Kajian Tafsir Surah Al-Mumtahanah ayat 12-13 tentang Bai’at (Oleh: Imam Yaksyallah Mansur)

Surah Al-Mumtahanah ayat: 12-13

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

Terjemahnya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. AL-Mumtahanah: 13)

Penjelasan ayat 12: 

Bai’at adalah pernyataan janji kepada Nabi Muhammad Shaullahu Alaihi Wassalam dengan menyatakan kesetiaan, kepatuhan, terutama tidak akan melanggar apa yang dilarang dan tidak akan melalaikan apa yang diperintahkan.

Bai’at dilakukan secara massal yang pertama kali adalah di masa Hudaibiyah.

Rukun Bai’at ada tiga: Pertama. Orang yang berbai’at, Dua. Orang yang di bai’at dan terakhir adalah sighot (isi dari bai’at tersebut)

Kalau rukun di atas tidak dipenuhi maka bai’at nya batal karena rukun adalah sesuatu yang harus dipenuhi pada saat melakukan sesuatu perkerjaan (ibadah). Kalau sesuatu dilakukan sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, namanya syarat.

Dari perspektif ini, dalam surah Al-Mumtahanah ayat 12, Allah menjelaskan tentang bai’at. Kemudian para ahli fikih menganalisis bahwasanya jelas tiga syarat tersebut sah, karena rukun bai’atnya sudah dipenuhi.

Sejarah Awal Bai’at di Fathu Makkah.

Para ahli tafsir menjelaskan tentang bai’at dengan detail, termasuk tempat bai’at. Jadi pada waktu Makkah dibebaskan,  pada saat itu tidak lagi orang-orang yang menentang Rasulullah, maka beliau mengadakan bai’at massal untuk menerima keislaman. baik laki-laki maupun perempuan.

Tempat bai’at laki-laki pada saat itu di atas Bukit Sofa, pada saat itu belum ada bangunan tidak seperti sekarang dimana kita bisa merasakan dinginnya AC, di Bukit Sofa itulah Rasulullah menerima bai’at para Muslimin laki-laki.

Sementara bai’at Muslimat diterima oleh Umar bin Khotob yang dilakukan di bawah Bukit Sofa tersebut. Kemudian setelah Rasulullah menerima bai’at para Muslimin turun untuk menerima bai’atnya Muslimat.

Isi Bai’at

Pertama, tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Kedua, tidak akan mencuri. Ketiga, tidak akan berzina. Keempat, tidak akan membunuh anak-anaknya. Kelima, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka (tentang anak) dan yang terakhir tidak akan mendurhakai Rasulullah dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan diatas poin ke-3

Hindun istri Abu Sofyan yang juga ikut berbai’at, ketika ada kata tidak boleh mencuri, ia berkata: Ya Rasulullah, bagaiamana kalau suami saya Abu Sofian itu pelit,  karena untuk belanja gak cukup. Boleh nggak saya mengambil dari kantong-kantongnya. Kata Rasulullah ambil tapi secukupnya, tetapi Abu Sofyan mendengar pembicaraan antara Hindun dan Rasulullah. Kemudian Abu Sofyan mengiklaskan apa yang diambil istrinya.

Yang kedua walaa yaznin (tidak boleh berzina), kata Hindun, yang melakukan zina itu hanyalah budak,sementara orang merdeka seperti dirinya tidak mungkin berzina.

Selanjutnya, ketika ada kata jangan membunuh anak-anakmu, Hindun berkata, justru Anda yang membunuh anak-anak kami setelah dewasa. Mendengar hal itu, Rasulullah tidak marah kepada Hindun, Beliau hanya tersenyum saja.

Selanjutnya ada kalimat jangan memaksiati dalam hal yang makruf, Rasulullah tidak mungkin menyuruh yang tidak ma’ruf. Akan tetapi, pada sepeninggal beliau, kepemimpinan akan diteruskan oleh orang-orang beriman, tentu saja mereka bukan maksum (terjaga dari maksiat). Oleh karenanya, ummat Islam diperintahkan untuk taat kepada pemimpinnya hanya dalam hal-hal yang makruf saja. Jika pemimpinnya menyuruh kepada yang buruk, munkar, maka tidak boleh di taati.

Jadi, kalau yang makruf jangan di tentang dan kalau yang tidak ma’ruf jangan ditaati.

Anjuran Berba’iat

Kalau mereka sudah tidak melakukan enam poin di atas maka terimalah bai’at tersebut. Setelah mereka berba’iat maka mohon ampunkan kepada Allah, karena memang mereka banyak melakukan berbagai macam kemaksiatan.

Kemudian Hindun yang nyinyir tadi mengatakan, demi Allah sejak saya duduk di majelis ini tidak ada suatu perasaan hendak mendurhakai engkau ya Rasulullah. Begitu cepatnya perasaan Hindun berubah, karena kelembutan.

Balasan bagi orang yang berbai’at

Orang-orang yang berbai’at mendapatkan pahala yang sangat tinggi dari Allah Subhanahu Wata’ala. Di mana mereka menjadi mu’minat, muslimat yang sejati, bagaimana kesalahan-kesalahan, kealfaan, kekhilafan akan dimintakan ampun oleh Rasulullah Shaullahu Alaihi Wassalam kepada Allah. Rosulullah diperintahkan oleh Allah untuk memohonkan ampunan atas dasar enam poin di atas bagi mereka yang telah melaksanakan bai’at.

Penjelasan Alquran Surah Al-Mumtahanah ayat: 13

Dalam prespektif tanasubul ayat, ini tanasubnya dengan ayat yang pertama di mana pada ayat yang pertama (surah Al-Mumtahanah) Allah sudah menjelaskan larangan untuk menjadikan musuh-musuh Allah dan musuhmu (orang beriman) sebagai aulia.

Tanasub memang salah satu bagian ilmu tafsir yang paling latif (lembut) misalnya tanasub ayat pertama dengan yang terahkir dari surah Al-Ikhlas kalau tidak dipahami dengan tasubnya seakan-akan lepas. Padahal itu korelasinya, hubunganya sangat erat.

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang yang dimurkai Allah sebagai wali. Ibnu Katsir menjelaskan: kaum yang dimurkai Allah adalah Yahudi, Nasrani dan seluruh orang kafir yang Allah telah murkai. Kenapa Allah melarang orang kafir dijadikan sebagai wali, karena mereka telah putus asa untuk mendapatkan pahala dari kehidupan akhirat.

Walaupun di hadapan orang Islam mereka mengatakan yakin masuk surga, tapi di hati orang kafir sebenarnya mereka dalam keraguan tentang pahala akhirat.

Kemudian ada orang kafir yang mengatakan, nanti akan ketemu Bapak di surga, itu tidak mungkin terjadi, karena mulutnya berbicara seperti itu, tapi hatinya tidak berbicara demikian. Karena mereka telah putus asa dari pahala kehidupan akhirat dan tidak mungkin Allah memberikan pahala akhirat.

Hati mereka nanti akan dibongkar oleh Allah, bahwasanya mereka telah putus asa untuk mendapatkan pahala di akhirat. Keputusasaannya, Allah gambarkan sebagaimana orang-orang kafir penghuni kubur, artinya bahwanya setelah dikubur,  mereka merasakan penyesalan selama-lamanya.

Kalau orang beriman, setelah dikubur punya keyakinan akan hidup lagi dan mengaharapkan pahala akhirat. Tapi kalau orang kafir, begitu dikubur selesai kehidupan di sana. Sehingga mereka tidak ada harapan untuk hidup dan merasakan nikmat lagi.
Jadi keputusasaan mereka terhadap pahala itu sama seperti keputusasaan mereka untuk dapat hidup dan merasakan nikmat surga di akhirat.

Ini adalah akhir dari surah Al-Mutahanah, jadi orang yang telah di murkai oleh Allah tidak mungkin mereka akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Inilah jawaban kenapa Allah melarang orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, karena mereka tidak punya pemikiran nanti akan hidup lagi. Tapi kalau kita masih menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka itu suatu perkara yang salah. Sementara kita mempunyai keyakinan di akhirat nanti kita akan mendapat balasan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Bersambung…

 

(A/Gun/RS1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)