulai pada 28 Februari. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan NATO sempat meyakini Iran dapat dipaksa untuk menyerah melalui tekanan militer.
Namun, menurutnya, asumsi tersebut tidak terbukti. “Mereka dengan cepat menyadari bahwa mereka tidak akan mencapai tujuan mereka, dan dunia menyaksikan bahwa mereka gagal dalam mencapai tujuan mereka terhadap Iran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ghalibaf mengklaim bahwa Iran berhasil menggagalkan upaya mempertahankan dominasi Amerika Serikat selama perang yang berlangsung selama 40 hari. Ia juga menyebut tekanan ekonomi, politik, dan media yang dihadapi Washington serta Tel Aviv pada akhirnya membuat Amerika Serikat memilih mencari jalan menuju gencatan senjata. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Suriah Peringatkan Serangan Israel ke Wilayahnya Ancam Keamanan dan Stabilitas Kawasan
















Mina Indonesia
Mina Arabic