Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Siapkan Strategi Baru di Selat Hormuz Pasca Ultimatum Trump

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 7 April 2026 - 04:10 WIB

Selasa, 7 April 2026 - 04:10 WIB

38 Views ㅤ

Penasihat militer senior Iran, Mohsen Rezaei (foto: X)

Teheran, MINA – Iran dilaporkan menyiapkan strategi baru di Selat Hormuz menyusul ultimatum keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuntut pembukaan jalur vital tersebut atau menghadapi serangan militer lanjutan.

Ultimatum tersebut menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika tidak dipenuhi,

AS mengancam akan menyerang infrastruktur strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Press TV melaporkan, Senin (6/4).

Menanggapi tekanan tersebut, Iran menyusun langkah taktis guna mempertahankan posisi di kawasan sekaligus menghadapi kemungkinan eskalasi militer. Teheran juga menegaskan tidak akan tunduk pada ancaman, bahkan memperingatkan akan melakukan balasan besar jika serangan dilanjutkan.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan membatasi lalu lintas kapal dan bahkan melakukan serangan terhadap sejumlah kapal dagang, menyebabkan gangguan besar pada pasokan energi dunia.

Di sisi lain, upaya diplomatik masih terus dilakukan oleh sejumlah negara mediator seperti Pakistan, Turki, dan Mesir yang mengusulkan gencatan senjata sementara. Namun Iran menolak skema tersebut dan menuntut penghentian perang secara permanen serta pencabutan sanksi sebagai syarat utama.

Situasi di Selat Hormuz saat ini menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik global, karena dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi dunia, khususnya harga energi dan jalur perdagangan internasional. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Internasional