Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JMSI Batang-Pekalongan Kecam Keras Pembunuhan Jurnalis di Gaza

Zaenal Muttaqin Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 12 Agustus 2025 - 19:48 WIB

Selasa, 12 Agustus 2025 - 19:48 WIB

34 Views

Aksi JMSI di Batang Jawa Tengah, mengecam pembunuhan jurnalis di Gaza Palestina (Foto: Istimewa)

Batang, MINA – Suasana di Jalan Veteran, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada Selasa (12/8) berubah menjadi gelombang kemarahan dan kepedihan.

Puluhan pengurus dan anggota Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Batang-Pekalongan menggelar aksi solidaritas, mengecam keras pembunuhan jurnalis Al Jazeera, Anas Al-Sharif, yang tewas dalam serangan udara militer Israel di Gaza, Palestina.

Membawa spanduk dan poster dukungan bagi jurnalis di zona perang, para peserta aksi mengheningkan cipta untuk menghormati para pewarta yang gugur di medan tugas.

Ketua JMSI Batang, Ujie, menyebut kematian Anas di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Ahad (10/8/2025) malam, sebagai bukti nyata brutalitas Israel.

Baca Juga: Hujan Guyur Seluruh Wilayah Jakarta, Warga Diimbau Waspada Cuaca Ekstrem

“Ini bukan sekadar pembunuhan individu, tapi serangan langsung terhadap kebenaran. Israel sedang berusaha membungkam saksi mata sejarah,” tegas Ujie.

JMSI mencatat, sejak genosida Gaza pecah pada Oktober 2023, sedikitnya 237 jurnalis tewas akibat serangan militer Israel.

Data Kementerian Informasi Palestina menunjukkan 228 di antaranya terbunuh dalam agresi terbaru.

Bukan hanya peluru dan bom, Israel juga disebut menjerat warga Gaza dalam kelaparan massal melalui blokade total pangan, listrik, dan informasi.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, Rabu 15 April 2026

“Bayangkan, mereka meliput di tengah reruntuhan, lalu berjuang sekadar bertahan hidup,” tambah Ujie.

JMSI mendesak pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital, memperkuat perlindungan bagi jurnalis di medan konflik, serta mendorong organisasi pers nasional menggalang petisi kemanusiaan dan tekanan diplomatik global agar Israel mematuhi hukum perang.

“Jika kebebasan pers runtuh di Gaza, itu akan menjadi preseden gelap bagi seluruh dunia. Kami akan terus bersuara sampai pelanggaran ini berhenti,” tegas Ujie.

Perang Gaza yang kembali meledak sejak Oktober 2023 telah memicu korban sipil besar-besaran.

Baca Juga: Kasus Pelecehan Seksual FH UI Tuai Sorotan, Mendiktisaintek Tegaskan Tidak Ada Toleransi

Serangan terhadap jurnalis diyakini sebagai strategi sistematis untuk membungkam pemberitaan independen – kejahatan yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengancam fondasi demokrasi global. []

Mi’raj News Agency (MINA) 

Baca Juga: BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

Rekomendasi untuk Anda