Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jusuf Kalla Serukan Kebangkitan Ekonomi dan Pendidikan di KUII VIII: “Kita Harus Agresif dan Bersatu”

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 26 Juli 2026 - 11:14 WIB

Ahad, 26 Juli 2026 - 11:14 WIB

46 Views ㅤ

H.M. Jusuf Kalla (JK), saat berbicara pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, di Jakarta, Ahad, 26 Juli 2026.. (Foto: MINA/Sidik)

Jakarta, MINA – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 sekaligus Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), H. M. Jusuf Kalla (JK), mengajak umat Islam Indonesia menjadikan penguatan ekonomi dan pendidikan sebagai agenda utama kebangkitan bangsa. Seruan itu disampaikannya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Ahad (26/7), di hadapan ulama, cendekiawan, dan tokoh umat dari berbagai daerah.

Dalam pidatonya, JK menyoroti masih lemahnya kemandirian ekonomi nasional meski Indonesia telah lebih dari tujuh dekade merdeka. Menurutnya, ketergantungan terhadap bantuan dan pembiayaan dari luar negeri menunjukkan bahwa potensi besar umat Islam sebagai mayoritas penduduk belum sepenuhnya terwujud menjadi kekuatan ekonomi dan kemajuan pendidikan.

JK menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Ia membandingkan kekayaan Singapura yang 20 kali lipat lebih besar dari Indonesia, serta Malaysia yang tiga kali lipat lebih kaya. Padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan populasi Muslim terbesar di dunia.

“Ekonomi kita masih lemah. Ini menunjukkan ekonomi umat Islam lemah, padahal 87 persen penduduk kita adalah Muslim,” ujar JK.

Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat

Menurutnya, kelemahan ini harus diakui sebagai langkah awal untuk memperbaiki diri. “Kalau kita mau kuat, kita harus tahu kelemahan kita. Kita harus agresif dalam penguatan ekonomi. Bersatu dalam berekonomi,” serunya.

JK juga menggambarkan bahwa perdagangan dan kewirausahaan adalah bagian dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Dia mengingatkan bahwa Rasulullah sejak kecil, remaja, hingga dewasa sebelum diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun, berprofesi sebagai pedagang.

“Rasulullah lebih lama menjadi pedagang dibanding menjadi Rasul. Menguasai tijarah (perdagangan) adalah bagian dari sunnah nabi. Islam mendorong ekonomi maju,” kata JK yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses sebelum terjun ke dunia politik.

Keseimbangan Ilmu Agama, Akhlak, dan IPTEK

Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat

Selain ekonomi, JK juga menyoroti kelemahan di bidang pendidikan. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

“Kemajuan suatu bangsa karena kemajuan IPTEK. Tak bisa maju tanpa itu,” tegasnya.

JK mengingatkan bahwa ada ketimpangan antara pendidikan agama dan penguasaan ilmu modern. Ia mendorong adanya keseimbangan antara ilmu agama, akhlak, dan IPTEK dalam sistem pendidikan pesantren dan lembaga pendidikan Islam.

JK mengajak seluruh elemen umat untuk membicarakan, mengerjakan, dan mendakwahkan tentang semangat ber-IPTEK. Menurutnya, pesantren dan lembaga pendidikan Islam harus menyeimbangkan pendidikan agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan modern agar umat memiliki kekuatan dan kehormatan.

Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil

Melalui KUII VIII, JK berharap umat Islam Indonesia mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan, melalui penguatan ekonomi yang agresif, pendidikan yang seimbang, dan persatuan yang kokoh. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka

Rekomendasi untuk Anda