Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Penuhi Tujuh Syarat

Redaksi - Ahad, 4 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Ahad, 4 Oktober 2026 - 19:00 WIB

20 Views ㅤ

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (Foto: The Indian Awaaz)

Teheran, MINA – Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat yang menjadi bagian dari rencana pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Ketegasan itu disampaikan Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Ahad (4/10/2026), sebagaimana dilaporkan Al Jazeera. Ia mengatakan posisi Tehran tetap jelas setelah Amerika Serikat disebut menyampaikan sejumlah proposal melalui seorang mediator.

Ghalibaf menyatakan era negosiasi yang menurutnya hanya membuang waktu dan berisi tuntutan sepihak telah berakhir. Ia menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum tujuh persyaratan yang didasarkan pada kesepakatan dalam memorandum Islamabad dipenuhi Washington.

Menurut Ghalibaf, Iran tetap membuka ruang diplomasi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi militer.

Baca Juga: Militer Yaman Klaim Lumpuhkan 1.747 Personel Houthi

“Posisi kami jelas dan tegas,” demikian pernyataan Ghalibaf yang dikutip Al Jazeera. Ia juga mengatakan Iran akan terus menjalankan jalur negosiasi sembari mempertahankan kesiapan militernya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari yang sama mengatakan Tehran serius mencari penyelesaian diplomatik. Namun, ia menegaskan Iran juga siap mempertahankan diri apabila Amerika Serikat kembali mengambil tindakan militer.

Araghchi mengatakan Iran telah menyampaikan secara jelas persyaratan pembukaan kembali Selat Hormuz kepada Washington. Tehran, menurut dia, berharap Amerika Serikat memilih jalur diplomasi dan menerima proposal tersebut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama Tehran. Iran, katanya, menginginkan tercapainya solusi yang memungkinkan keamanan dan stabilitas kembali berlangsung di jalur pelayaran tersebut.

Baca Juga: Suriah Peringatkan Serangan Israel ke Wilayahnya Ancam Keamanan dan Stabilitas Kawasan

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan berkepanjangan di selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan pasar energi global.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga diikuti laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker. Al Jazeera melaporkan adanya insiden terhadap kapal-kapal minyak di kawasan tersebut, sementara laporan terbaru menyebut sebuah kapal melaporkan serangan yang mengenai ruang mesin di Selat Hormuz.

Di Yaman, situasi keamanan juga kembali memburuk. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk Sanaa. Perkembangan tersebut berlangsung ketika pertempuran di sejumlah wilayah Yaman menyebabkan semakin banyak warga sipil meninggalkan tempat tinggal mereka.

Rangkaian perkembangan tersebut terjadi ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat kembali berada dalam ketegangan tinggi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dalam skema tujuh hari. Proposal Tehran antara lain berkaitan dengan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi minyak serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Baca Juga: Mantan PM Israel Tuduh Netanyahu Siapkan Perang untuk Tunda Pemilu

Dengan kondisi tersebut, Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik utama dalam konflik dan diplomasi Iran-Amerika Serikat. Tehran menyatakan jalur tersebut akan tetap tertutup sampai persyaratan yang diajukannya diterima, sementara Washington masih menempatkan isu nuklir dan tuntutan lainnya sebagai bagian penting dalam proses perundingan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Iran Terima Respons AS soal Selat Hormuz, Syarat Pembukaan Masih Dibahas

Rekomendasi untuk Anda