Bethlehem, MINA – Umat Kristen Palestina menceritakan nasibnya di bawah penjajahan Zionis Israel. Mereka mengaku mengalami kondisi ekonomi dan sosial yang semakin memburuk menjelang Natal.
Salah satu warga Palestina di Bethlehem, Jack Issa Giacaman kepada Middle East Eye mengatakan bahwa Zionis Israel telah mengubah Bethlehem menjadi penjara besar.
“Dalam beberapa tahun terakhir, Israel telah mengubah Bethlehem menjadi penjara besar,” kata Jack Issa Giacaman, dikutip pada Rabu (24/12).
Pembatasan ketat yang diterapkan Zionis Israel, agresi berkepanjangan di Gaza, serta peningkatan serangan militer di Tepi Barat, dinilai telah membuat aktivitas ekonomi di kota tersebut nyaris terhenti.
Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza
Jack Issa menambahkan, keluarganya yang selama beberapa generasi menggantungkan hidup dari usaha kerajinan kayu zaitun, mengatakan toko mereka, Christmas House, telah tutup selama dua tahun terakhir. Toko itu merupakan salah satu usaha utama di Lapangan Palungan Bethlehem yang menjual patung kelahiran Yesus, rosario, salib, dan perlengkapan keagamaan lainnya.
Menjelang Natal, suasana Bethlehem di bawah penjajahan Israel tampak sepi. Manger Square hampir tanpa pengunjung, sebagian besar toko tutup, dan pemandu wisata tidak mendapatkan pelanggan di sekitar Gereja Kelahiran.
Data demografi menunjukkan dampak jangka panjang Bethlehem di bawah penjajahan Israel terhadap komunitas Kristen. Saat Israel berdiri, umat Kristen mencapai sekitar 85 persen populasi Bethlehem. Namun pada 2017, jumlah tersebut menurun drastis menjadi sekitar 10 persen.
Tekanan terhadap Bethlehem di bawah penjajahan Israel meningkat sejak Februari 2023, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan kewenangan luas atas wilayah Tepi Barat kepada Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, pemimpin partai Zionisme Religius ultra-nasionalis dan seorang pemukim ilegal Israel.
Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang
Pemilik toko suvenir lokal lainnya, Asaad Jaqaman, mengatakan kondisi ekonomi membuat sebagian besar usaha memilih tutup.
“Tidak ada orang, tidak ada aktivitas. Membuka toko tidak ada gunanya,” ujarnya.
Situasi ini diperparah oleh dampak pandemi Covid-19, genosida di Gaza, serta serangan militer Israel di Tepi Barat.
Pendeta Munther Isaac menyebut hampir setiap dua pekan ada keluarga Kristen yang meninggalkan Bethlehem.
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer
“Keluarga Kristen pergi karena tidak lagi melihat masa depan yang layak di tanah air mereka,” katanya.
Ancaman baru terhadap Bethlehem di bawah penjajahan Israel muncul setelah pengumuman legalisasi 19 permukiman ilegal Israel di Tepi Barat.
Di Beit Sahour, desa Palestina di sebelah timur Bethlehem, buldoser Zionis Israel mulai mempersiapkan lahan, memicu kekhawatiran dan ketakutan warga setempat.
Aktivis hak asasi manusia Dalia Qumsieh mengatakan warga merasakan trauma dan kehilangan akibat potensi perampasan tanah. Beit Sahour dikenal memiliki nilai religius penting sebagai lokasi yang terkait dengan kisah kelahiran Yesus.
Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid
Warga Palestina menilai keberadaan permukiman ilegal Israel di sekitar Bethlehem di bawah penjajahan Israel berdampak langsung pada penyempitan ruang hidup, terganggunya aktivitas pertanian, serta meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi terhadap masyarakat setempat.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan
















Mina Indonesia
Mina Arabic