Khutbah Jumat: Haji dan Kesatuan Umat

Ibadah Haji umat Islam di Baitullah (foto: dok MINA)

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang sarat dengan makna, terutama terkait dengan kesatuan umat Islam.

Bagaimana kaitan haji dan kesatuan umat, berikut diuraikan dalam Khutbah Jumat, oleh Imaam Yakhsyallah Mansur.

Khutbah ke-1:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Puji dan Syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dengan karunia-Nya telah menjadikan Makkah sebagai salah satu dari tiga tempat yang diberkahi dan disunnahkan untuk mendatanginya.

Jutaan orang setiap tahun mengunjungi Makkah untuk melaksanakan ibadah haji sebagai ‘kesempurnaan’ keislamannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu-pintu rezki sehingga kita semua mampu menunaikan ibadah haji, sebagai wujud kesungguhan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, meningkatkan iman dan takwa kita.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2] ayat ke-189, yang berbunyi:

يَسْـَٔلُو نَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَاۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (البقرة [٢]: ١٨٩)

“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”.

Asbabul nuzul ayat ini sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Mu’ad bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghanam Radhiallahu anhuma, keduanya sahabat dari Anshor bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang hilal.

Baca Juga:  Puncak Haji Hari Kedua: 120 Jamaah Indonesia Meninggal di Tanah Suci

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat tersebut menerangkan bahwasanya hilal itu sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya untuk dijadikan sebagai kemaslahatan umat manusia, demi kebersamaan dan pemersatu umat dalam menentukan waktu shalat, puasa, haji dan lainnya.

Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir Al-Wajiz menyebutkan, setelah pada ayat-ayat sebelumnya menerangkan masalah-masalah tentang puasa, maka ayat ini menerangkan waktu yang diperlukan oleh umat manusia dalam melaksanakan ibadahnya, atau sebagai tiang agama Islam itu sendiri.

Ayat ini juga menjadi salah satu dalil melaksanakan Idul Fitri dan Idul Adha serta ibadah haji secara serempak dengan menggunakan metode ru’yat, sebagaimana para Imam Mazhab menyepakatinya.

Hal ini telah ditunjukkan oleh nash-nash syara’, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam:

الفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

“Idul Fitri adalah hari saat umat manusia berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika umat manusia menyembelih korbannya.” (HR Tirmidzi dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā)

Penjelasan dari hadits di atas, bahwa dalam hal ini Ummul Mukminin Sayyidatina ‘Aisyah raiyallāhu anhā mengatakan: “Bahwa hari Arafah (yaitu tanggal 9 Dzulhijjah) itu adalah hari yang telah ditetapkan oleh Imam (Khalifah), dan hari berkorban (Idul Adha) itu adalah saat Imam menyembelih kurban.”

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Ibadah haji memiliki banyak hikmah yang bisa dirasakan oleh semua umat Islam, salah satunya adalah kesatuan umat. Ibadah haji memiliki spirit persatuan yang sangat tinggi. Tidak ada ibadah yang bisa mengumpulkan jutaan manusia dari berbagai bangsa dan negara pada waktu yang sama, tempat yang sama, dan tujuan yang sama, kecuali ibadah haji.

Karena itu, rukun Islam yang kelima ini, tidak hanya melatih manusia untuk selalu berusaha mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun juga melatih diri untuk menumbuhkan kesadaran bahwa manusia itu sama di hadapan-Nya, sehingga bisa menumbuhkan semangat persatuan tanpa memandang status sosial.

Orang yang sedang beribadah haji tidak diperbolehkan untuk melakukan rafats, fasiq, dan jidal (berbantah-bantahan). Ini menjadi bukti, bahwa haji harus menjadi momentum membangun kerukunan dan persatuan antara umat Islam. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:

 الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ (البقرة [٢]: ١٩٧)

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Baca Juga:  Sejak Perang Gaza, 8.663 Tentara Zionis Masuk ke Departemen Rehabilitasi

Selama menunaikan ibadah haji, semua jamaah tidak diperkenankan untuk bertengkar, berperang, menumpahkan darah, dan bahkan dilarang untuk merusak tanaman yang ada di tanah haram, Makkah dan Madinah.

Pengendalian diri selama menunaikan ibadah haji ini seharusnya juga menjadi kesadaran yang melekat pada setiap pribadi seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, rukun Islam yang kelima ini akan benar-benar menjadi momentum untuk membangun persatuan, solidaritas, dan kerukunan antara umat Islam dari mana pun asalnya, tanpa memandang latar belakang dan status sosialnya.

Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi pernah ditanya perihal dampak positif ibadah haji bagi semua umat Islam secara umum. Kemudian ia menjelaskan bahwa ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran perihal kesatuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Perkumpulan umat Islam dengan warna kulit yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan negara yang juga berbeda, seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa mereka semuanya sama, yaitu sama dalam satu naungan Islam.

Maka, tidak ada alasan untuk bercerai-berai, dan tidak ada alasan untuk tidak saling cinta antara yang satu dengan yang lainnya.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Perbedaan suku, ras, dan bangsa pada hakikatnya fitrah dan sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (الحجرات [٤٩]: ١٣)

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa perbedaan bukan untuk saling berpecah-belah, bukan pula untuk saling membanggakan diri, namun untuk saling tolong menolong dan mengenal antar satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu, ibadah haji menjadi momentum untuk meredam semua perbedaan itu, kemudian disatukan dalam satu ibadah dan keimanan yang sama, di waktu yang sama, dan tujuan yang sama pula, yaitu ibadah haji.

Persamaan syariat dalam beribadah haji menjadi fondasi yang kokoh bagi terbentuknya kesatuan umat Islam.

Baca Juga:  Muslim Nigeria Rayakan Idul Adha di Tengah Krisis Ekonomi

Kesatuan umat merupakan rahmat bagi kaum muslimin, sedangkan perpecahan akan menjadi petaka dan kerugian (azab). Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengambarkan bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain,

 الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا (رواه مسلم)

 “Orang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan antara sebagian dengan bagian yang lain.” (HR. Muslim).

Melalui ibadah haji, marilah kita bangun persatuan, kerukunan, dan persaudaraan antara umat Islam. Persatuan dan persaudaraan itu tidak hanya dipraktikkan di tanah suci selama musih haji, namun juga terus konsisten hingga di luar ibadah haji.

Dengan kesatuan umat, kita akan mampu menolong saudara-saudara kita yang teraniaya, terutama di Palestina, juga di negeri-negeri lainnya.

Semoga nilai-nilai ibadah haji yang Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun kehidupan berjama’ah dan kesatuan umat, Aamiin ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً ، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Widi Kusnadi

Editor: Widi Kusnadi