Gaza, MINA – Israel memerintahkan pasukannya di Jalur Gaza untuk tidak memperluas garis demarkasi yang dikenal sebagai Yellow Line ke arah barat.
Keputusan tersebut diambil setelah meningkatnya tekanan Amerika Serikat agar Israel menjalankan tahapan berikutnya dari rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump. Anadolu melaporkan, Rabu (19/8).
Perintah itu disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu Utusan Presiden Trump, Jared Kushner, dan Direktur Board of Peace Nickolay Mladenov dalam pertemuan yang berlangsung sekitar empat jam.
Menurut laporan media Israel KAN, pasukan juga diperintahkan mendokumentasikan setiap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Yellow Line merupakan garis yang menjadi batas posisi pasukan Israel dalam tahap pertama rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Namun, pasukan Israel sebelumnya dilaporkan terus bergerak ke arah barat sehingga kini menguasai hampir dua pertiga wilayah Gaza, lebih luas dibandingkan posisi yang direncanakan dalam tahap awal.
Tekanan Washington meningkat setelah Kushner melakukan pembicaraan dengan Netanyahu, sehari setelah bertemu pemimpin politik Hamas Khalil al-Hayya di Mesir. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan.
Netanyahu tetap menuntut Hamas melucuti seluruh persenjataannya sebelum Israel menarik pasukan, sedangkan Hamas menginginkan penarikan pasukan Israel dilakukan secara bertahap dan teratur.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Peta jalan yang diajukan Board of Peace mengatur proses perlucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel berlangsung secara bertahap serta berjalan beriringan.
Washington juga mendorong dimulainya rekonstruksi Gaza, tetapi Netanyahu dan Kushner sepakat pembangunan kembali wilayah tersebut tidak dilakukan sebelum proses demiliterisasi Hamas.
Sementara itu, Presiden Trump secara terbuka meminta Israel menghentikan serangan terhadap Gaza di tengah upaya Kushner menyelamatkan rencana perdamaian tersebut.
Perkembangan ini menunjukkan adanya tekanan diplomatik yang semakin kuat terhadap Israel, meski perbedaan mengenai urutan perlucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih menjadi hambatan utama bagi pelaksanaan rencana perdamaian Gaza. []
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic