KISAH ini terjadi pada September 2024.
Mati di Gaza saat itu tidak seperti mati di tempat lain. Di Gaza, Anda mungkin mendapat ucapan perpisahan. Anda mungkin mendapat kuburan. Anda mungkin berakhir dengan separuh tubuh, atau hanya sepotong daging.
Mereka tinggal di daerah yang disebut aman kala itu, yaitu di Deir al-Balah. Rumah Doaa Salim telah menampung puluhan perempuan dan anak-anak pengungsi dari berbagai tempat di Gaza sejak Oktober 2023 lalu. Meskipun relatif tenang, daerah itu tidak aman.
Tidak ada yang aman.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Pada tanggal 2 Juli, Salim ingat duduk bersama saudara-saudaranya, Ahmed, Mahmoud, Asma, dan orangtuanya, menikmati teh di halaman belakang rumah mereka. Saat itu cuaca cerah dan berangin.
Saudara laki-laki Salim yang bernama Ahmed, menghabiskan tehnya dan meninggalkan mereka.
Sekitar pukul 15.30, Salim mendengar ledakan besar. Batu dan debu mulai berjatuhan di kepalanya. Daerah itu menjadi abu-abu, dan Salim hampir tidak bisa melihat karena intensitas asapnya.
Ketika Salim mendengar jeritan Asma, ia pun ikut berteriak.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Sebuah pesawat tempur Israel menembakkan rudal yang akhirnya menewaskan 14 orang.
Di antara para korban adalah saudara Salim, Ahmed (37 tahun), istrinya Marwa (28 tahun), dan anak-anak mereka, Mahmoud (6 tahun) dan Muhammad (3 tahun), serta 10 orang dari keluarga Marwa.
Secara total, 18 orang mencari perlindungan di apartemen saudara Salim, di lantai empat gedung tempat mereka semua tinggal. Dari jumlah tersebut, sembilan orang meninggal, termasuk seorang asing yang ditemui saudaranya berkeliaran di jalanan, tunawisma, dan telah ia kasihani.
Ahmed dan anggota keluarga dekatnya beruntung jasadnya masih utuh dan masing-masing memiliki kuburan. Yang lain hanya tersisa dengan bagian tubuh yang tidak dapat dikenali.
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Adik ipar Marwa yang bernama Aya, dan kedua anaknya, Hassan dan Malek, sedang bermain di kamar anak-anak ketika rudal itu menghantam. Tubuh mereka hancur berkeping-keping.
Sementara Salim selamat hampir tanpa luka, hanya luka ringan di dahi.
40 hari
Di luar, seorang asing memberi Salim seorang balita berusia 7 bulan untuk digendong. Seluruh keluarganya berada di dalam gedung, kata orang itu kepada Salim.
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
Anak itu ketakutan. Ketakutannya kehilangan orangtuanya, membuat Salim memeluknya erat-erat.
Untungnya, secara ajaib, orangtuanya selamat dari pembantaian itu, meskipun mereka berada di atap gedung.
Salim menunggu beberapa saat, mengamati kerumunan orang untuk mencari Mahmoud dan Muhammad sebelum adiknya memberi tahu bahwa ambulans telah membawa Mahmoud ke rumah sakit, sementara Muhammad dan ayahnya telah tewas.
Salim menolak untuk menerima kebenaran itu.
Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza
“Ahmed baik-baik saja dan akan pulang bersama anak-anaknya,” kata Salim kepada adiknya.
Namun, Ahmed, Marwa, dan kedua anaknya tidak kembali.
Kehidupan mereka terlalu ceria dan sederhana untuk dibunuh dengan setengah ton bahan peledak.
Ahmed adalah seorang insinyur yang berprestasi dan selalu menunjukkan kepedulian terhadap orang lain.
Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi
Ahmed membawa panel surya untuk menghasilkan listrik di rumah, memompa air, dan mengisi daya perangkat elektronik keluarganya selama genosida Israel.
Salim masih membayangkan anak-anak Ahmed bermain di rumahnya. Mereka cerdas dan ambisius, bahkan sejak kecil.
Mahmoud (6 tahun) pernah bercerita kepada Salim bagaimana “aku dan ayahku memboikot barang-barang Israel karena kami tidak mendukung pembunuhan,” yang hampir segera diikuti dengan “Aku ingin menjadi astronot dan terbang ke bulan.”
“Aku masih bisa mendengar tawa Mahmoud. Aku bisa memegang barang-barang dan pakaian mereka di tanganku,” kata Salim.
Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel
“Aku berpegang pada harapan bahwa kehidupan akan tumbuh kembali di tengah kehancuran besar, seperti pohon zaitun yang patah dan terbakar tumbuh di bawah reruntuhan,” katanya. []
Sumber: tulisan Doaa Salim di The Electronic Intifada
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu
















Mina Indonesia
Mina Arabic