Oleh Wahyudi KS, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Fatah Bogor
بــســم الله الرحمـن الرحـيـم
إنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَـغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله ِمِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَـيِّأَتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن واله , مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَألَمْ يَكُنْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله , أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :
Baca Juga: Haji Mengikis Egoisme: Pelajaran dari Ibrahim yang Tak Pernah Berhenti Berjuang
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( )
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا(70)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا( ) أمـّا بعد :
إنَّ أحْسَنَ الحَديثِ كِتَابُ اللَّهِ، وأَحْسَنَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
Baca Juga: Khutbah Idul Adha Ponpes Al Fatah Cileungsi Serukan Pembebasan Masjidil Aqsa
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله هو الله أكبر الله أكبرولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin, Jama’ah Shalat Idul Adha yang mengharap ampunan dan ridla Allah.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yang Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pemberi rizki untuk seluruh makhluq-Nya. Karena kita semua adalah makhluk yang faqir dan lemah dihadapan-Nya.
Jama’ah Muslimin yang dirahmati Allah
Baca Juga: Khutbah Idul Adha Puitis: Belajar dari Pengorbanan Keluarga Nabi Ibrahim
Hari kemarin 9 Dzulhijjah, 2,5 juta jama’ah haji telah mengukir sejarah wukuf di Arafah 14 abad yang lalu. Momen ini adalah peristiwa paling mendasar dalam ibadah haji, sehingga saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang haji
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الْحَجُّ؟ قَالَ: «الْحَجُّ عَرَفَةُ
Ya Rasulullah, Bagaimana haji itu ? beliau menjawab Al Hajju Arafah, Haji itu Arafah.
Arafah mendapat kedudukan istimewa dalam rangkaian ibadah haji. Padang Arafah adalah miniatur Padang Mahsyar, Kalau di Padang Arafah, saat kita sadar atas dosa-dosa kita, in syaa Allah masih bisa bertobat dan beramal shaleh. Di Padang Mahsyar nanti, semua kita akan sadar dan tidak mungkin mengingkari akan banyaknya dosa dan kesalahan kita, namun semuanya sudah terlambat.
Baca Juga: Khutbah Idul Adha: Hikmah Haji dan Keteladanan Nabi Ibrahim
Di Padang Mahsyar tidak ada pintu tobat sedikitpun, tidak ada gunanya kita menyesali diri nanti. Oleh karena itu, saat inilah momen yang paling tepat untuk kita menyesal dan bertobat. Jangan pernah menunda untuk bertobat, karena kematian bisa datang tiba-tiba tanpa aba-aba terlebih dahulu. Kematian pun tidak akan menunggu tobat kita.
Jama’ah Muslimin yang dirahmati Allah
Hari ini lebih dari 2 milyar muslimin terbentang dari Maroko sampai Merauke, seperempat dunia penduduk bumi ini adalah kaum muslimin. Kita bersyukur Islam yang menjadi satu-satunya agama yang Allah ridlai, kini makin diterima dan diimani oleh bangsa Eropa, Amerika dan Australia. Perkembangan Islam di 3 benua tersebut sangat pesat.
Namun demikian, tidaklah cukup kita berbangga dengan jumlah, karena faktanya di negeri-negeri mayoritas muslim, termasuk negeri Indonesia ini, masih banyak muslimin yang tidak tahu Islam ?, masih banyak muslimin yang tidak mau diatur dengan Islam, masih banyak muslimin yang ibadahnya hanya sebatas ritual, tidak berdampak pada sosial apalagi melahirkan komitmen untuk memperjuangkan Islam.
Baca Juga: Guardiola Tegaskan Hormati Keberagaman Usai Pemain City Dicemooh Saat Buka Puasa
Lebih parah lagi ada muslimin yang terjangkit paham sinkretisme (membenarkan semua agama), kemudian adanya kaum Muslimin yang paranoid terhadap Islam, sehingga lahirlah Islamophobia (ketakutan pada Islam). Akibatnya adalah gagal paham terhadap Islam, bahkan ada yang memusuhi Islam, agamanya sendiri. Na’udzubillahi min dzaalik
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Jama’ah Muslimin yang mengharap ridla dan ampunan Allah
Salah satu di antara ketidaktahuan muslimin pada ajaran Islam, adalah sebagian besar muslimin tidak tahu, bahwa merayakan Idul Adlha harus lebih bersungguh-sungguh dibandingkan dengan merayakan Idul Fithri, karena Allah dan Rasul-Nya lebih mengagungkan Idul Adlha daripada Idul Fithri. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)
“Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh “
Hari ini kita masih berada di hari yang kesepuluh bulan Dzulhijjah. Hari yang bila kita beramal shalih lebih dicintai Allah dibanding hari-hari yang lainnya.
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “bahwa sebab diistimewakan sepuluh hari bulan Dzulhijjah, karena pada bulan ini terkumpul ibadah-ibadah inti, seperti shalat, puasa, shadaqah dan haji, yang mana hal itu tidak didapati pada bulan yang lainnya.
Jama’ah Shalat Idul Adlha yang dimuliakan Allah
Ada 6 faktor yang menjadi alasan Idul Adlha lebih agung dari Idul Fithri,
Alasan pertama, bahwa beramal shalih di 10 hari awal Dzulhijjah lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari lainnya.
Alasan kedua, Bahwa di hari Arafah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai Imaamul Muslimin saat itu, berkhutbah dihadapan lebih dari 114 ribu kaum muslimin. Ini menjadi satu isyarat, bahwa kaum muslimin adalah satu, tidak dipisahkan dengan negara dan bangsa, tidak dibedakan dengan warna kulit dan bahasa. Dimana pun kaum muslimin berada adalah bersaudara. Oleh karena itu, di kesempatan lain beliau bersabda; Talzamu Jamaa’atal Muslimiina wa Imaamahum. “ Tetapilah olehmu Jama’ah Muslimin dan Imaam Mereka.”
Alasan ketiga, Adanya hari penyembelihan hingga 4 hari, tanggal 10-13 Dzulhijjah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
“Hari-hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan, kemudian hari (mabit) di Al Qarra (Mina)”
Hari Al-Qarr, adalah hari menetap, yakni tanggal 11 Dzulhijjah, orang-orang yang mengerjakan ibadah haji bermalam dan menetap atau Mabit di Mina.
Dalam hal ini, yang harus dijaga adalah hati dan niat kita saat berkurban, jangan sedikit pun terbesit untuk mendapatkan apresiasi atau pujian manusia, lakukan semuanya karena Allah semata, sebagaimana firman Allah :
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Alasan keempat, Membaca takbirnya lebih lama, terkait dengan Idul Adlha takbirnya 5 hari sampai 13 hari. Sedangkan Idul Fithri hanya 1 hari tanggal 1 Syawwal saja.
Alasan kelima, Idul Adlha lebih terasa rahmatan lil ‘alamiin, menjadi rahmat bagi seluruh alam, terutama saat pembagian daging kurban. Karena daging kurban bisa dibagikan kepada semua manusia muslim ataupun kafir
Alasan keenam, bahwa bulan Dzulhijjah sebagai bulan terakhir dalam tahun hijriyyah, adalah momen yang tepat untuk mengevaluasi diri, rekapitulasi amal, muhasabah dan introspeksi.
Allah mengingatkan kita dalam surat Qaf 16-19 :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ (19)
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits sebagai berikut :
Tidak akan bergeser dua tepak kaki seorang hamba di hari kiamat, sehingga ditanya 4 perkara :Yang pertama adalah umurnya, untuk apa dihabiskan. Yang kedua adalah ilmunya, pada apa ia diamalkan, Yang ketiga adalah hartanya, darimana ia peroleh, dan kemana ia belanjakan Yang keempat adalah jasadnya pada apa anggota tubuh itu ia gunakan.
Maka, pendengaran, penglihatan, lisan, pikiran, perasaan, tangan dan seluruh anggota tubuh ini semuanya akan ditanya Allah.
Disaat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ.
عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ، قَالَ: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا.
“Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstospeksi diri dan beramal untuk setelah kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”
Umar bin Khaththab berkata ; Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab nanti, dan berhiaslah kalian untuk Pameran Akbar (alam mahsyar). Sesungguhnya orang-orang yang akan ringan hisabnya di hari kiamat, hanyalah orang yang (sering) menghisab dirinya selama di dunia.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Jama’ah Muslimin yang mengharap ridla dan ampunan Allah
Bulan Dzulhijjah juga mengingatkan kita pada profil keluarga teladan, Nabi Ibrahim ‘alahissalam beserta istri dan anaknya. Kita lihat keindahan tiga sosok manusia pilihan:
Sosok suami dan ayah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang sarat dengan kedalaman hikmah dan keluhuran akhlaq yang mulia. Konsepnya adalah sebagai berikut:
Pertama, mengutamakan istri yang shalihah
Memilih istri yang shalihah yang paling baik agamanya dan akhlaqnya, merupakan prasyarat untuk mendapatkan anak yang shalih. Tanpa keshalihan seorang istri akan sulit mendidik anak untuk tunduk dan taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Kedua, sangat peduli kepada generasi penerus yang shalih..
Nabi Ibrahim sering bermunajat kepada Allah, agar dikaruniai anak yang shalih dengan do’anya :
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“ Ya Rabb, berikanlah keturunan padaku dari orang-orang yang shalih.” (QS. Ash-Shafat [37]: 100).
Untuk memiliki anak yang shalih tidaklah dapat dengan mendadak, tetapi harus mendidik.
Ketiga, menjadi teladan bagi anak-anak dan keluarganya.
Kunci sukses Nabi Ibrahim adalah metode keteladanan. Karena seorang anak cenderung meniru atau imitatif pada orang di sekitarnya, terutama pada orang tuanya.
Keempat, memilih lingkungan yang baik untuk perkembangan mentalitas anak.
Setelah Hajar melahirkan Ismail, Ibrahim pun mengantarkan mereka ke Makkah. Kemudian Ia bermunajat kepada Allah, agar tempat itu diberkahi dan baik untuk perkembangan aqidah dan mentalitas anaknya (QS Ibrahim [14]: 37).
Kelima, mengajak musyawarah kepada anak.
Saat Ibrahim mendapat perintah menyembelih anaknya, ia panggil Ismail dengan kalimat “Ya bunayya” atau “Wahai anakku sayang“. panggilan penuh kasih sayang, komunikatif serta harmonis.
Ibrahim meminta pendapat Ismail menunjukkan sikap orang tua yang tidak otoriter, tidak memaksakan kehendak dan tetap menjunjung tinggi musyawarah.
Keenam, mencintai anak karena Allah.
Allah menguji cinta Ibrahim antara kepada Allah dan kepada Ismail. Ternyata demi cintanya kepada Allah, Ibrahim rela mengorbankan Ismail.
Ketujuh, melibatkan anak beramal shalih
Saat merenovasi baitullah (Ka’bah), Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama anaknya Ismail, maka di masjidil haram terdapat maqam Ibrahim dan hijir Ismail, Ibrahim berdo’a saat itu:
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“ Ya Allah, jadikanlah (negeri Mekah) ini menjadi negeri yang aman dan berilah rizki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir…..” (QS. Al-Baqarah [2]: 126-129)
Kedelapan, Nabi Ibrahim berharap dan mempersiapkan keturunannya menjadi Imaam atau pemimpin umat
Allah mengisyaratkan bahwa yang dijadikan Imaam bukanlah orang-orang yang zhalim (QS Al-Baqarah [2]: 124). Ibrahim mendidik anaknya untuk berlaku adil, tidak bertindak zhalim.
Oleh karena itu, jama’ah sekalian, sebagai orang tua, seharusnya kita lebih mengkhawatirkan masa depan Aqidah dan akhlaq anak-anak kita daripada sekedar mengkhawatirkan karier dunia semata. (QS. Al-Baqarah [2]: 133).
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Hadirin kaum muslimin, Profil teladan kedua adalah Hajar.
- Ibunda Hajar senantiasa ridha dan husnuzhan kepada Allah
Sikap inilah yang menjadikan mentalnya siap menerima berbagai keadaan, dari yang paling sulit sekalipun. Masa-masa sulit dilaluinya tanpa suami disampingnya, dengan tetap yakin, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan pernah membiarkannya.
- Qana’ah dan Tawakkal
Hajar adalah sosok wanita yang memiliki kepribadian luar biasa. Sikap qana’ah yakni menerima dan ridla dengan apa adanya.
Dengan modal husnuzhan dan tawakkal yang totalitas hanya kepada Allah, akhirnya Allah mencukupkan kehidupannya, dan kini buahnya, Makkah menjadi negeri yang kaya raya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
…وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ….
“ Dan barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq : 3)
- Sabar dan Syukur
Dua sifat utama seorang mukmin adalah sabar dan syukur dimiliki Ibunda Hajar, ia sabar menjalani hidup dan kehidupannya, dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Dengan sifat syukurnya, Allah senantiasa memberikan solusi dari berbagai kesulitannya.
- Rela berkorban untuk Allah
Profil Ibunda Hajar sebagai mujahidah terpancar saat dirinya berkorban, anak satu-satunya diminta untuk diqurbankan kepada Allah yang harus lebih dicintainya. Allah berfirman :
…وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…
“ Dan orang-orang beriman itu sangat cintanya kepada Allah…” (QS. AL-Baqarah : 165)
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Jama’ah shalat Idul Adha yang mengharap ampunan dan ridla Allah.
Profil yang ketiga adalah Ismail ‘alaihissalam.
Nabi Ismail ‘alaihissalam lahir dari kandungan orang tua yang shalih dan shalihah. Maka ia pun tumbuh menjadi seorang anak yang shalih dan luar biasa.
Kita ambil contoh teladan dari sosok Ismail sebagai berikut ;
- Ismail selalu rajin belajar sejak kecil hingga dikaruniai ilmu dan hikmah.
- Selalu berbakti kepada orang tuanya dalam berbagai hal yang baik.
- Ismail adalah sosok yang selalu menepati janjinya, sehingga mudah menunaikan perintah Allah.
- Selalu sabar dan berprasangka baik kepada ketetapan Allah, sekalipun diluar nalarnya.
- Mengutamakan agama dan akhlaq dalam memilih istrinya. Sehingga di keturunan ke 19 melahirkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
- Selalu mengarahkan keluarganya untuk bertauhid, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
- Istiqamah dalam kebenaran, mendidik anak dan semangat berdakwah, menjadikan ia termasuk generasi Rabbi Radliya, yakni generasi yang Allah ridlai.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Jama’ah Muslimin yang dimuliakan Allah
Melalui hikmah Arafah, dan amalan-amalan di bulan Dzulhijjah ini, marilah kita wujudkan persatuan dan kesatuan kaum muslimin, Sebagaimana firman Allah:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah berpecah-belah. (QS.Ali Imran : 103)
Hidup berjama’ah dan berimaamah yang dilandasi keikhlashan, akan menghilangkan sifat dengki dalam hati seorang muslim, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Tiga Perkara yang tidak akan ada kedengkian atas mereka hati seorang muslim ; Ikhlash beramal karena Allah, Menasihati Imaamul Muslimin dan Menetapi Jama’ah Muslimin .“ (HR. Tirmidzi, no hadits 2582 —-Shahih)
Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat Islam di seluruh dunia, bukanlah perkara yang mustahil bagi mereka yang beriman dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Allah telah memberikan beberapa isyarat dalam Al-Qur’an tentang sangat mungkinnya muslimin bersatu, tanpa pemisah bangsa dan negara, tidak dipisahkan Bahasa dan warna kulit.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah 259, yakni tentang seseorang yang melewati satu lembah yang porak poranda, dan ia berkata, mungkinkah bisa baik dan rapi kembali?. Maka Allah menidurkannya 100 tahun, yang dalam perasaannya hanya sehari atau setengah hari. Kemudian ia lihat keledainya tinggal tulang belulang. Maka Allah perlihatkan menjadikan kembali seekor keledai yang utuh, seperti semula ketika ia menambatnya. Karena itulah bukan mustahil umat Islam bersatu dalam satu jama’ah dan satu Imaamah.
Dalam QS. Hud : 118-119, Allah berfirman :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.
Ayat-ayat tersebut menunjukkan sangat mungkinnya muslimin bersatu, syaratnya adalah menghindari perpecahan dan persengketaan.
Syaikh Dr. Ali bin Muhammad Nashir Faqihii, dalam kitabnya Wujuubu luzuumil Jama’ah wa tarkit tafarruq, menyebutkan ada 5 penyebab perpecahan, yakni :
- Bid’ah
- Kebodohan
- Mengikuti Hawa Nafsu
- Menempatkan akal lebih tinggi dari dalil
- Taqlid/ikut-ikutan tanpa dalil, ta’ashub(fanatisme golongan dan tidak mau meninggalkan tradisi yang bertentangan dengan Al-Qur’an
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Jama’ah Muslimin yang dimuliakan Allah
Permasalahan muslimin dimanapun berada, adalah masalah yang harus kita pecahkan bersama. Demikian pula Masjidil Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam, masih dalam kekuasaan Zionis Israel laknatullah ‘alaihim.
Oleh karena itu, janganlah pernah kita menghapus dalam ingatan dan hati kita, bahwa kita punya PR besar yakni membebaskan Al-Aqsha dan penderitaan warga Palestina dari penjajah Zionis Israel. Kita yakin saatnya akan tiba sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Al-Israa’ ayat ke 7, bahwa kaum muslimin akan memasuki masjidil aqsha sebagaimana di masa Umar bin Khaththab atau di masa Shalahuddin Al-Ayubi.
Sebagaimana pula dikabarkan dalam hadits Bukhari Muslim, bahwa Zionis Yahudi akan dikejar-kejar oleh kaum muslimin yang berkarakter HAMBA ALLAH, sehingga mereka akan bersembunyi di balik pohon dan batu. Pohon dan batu berkata Ya Muslim Ya Abdallah, Wahai Muslim Wahai Hamba Allah, kemarilah, di belakangku ini ada orang Yahudi, bunuhlah ia.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
Hamba-hamba Allah, muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah
Dari khutbah ini, marilah kita muhasabah diri dan jujurlah pada nurani, sudah sejauh manakah kita menjadikan uswah, sebagai teladan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ?, Adakah kita masih lebih cenderung kepada figur-figur lain selain dua uswah tersebut. Demi Allah, sungguh tidak ada contoh teladan terbaik di dunia ini, selain Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita tundukkan hati, pusatkan pikiran dan tanamkan rasa tawadlu, rendah hati untuk munajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
لْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ َحَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِي مَزِيْدَةٌ بِمَعُوْنَةِ الله تَعاَلَى وَتَوْفِيْقِهِ. يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لـِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَـظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مـُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِه وَأصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
Yaa Allah, Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, pagi ini kami bersimpuh dihadapan-Mu dengan penuh kehinaan dan dosa.
Ya Allah Ya Rabb kami, Anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk meneladani keluarga Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga kami bisa bersama mereka di surga-Mu nanti.
Wahai Dzat Yang jantung kami dalam genggaman-Mu, kami sadar betapa banyaknya dosa dan kesalahan kami. Kami sering menyia-nyiakan nikmat-Mu, membuang-buang waktu dengan tanpa perasaan bersalah, menggunakan harta bukan pada jalan yang Engkau ridlai. Menjadikan teladan bukan kepada para kekasih-Mu yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Padahal kami tahu mereka berdua adalah yang paling pantas dijadikan teladan bagi kami. Ampuni kami Ya Allah, Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Jadikanlah kami sebagai hamba-hambaMu yang shalih.
Ya Allah, perjuangan menegakkan kebenaran Islam ini sungguh sangat berat disaat fitnah akhir zaman ini begitu dahsyat. Lindungilah kami dari segala fitnah dunia dan akhirat. Lindungilah kami dari bahaya alam ini, dari cuaca ekstrim, dari ancaman bahaya di daratan dan lautan.
Ya Allah, berikanlah cahaya-Mu kepada kami, anugerahkanlah kekuatan-Mu kepada kami. Satukanlah hati kami dengan rahmat-Mu, sehingga kami semua bisa istiqamah dalam mewujudkan Jama’ah Muslimin dan Imaamnya.
Jadikanlah kami untuk senantiasa menjadi Hizbullah yang selalu berpihak pada-Mu. Satukan kami dengan para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dekaplah kami dipangkuan-Mu dengan cinta, ampunan dan ridla serta karunia-Mu. Ya Allah. Amiin Yaa Rabbal ‘alamiin.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامِ وَالْمُسْلِمِينَ وَانْصُرْ الإِسْلامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَاجْعَلْ كَلِمَتِكَ هَيِ العُلْيَا إِلى يَوْمِ الدِّينِ
اللهم احيي جماعة الـمسلمين وإمامهم حياة كاملة طيبة وارزقهم قوة غالبة عـلى كل باطل و ظالم و فاحش وسوء و منكر
اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَى الكُفَّارِ الَّذِيْنَ يُــحَارِبُوْنَ الإسْلاَمَ وَالـْـمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ شَتِتْ شَـمْلَهُمْ شَـمْلاً وَفَرِّقْ جَـمْعَهُمْ وَمَزِّقْ حِزْبَـهُمْ وَاخْـتَلِفْ بَيْنَ قُلُوْبِـهِمْ اللهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ,
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
ربنا آتنا في الدنيا حَسنةً وفي الآخرة حَسنة وقنا عذاب النار”
وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعـين
والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic